Setiap rasul dan nabi membawa syari’at masing masing yang berbeda, karena menyesuaikan dengan zaman dan umat mereka. Kita sebagai umat Rasulullah yang mengikuti seluruh syari’atnya mesti bersyukur, karena umat paling istimewa di sisi Allah jatuh kepada umat Nabi Muhammad. Umat yang jumlahnya paling banyak dibandingkan umat-umat nabi sebelum beliau, Umat yang umurnya paling pendek, namun begitu mereka adalah umat yang paling Allah istimewakan daripada umat-umat sebelumnya.
Umat Terbaik & Pengajak Kebaikan
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Ayat ini menjadi dalil kuat atas keunggulan umat Nabi Muhammad daripada umat-umat terdahulu. Umat terdahulu (seperti Bani Israil) ketika kemungkaran merajalela, mereka cenderung membiarkannya dan tidak saling mencegah. Hal ini menyebabkan mereka dikutuk, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an:
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
“Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka lakukan. Sungguh, sangat buruk apa yang selalu mereka perbuat. (QS. Al-Ma’idah: 78-79)
Umat Islam menjadi yang terbaik, karena memiliki kepedulian sosial untuk saling memperbaiki.
Umat Pertengahan & Saksi Bagi Umat Manusia
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143)
Ayat ini menunjukkan, bahwasannya umat Nabi Muhammad adalah umat yang pertengahan. Maksudnya, umat yang selalu berlaku adil dalam segala urusan, baik dalam hukum, kesaksian, maupun menilai sesuatu. Karena sifat adil inilah, hukum syariat menilai umat Islam layak dan sah untuk menjadi saksi (syuhada’) bagi umat-umat terdahulu di Yaumul Hisab nanti.
Hal ini juga di jelaskan didalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (Nomor 3339) , Nabi Muhammad menjelaskan bahwa pada hari kiamat, Allah akan memanggil Nabi Nuh, lalu bertanya: “Apakah kamu sudah menyampaikan risalah?”
Nabi Nuh menjawab: “Sudah.”
Lalu Allah menanya umat Nabi Nuh: “Apakah Nuh telah menyampaikan risalah kepada kalian?”
Mereka berbohong dan menjawab: “Tidak ada seorang pun yang datang memberi peringatan kepada kami.”
Kemudian Allah bertanya kepada Nabi Nuh: “Siapa yang menjadi saksimu?”
Nabi Nuh menjawab: “Muhammad dan umatnya.”
Maka umat Islam dipanggil dan bersaksi bahwa Nabi Nuh telah menyampaikan risalahnya.
Umat terdahulu akan heran dan bertanya, bagaimana umat Islam bisa bersaksi, padahal mereka hidup di zaman yang jauh setelahnya, Umat Islam menjawab, bahwa mereka mengetahui hal tersebut karena Allah telah mengabarkannya di dalam Al-Qur’an melalui lisan Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an adalah kebenaran yang mutlak.
Umat yang Paling Banyak Masuk Surga
Keistimewaan hebat lainnya yang Allah berikan kepada kita, adalah menjadikan umat Nabi Muhammad sebagai kelompok terbesar yang akan tinggal di dalam surga. Walaupun kita hidup di akhir zaman dan umur kita paling pendek, jumlah orang Islam yang masuk surga justru paling banyak, mengalahkan gabungan umat nabi-nabi terdahulu.
Nabi Muhammad menceritakan langsung hal ini dalam sebuah hadis yang sahih:
أَهْلُ الْجَنَّةِ عِشْرُونَ وَمِائَةُ صَفٍّ، ثَمَانُونَ مِنْهَا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَأَرْبَعُونَ مِنْ سَائِرِ الْأُمَمِ
“Penghuni surga itu ada 120 barisan. 80 barisan di antaranya adalah dari umat ini (umat Islam), dan 40 barisan sisanya adalah dari umat-umat yang lain.” (HR. Imam Tirmidzi)
Kalau kita lihat dari jumlah tersebut, Allah membagi surga menjadi 120 barisan. Luar biasanya, dua pertiga (2/3) isi surga atau sebanyak 80 barisan itu khusus umat Nabi Muhammad saja yang mengisinya. Sementara umat dari ratusan nabi terdahulu (sejak zaman Nabi Adam sampai Nabi Isa) harus berbagi di 40 barisan sisanya.
Ini menjadi bukti betapa sayang Allah kepada kita. Meskipun waktu kita untuk beribadah di dunia sangat sebentar, akan tetapi Allah melipat-gandakan pahala kita, sehingga kita bisa menjadi mayoritas di tempat paling indah di akhirat nanti.
Kesimpulan
Menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad adalah sebuah anugerah yang sangat besar. Meskipun kita hidup di akhir zaman dengan umur yang singkat, Allah memberikan banyak bonus dan keistimewaan kepada kita. Mulai dari menjadi umat terbaik karena saling mengingatkan dalam kebaikan, Allah memilih mereka menjadi saksi yang adil bagi umat terdahulu di Yaumul Hisab, hingga menjadi kelompok terbanyak yang mengisi surga nanti.
Tugas kita sekarang adalah menjaga keistimewaan yang berharga ini, dengan cara terus menjalankan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan selalu meneladani akhlak mulia Rasulullah. Semoga kita semua termasuk dalam rombongan 80 barisan umat Islam yang selamat dan berkumpul bersama Nabi Muhammad di dalam surga-Nya. Amin.
