
Dalam kitab al-Hitstsu ‘Alâ Thalabil-Ilmi wal-Ijtihâd fi Jam’ihi karya Syekh Abu Hilal al-‘Askari, ada sedikit cerita tentang sekelumit kehidupan Imam al-Khalil. Imam al-Khalil merupakan salah satu dari sekian banyak cendekiawan Muslim yang mendunia dimasa hidupnya. Kealiman beliau diakui oleh banyak ulama yang ada saat itu.
Suatu ketika, ada seorang murid iseng yang bertanya kepada beliau, kapankah waktu yang di anggap paling berat menurut Imam al-Khalil? Lalu apakah jawaban Imam al-Khalil? Kata beliau untuk menjawab pertanyaan muridnya itu singkat sekali:
أَثْقَلُ السَّاعَاتِ إِلَيَّ سَاعَةٌ آكُلُ فِيْهَا
“Waktu terberat dan paling menyusahkan diriku ialah ketika telah tiba waktunya makan!”
Allâhu Akbar… Subhânallâh…
Betapa manis ilmu yang membuat hati Imam al-Khalil mabuk. Mabuk bukan dalam arti yang jelek, tapi mabuk karena karunia manisnya ilmu dari Allah. Betapa berharganya arti waktu dalam pandangan beliau, sehingga tak rela jika hidupnya terabaikan sebentar saja tanpa ilmu. Bahkan jeda waktu untuk makan sekalipun, Imam al-Khalil masih berat hati, lantaran di anggap mengganggu konsentrasi belajar beliau.
Kalau menurut pandangan Anda sendiri, manakah yang lebih penting: kebutuhan perut, ataukah kebutuhan belajar ilmu agama? Jika Anda senang meneladani kehidupan Imam al-Khalil, seperti yang diceritakan di atas, pastinya Anda sudah tahu jawabannya, kan…!!!




















