Syekh al-Hasan bin Husain ad-Daristini berkisah tentang ulama ahli hadis terkenal yang satu ini: Abi Hatim Muhammad bin Idris. Suatu ketika, waktu itu Abi Hatim Muhammad memang terkenal sebagai Muhaddis handal, lantaran semangat beliau yang begitu tinggi dalam bidang ilmu Hadis.

Sahabat karib Abi Hatim, Syekh al-Hasan mengakui hal itu: “Aku tak pernah bertemu seorang pun yang menggemari ilmu hadis seperti dirimu,” kata Syekh al-Hasan. “Ooh, tidak. Anakku, Abdurrahman, jauh lebih bersemangat daripada aku dalam hal mengkaji hadis,” kata Abi Hatim menimpali pernyataan berlebihan sahabatnya itu.

Nah, suatu hari Syekh al-Hasan ingin meneliti (klarifikasi) langsung, apakah benar anak Abi Hatim juga begitu bersemangat seperti ayahnya? Syekh al-Hasan kemudian menemui Abdurrahman, anak Abi Hatim. “Nak, benarkah engkau senang mempelajari ilmu Hadis?” tanya Syekh al-Hasan.

“Bisa jadi seperti itu, wahai Syekh. Sebenarnya aku memang selalu menyempatkan diri mengaji ilmu Hadis kepada ayahku langsung,” kata Abdurrahman menjawab pertanyaan.

“Kalau ayahku sedang makan, aku tetap membaca hadis dihadapan beliau. Saat beliau jalan-jalan santai disekitar rumah, aku masih tetap mengaji mengiringi jalan beliau. Bahkan ketika ayahku (maaf) masuk WC untuk qâdhil-hâjah pun, aku tetap membaca teks hadis pada beliau, meskipun harus dengan cara berdiri di luar WC.” ucap Abdurrahman menutup percakapannya.

Wah, pantas saja seluruh anggota keluarganya jadi alim semua. Ayah dan anak sama-sama hebatnya. Dari sini kita belajar memahami, bahwa tidak jarang sifat (karakter) hebat seorang ayah dapat mempengaruhi sikap anaknya dikemudian hari saat mulai beranjak dewasa. Mulai sekarang, contohkanlah semangat yang menggebu-gebu dalam menuntut ilmu kepada adik-adik kita yang masih kecil. Wallâhu A’lam