
Ustadz Muhammad Jamalullail Al-Qadri adalah salah satu pengajar muda di Pondok Pesantren Al-Ghanna Jakarta yang dikenal cerdas, rendah hati, dan memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu serta mengajarkan Al-Qur’an. Beliau merupakan Putra kedua dari Habib Hamid al-Qodri Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ghanna, lahir di Jakarta pada 13 Agustus 2009, dan kini berdomisili di Condet, Batu Ampar, Jakarta Timur.
Meskipun masih tergolong muda, beliau telah menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan ketekunan luar biasa dalam mendalami ilmu-ilmu keislaman. Santri dan rekan seangkatannya mengenal beliau sebagai sosok yang sopan, disiplin, dan penuh semangat dalam mengabdi.
Perjalanan Pendidikan
Sejak kecil, Ustadz Muhammad telah terbiasa hidup dalam lingkungan pesantren yang menanamkan nilai-nilai keikhlasan dan kecintaan terhadap ilmu agama. Beliau menempuh pendidikan dasar di Pondok Pesantren Assalafiyyah, lembaga yang dikenal menyeimbangkan antara hafalan Al-Qur’an dan ilmu-ilmu syar’i, sembari aktif memperdalam ilmu agama melalui jalur non-formal.
Dalam bidang non-formal, beliau menimba ilmu di berbagai lembaga dan kegiatan keislaman, di antaranya:
- Pesantren di Madura, tempat beliau mengajarkan Al-Qur’an selama ± 6 bulan,
- Dauroh Tarim,
- serta kursus intensif Ilmu Nahwu, yang semakin memperkuat dasar keilmuannya di bidang bahasa Arab.
Beliau juga mendapatkan bimbingan langsung dari para guru dan ulama yang berpengaruh dalam dunia pesantren, di antaranya:
K.H. Halim, K.H. Ridwan, Ustadz Ibnu Ghozi, Ustadz Salman, Ustadz Ahmad Khulaifi, Ustadz Khoiron, Ustadz Syafi’i, dan Ustadz Ahmad Mukhtar.
Dari para guru tersebut, beliau belajar pentingnya adab sebelum ilmu, serta memahami bahwa keberhasilan seorang penuntut ilmu terletak pada kesungguhan dan keikhlasan niatnya.
Bidang Keilmuan dan Pengajaran
Dalam dunia pengajaran, Ustadz Muhammad dikenal memiliki kemampuan yang menonjol di bidang Nahwu dan Fiqih. Kedua bidang ini menjadi fokus utama beliau karena diyakini sebagai fondasi bagi pemahaman terhadap hukum dan bahasa Al-Qur’an.
Beliau mengasuh dan mendalami beberapa kitab penting, di antaranya:
- Fathul Qorib
- Jurumiyyah
- Maqshud
- Kifayatul Akhyar
Selain itu, beliau juga memiliki pengalaman mengajar Al-Qur’an di Madura yang menjadi bagian penting dalam perjalanan dakwahnya. Bagi beliau, mengajarkan Al-Qur’an adalah bentuk pengabdian yang paling mulia, karena di dalamnya terkandung keberkahan yang terus mengalir hingga akhir hayat.
Pengalaman Organisasi dan Dakwah
Dalam bidang organisasi dan dakwah, Ustadz Muhammad aktif mengikuti kegiatan Bahsul Masail Waqi’iyah, sebuah forum ilmiah yang membahas persoalan-persoalan keagamaan kontemporer berdasarkan kaidah fiqih klasik.
Melalui kegiatan tersebut, beliau terbiasa berdiskusi dan menyampaikan pandangan keagamaan dengan adab ilmiah yang tinggi, serta berlatih berpikir sistematis dalam menyelesaikan persoalan umat.
Pribadi dan Inspirasi
Ustadz Muhammad Jamalullail Al-Qadri dikenal sebagai pribadi yang berakhlak lembut, berwawasan luas, dan memiliki semangat belajar yang tinggi. Di sela kesibukannya, beliau gemar melakukan travelling, bukan sekadar untuk rekreasi, tetapi juga sebagai sarana memperluas pandangan dan mengambil pelajaran dari berbagai tempat yang dikunjunginya.
Beliau juga memiliki catatan prestasi yang membanggakan, di antaranya:
Juara 1 Musabaqah Qira’atul Kutub (MQK) Nahwu-Wustho tingkat provinsi.
Ketekunan dan kerja keras beliau menjadi teladan bagi santri lain, bahwa umur muda bukan alasan untuk berhenti berprestasi dan berjuang dalam menuntut ilmu.
Dalam banyak kesempatan, beliau sering menyampaikan pesan inspiratif kepada teman-teman santri:
“Ilmu adalah warisan Nabi, dan aku bercita-cita menjadi pewarisnya.”
Ungkapan itu menjadi cerminan dari niat suci dan cita-cita luhur beliau — untuk meniti jalan para ulama, menjaga warisan ilmu Rasulullah ﷺ, dan menyebarkan manfaat bagi umat.
Motto hidup: “Ilmu adalah warisan Nabi, dan aku bercita-cita menjadi pewarisnya.”
Hobi: Travelling




















