
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berada dalam lingkaran pergaulan yang sama. Di tempat kerja, lingkungan pendidikan, organisasi, bahkan di antara tetangga, selalu ada obrolan yang mengisi waktu. Tidak sedikit dari obrolan tersebut akhirnya mengarah pada pembahasan tentang seseorang yang kebetulan tidak sedang hadir bersama kita.
Mungkin awalnya hanya sekadar berbagi cerita. Namun tanpa disadari, percakapan itu berkembang menjadi komentar tentang sifat, kebiasaan, atau kekurangan orang lain. Yang menarik, keadaan sering kali berbalik. Ketika suatu hari kita meninggalkan lingkungan tersebut, ternyata nama kitalah yang kemudian menjadi bahan pembicaraan.
Fenomena semacam ini sebenarnya cukup umum. Selama manusia hidup berdampingan, selalu ada kecenderungan untuk membicarakan orang lain. Kadang karena rasa ingin tahu, kadang karena ingin mencari hiburan, dan tidak jarang karena merasa lebih baik daripada orang yang sedang dibicarakan. Padahal, tidak ada jaminan bahwa orang yang hari ini duduk bersama kita membicarakan orang lain tidak akan melakukan hal yang sama kepada kita ketika kita tidak lagi berada di hadapannya.
Banyak orang baru menyadari hal ini setelah mengalaminya sendiri. Saat masih berada dalam sebuah lingkungan, ia ikut mendengarkan bahkan mungkin terlibat dalam pembicaraan tentang orang lain. Namun setelah ia pindah, keluar dari komunitas tersebut, atau tidak lagi aktif di dalamnya, kabar-kabar tentang dirinya mulai terdengar. Ada yang benar, ada yang dilebihkan, bahkan ada yang sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.
Di sinilah kita belajar bahwa menjaga lisan bukan hanya tentang melindungi orang lain, tetapi juga menjaga diri sendiri.
Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah ini. Rasulullah ﷺ pernah menjelaskan hakikat ghibah ketika para sahabat bertanya kepadanya. Beliau bersabda:
«ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ»
“Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai.”
(HR. Muslim)
Ketika ditanya bagaimana jika apa yang dibicarakan itu memang benar, Rasulullah ﷺ menjawab:
«إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»
“Jika apa yang engkau katakan benar ada padanya, maka engkau telah mengghibahinya. Jika tidak ada, maka engkau telah memfitnahnya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata benar atau salahnya informasi yang disampaikan, melainkan apakah pembicaraan tersebut menyakiti kehormatan orang lain atau tidak.
Al-Qur’an bahkan menggambarkan ghibah dengan perumpamaan yang sangat keras:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Perumpamaan ini mengandung pesan yang mendalam. Ghibah bukan sekadar kesalahan kecil yang dianggap lumrah dalam pergaulan. Ia adalah perbuatan yang merusak kehormatan seseorang ketika orang tersebut tidak mampu membela dirinya.
Di era media sosial, tantangan menjaga lisan bahkan menjadi lebih berat. Dahulu sebuah pembicaraan mungkin hanya didengar beberapa orang. Kini satu komentar dapat dibaca oleh ratusan bahkan ribuan orang dalam hitungan menit. Jari-jari yang mengetik di layar sering kali lebih cepat daripada hati yang mempertimbangkan akibatnya.
Padahal Allah mengingatkan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Karena itu, mungkin ada baiknya kita sesekali bertanya kepada diri sendiri: jika suatu saat saya tidak berada di tempat ini, apakah saya rela diperlakukan sebagaimana saya memperlakukan orang lain hari ini? Jika saya tidak suka menjadi bahan pembicaraan, maka orang lain pun merasakan hal yang sama.
Pada akhirnya, manusia tidak akan pernah mampu mengendalikan seluruh ucapan manusia lainnya. Akan selalu ada yang memuji dan ada yang mencela. Yang bisa kita kendalikan adalah lisan kita sendiri. Menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah letak kemuliaannya.
Sebab sering kali kehormatan seseorang tidak runtuh karena ucapan orang lain, melainkan karena lisannya sendiri yang terlalu mudah menilai dan membicarakan sesama. Maka menjaga lisan bukan hanya adab dalam pergaulan, melainkan juga bentuk ibadah yang menunjukkan kedewasaan iman dan kematangan akhlak seorang muslim.





