
Pernah gak sih kamu merasa asing di tempat yang dulu paling nyaman buat kamu?
Dulu semuanya terasa biasa aja. Cara bercanda, cara bergaul, cara menjalani hari-hari… semuanya terasa ringan karena kamu ikut mengalir seperti yang lain.
Tapi entah sejak kapan, hati mulai berubah. Ada rasa gak nyaman saat melihat sesuatu yang dulu dianggap normal. Ada rasa bersalah setelah melakukan hal yang sebenarnya dulu sering dilakukan tanpa pikir panjang.
Dan dari situ, kamu mulai mencoba berubah. Pelan-pelan menjaga ucapan, menjaga pergaulan, menjaga hati, bahkan mulai mendekat kepada Allah meski masih banyak kurangnya.
Tapi ternyata, proses itu gak selalu indah.
Semakin kamu berusaha jadi baik, semakin kamu sadar kalau tidak semua orang akan mengerti perjuanganmu. Ada yang mulai menjauh, ada yang menganggapmu berubah merasa suci, ada juga yang menjadikan usahamu sebagai bahan candaan.
Kadang kamu hanya tersenyum kecil, padahal di dalam hati, kamu sedang berjuang keras agar tidak kembali ke versi lama dirimu.
Ada hari di mana kamu kuat.
Ada juga hari di mana kamu lelah.
Kamu melihat orang lain bebas melakukan apa yang mereka mau tanpa merasa bersalah, sementara kamu sibuk melawan diri sendiri setiap hari.
Sampai akhirnya muncul pertanyaan dalam hati, “Kenapa perjalanan menuju baik justru terasa sesepi ini?”
Padahal mungkin jawabannya sederhana: karena tidak semua orang dipilih Allah secepat itu.
Menjadi baik memang bukan jalan yang selalu dipenuhi tepuk tangan. Kadang justru dipenuhi rasa sepi, salah paham, dan perjuangan yang hanya kamu dan Allah yang tahu.
Tapi bukankah sesuatu yang berharga memang tidak didapat dengan mudah?
“Dan kalau hari ini kamu masih bertahan, masih mencoba memperbaiki diri meski sering jatuh bangun, itu berarti kamu sedang berjalan. Mungkin pelan, mungkin tertatih, tapi tetap berjalan menuju sesuatu yang lebih baik.
Jadi jangan menyerah hanya karena kamu merasa sendirian. Karena bisa jadi, di saat manusia tidak memahami perjuanganmu, Allah justru sedang dekat denganmu.
Bukankah Nabi pernah mengatakan bahwa Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti awal mulanya?
Maka jangan terlalu heran jika di perjalanan ini kamu sering merasa tidak sepenuhnya cocok dengan dunia di sekitarmu. Karena menjaga diri di zaman ketika banyak orang menormalisasi maksiat memang bukan hal mudah.
Menahan pandangan saat yang lain bebas melihat, menjaga lisan saat yang lain mudah menyakiti, bertahan dalam ketaatan saat yang lain sibuk mengejar kesenangan, semua itu adalah perjuangan yang diam-diam menguras tenaga.
Dan lucunya, perjuangan terbesar sering kali bukan melawan orang lain, tapi melawan diri sendiri.
Melawan rasa malas untuk ibadah. Melawan keinginan untuk kembali ke kebiasaan lama. Melawan hati yang kadang iri melihat orang lain terlihat lebih bahagia tanpa batasan.
Sampai akhirnya kamu sadar…
Istiqamah bukan tentang menjadi sempurna. Istiqamah adalah tetap kembali kepada Allah meski berkali-kali jatuh.
Karena orang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah, melainkan orang yang setiap kali salah, ia masih punya hati yang ingin kembali.
Jadi kalau hari ini kamu merasa lelah, istirahatlah sejenak, tapi jangan mundur. Menangislah jika perlu. Ceritakan semuanya pada Allah dalam doa-doamu.
Sebab ada luka yang tidak dipahami manusia, namun Allah mengetahuinya bahkan sebelum kamu mengucapkannya.
Dan siapa tahu, rasa sepi yang selama ini kamu rasakan sebenarnya adalah cara Allah menjauhkan kamu dari hal-hal yang perlahan merusak hatimu.
Tetaplah bertahan. Karena perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat berubah, tapi tentang siapa yang tetap kembali meski berkali-kali hampir menyerah.”





