Suatu hari, seseorang bertanya, ‘Jika kita belajar untuk tidak bergantung kepada manusia, apakah itu berarti kita harus menjauh dari manusia?’ Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi banyak orang diam-diam salah memahaminya.

Ada yang memilih terlalu bergantung hingga kecewa ketika harapan tidak kembali. Ada pula yang memilih menjauh dari semua orang agar tidak terluka. Padahal di antara keduanya, ada jalan yang lebih seimbang: tetap berinteraksi, tetap berbuat baik, tetap menjaga hubungan, tetapi hati tetap tahu kepada siapa tempat bergantung yang sebenarnya.

“Manusia diciptakan untuk hidup berdampingan. Kita berbicara, bertukar cerita, meminta bantuan, membantu yang lain, saling menguatkan ketika lelah. Namun masalah sering dimulai ketika hubungan berubah menjadi ketergantungan. Ketika ketenangan bergantung pada perhatian seseorang. Ketika semangat hidup bergantung pada kehadiran seseorang. Ketika nilai diri ditentukan oleh bagaimana manusia memperlakukan kita.”

“Perlahan, tanpa sadar, hati menjadikan manusia sebagai pusat harapan. Padahal manusia adalah makhluk yang juga sedang berjuang dengan hidupnya sendiri. Bisa hadir hari ini, sibuk esok hari. Bisa memahami hari ini, salah paham di waktu lain. Maka jika hati menggantung terlalu kuat kepada sesuatu yang berubah, kecewa sering datang tanpa permisi.”

“Islam tidak mengajarkan kita membenci hubungan atau menjauhi manusia. Islam mengajarkan keseimbangan. Berbuat baik tanpa berlebihan. Menyayangi tanpa kehilangan diri sendiri. Menjalin hubungan tanpa menjadikan manusia sebagai pusat seluruh harapan. Karena ada hal yang perlu tetap dijaga: tangan tetap menggenggam dunia, tetapi hati tetap bersandar kepada Allah.”

bukan berarti kita tidak boleh berharap pada manusia, bukan berarti kita harus menolak bantuan dari manusia dan hedup sendiri, bahkan dalam hidup Allah menghadirkan manusia sebagai jalan datangnya pertolongan,pelajaran dan kebahagian, namun tetap ada batas dan jangan sampai hati kita menggatungkan sesuatu yang oleh Allah hanya menjadi titipan.

“ tidak bergantung bukan berarti bersikap dingin, tidak bergantung bukan berarti tidak peduli, karna sejatinya manusia tetap butuh pada manusia yang lain, kita butuh keluarga untuk menjadi tempat pulang,butuh teman untuk menjadi tempat bercerita dan orang-orang baik yang menguatkan kita untuk melangkah.

tetapi ketika semuanya berubah ,hati tidak ikut berubah , hati tidak ikut runtuh. karena sejak awal manusia bukan tempat untuk bersandar melainkan tempat untuk menenduh sebentar yang diciptakan tuhan dari teriknya masalah dalam hidup.

“ menjadi mandiri bukan tentang membiasakan diri melangkah sendiri,menjadi mandiri adalah tentang belajar berjalan bersama semua orang,tanpa kehilangan arah hati,tetap becengkrama dengan manusia,tetap menghargai suatu hubungan serta tetap peduli namun tidak menjadikan manusia sumber utama untuk mendapatkan ketenangan dalam hidup.

pada akhirnya dtitik tertentu,seseorang akan menyadari bahwa terlalu menggantungan hati kepada manusia sering kali melahirkan kekecewaan yang tidak perlu. bukan karena menusia selalu salah,tetapi karena manusia memang tempatnya berubah, hari ini mampu memhami , esok hari bisa salah mengerti. hari ini hadir, esok mungkin sibuk dengan jalannya sendiri,”

“ karena itu islam mengajarkan hati menjadi keras, tetapi mengajarkan hati memiliki arah bergantung yang benar. berinteraksi dengan manusia adalah bagian kehidupan, namun menggantungan ketenangan sepenuhnya pada manusia sering kali menjadi awalnya lahirnya kegelisahan.”

Allah berfirman :

“ dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal ,jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

(qs. Alma’idah : 23)

“tawakkal bukan berarti meninggalkan hubungan dengan manusia. Nabi musa alahissalam tetap meminta meminta bantuan. nabi muhammad saw tetap bermusyawarah dengam para sahabatnya. dan bahkan manusua diperintahkan untuk saling tolong- menolong. namun hati tetap memilki satu tempat kembali yang paling tinggi.”

Allah berfirman : Dan tolong menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa .” (QS. Al ma’idah : 2)

Rasulullah saw bersabda

«الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

artinya : mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. tirmidzi)

“ maka selaras dengan hadist tersebut , berinteraksi dengan manusia bukanlah sesuatu yang sepapatutnya dihindari . sebab islam mengajarkan kasih sayang, kepedulian dan hubungan antarsesama. namun pada saat yang sama, hati tetap perlu belajar agar tidak menggantungkan seluruh tenangnya kepada seluruh kepada sesuatu yang sifatnya sementara.”

dan mungkin, apa yang selama ini melelahkan hati, tergambar dalam ungkapan berikut :

Bukan soal ramai yang datang,

Bukan pula soal tentang sepi yang pergi.

barangkali yang paling melelahkan,

adalah hati yang terlalu lama menggantung tenang,

pada sesuatu yang sejak awal tidak ditakdirkan menjadi tempat pulang.

kita belajar menggengam , lalu melepaskan.

belajar peduli tanpa kehilangan diri,

belajar mencintai tanpa menggantungkan seluruh isi hati.

karena hidup bukan tentang menjauh dari manusia,

bukan pula membangun dinding setinggi luka.

islam mengajarkan kasih sayang , mengajarkan hubungan hubungan,

mengajarkan kepedulian tanpa pamrih.

namun hati, harus tetap mengenal arah pulangnya.

sebab ada yang boleh hadir menguatkan langkah,

tetapi tidak semua yang hadir ditakdirkan menjadi tempat bersandar sepenuhnya.