
PUISI: TIGA PERSEN LAGI
Kotak di tanganmu,
tampaknya selalu menyala.
Membungkuk leher itu,
menunduk seakan tak bertulang.
Memandangi ratusan informasi.
Tiap detik menjadi murah
demi bobroknya atma manusia.
Arunika hadir di ufuk timur.
Kau seka matamu dari mayapada malam.
Namun,
dibanding menikmati saujana embun,
kau pilih layar itu,
yang menyerap, mengikis sukma kehidupan.
Lazuardi membentang di cakrawala.
Mekarlah biru teduh dengan kapas yang melabuh.
Dihembus angin, mengantarkan ketenangan.
Namun,
dibanding menjemput laman sunyi,
yang sauh tak bertepi,
kau sauk wadah pendar itu,
lalu tenggelam kembali dalam lamunan.
Senja tiba dan oranye menyeruak.
Hangat mentari mendekap,
memikat rona hati ‘tuk berbinar.
Namun,
dibanding terpercik gelimang ranum,
kau memilih terbenam dalam teduh cahaya semu.
Jenggala malam tertuang,
dan bintang hiasi selimut kelam.
Nuansa hening memancing nir akhir kontemplasi.
Namun,
dibanding berkaca ‘tuk menyigi diri,
kau justru mentahtakan gasing aksara
yang melindungi mu dengan pelbagai tipu daya.
Sampai saat semuanya suntuk dalam lelap.
Kehidupan terjeda hingga fajar menjemput.
Kau pandang gawaimu, lelah dan menyeru,
“Sial, hidupku tinggal tiga persen lagi!.”
—Deren
Baca juga puisi kami yang berjudul TUAN ATAU TUHAN? dan artikel-artikel kami untuk memahami fenomena perkembangan budaya digital lainnya.





















