Sudah sepantasnya kita sebagai manusia memiliki rasa cinta serta kasih sayang. Tapi apakah setiap cinta dan kasih sayang kita lakukan itu selalu benar? Memang betul bahwasanya sifat cinta dan kasih sayang itu benar, akan tetapi apabila kamu melakukan hal tersebut bukan pada tempatnya, maka sungguh kamu itu telah melakukan kesalahan.
Sepatutnya rasa cinta dan kasih sayang kita miliki diarahkan kepada hal-hal yang positif, seperti cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada kedua orang tua kita, cinta kepada kekasih kita yang sudah menikah, memberikan kasih sayang kepada anak-anak kecil yang tidak merasakan kasih sayang, seperti anak-anak yang telah kehilangan kedua orang tuanya sedari mereka kecil, dan lain sebagainya.
Dan hal-hal ini berbanding terbalik dengan kasih cinta yang sedang marak terjadi pada zaman kita sekarang ini, yang mana kita lihat para anak muda—baik yang kecil maupun yang besar, yang kaum lelaki ataupun kaum wanita—mereka sungguh telah melakukan sesuatu yang Allah murkai dan telah dilarang dalam firman-Nya.
Yang mana mereka melakukan perbuatan yang mendekati perzinaan (berpacaran), padahal Allah telah berfirman dalam al-Quran:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 36)
Apakah orang-orang yang melakukan hal negatif tersebut tidak pernah terbesit didalam akal fikirannya, bahwa yang ia lakukan salah? Bahwa yang telah ia lakukan berbanding terbalik dengan batasan-batasan yang telah Allah buat kepada para hamba-Nya?
Sepatutnya mereka yang memiliki akal ia dapat berfikir: “Siapa yang menciptakan mereka? Siapa yang telah menakdirkan segala hal kepada mereka?” Karena orang yang berakal pasti berpikir demikian, dan tidak akan pernah berfikir untuk melanggar batas-batas yang telah Allah buatkan kepada hamba-Nya.
Meskipun ada orang yang bilang jika dirinya hanya melakukan dosa kecil, pada dasarnya ia telah melakukan dosa besar. Mengapa demikian? Di karenakan ia telah melanggar dan mengkhianati Allah, yang mana Allah telah menetapkan batas-batas tertentu kepadanya, akan tetapi dia malah melanggarnya.
Dan jika hal tersebut adalah dosa kecil, lalu bagaimana dengan dosa besar seperti mendekati zina, yang mana hal itu adalah salah satu dosa yang sangat luar biasa besar dan merupakan sesuatu yang tidak pantas bagi orang yang menyebut diri mereka seorang muslim, tetapi tidak menempatkan posisi dirinya sebagai seorang muslim, dan malah melanggar batas-batas agamanya sendiri.
Ini sama saja dengan orang yang berani mengatakan dirinya adalah seorang manusia, akan tetapi ia berperilaku tidak sebagaimana manusia normal; yang sepatutnya manusia berjalan dengan kedua kakinya, orang tersebut malah berjalan memakai kedua tangannya.
Dan apabila ada seseorang yang menyanggah hal ini, maka sebetulnya ia adalah orang yang tidak dapat berfikir. Mengapa begitu? Karena hal tersebut disebabkan oleh ketidak-adaan manfaat yang dapat diperoleh dari hal yang mendekati perzinaan (berpacaran).
Karena sesungguhnya berpacaran adalah sesuatu yang memang tidak berguna, oleh karena itulah Allah melarang hal tersebut. Dan karena berpacaran ialah bertemunya keturunan Adam serta keturunan Hawa, maka hal tersebut pasti akan berujung kepada sesuatu yang tidak diinginkan, seperti hamil di luar nikah, dan lain sebagainya.
Memang benar awalnya hanya berciuman atau berpegangan tangan, akan tetapi manusia memiliki nafsu yang selalu mengiringinya di setiap saat. Dan terkadang manusia tidak selalu menang dengan nafsunya, sehingga terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan.
Ingatlah bahwasanya Allah tidak melarang sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan hal tersebut berimplikasi buruk untuk hamba tersebut. Hal itu disebabkan Allah adalah Tuhan semesta alam, Tuhan yang mengetahui setiap sesuatu yang terjadi di muka bumi ini. Maka renungilah firman Allah yang satu ini:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)
Semoga Allah jauhkan kita dari murka-Nya, dan jauhkan kita dari pemikiran-pemikiran serta ajaran-ajaran yang bertentangan dengan agama kita, agama Islam. Amin, Amin, Yaa Rabbal-‘Alamin. Wallahu A’lam Bisshawab…
