
Rasulullah adalah sosok manusia mempunyai sifat zuhud yang luar biasa, yaitu dengan berpaling terhadap dunia dan keindahannya, serta mengambil sesuatu dari dunia secukupnya. Berbeda dengan manusia pada umumnya yang menjadikan dunia sebagai istana untuk berfoya-foya dengan apa yang ada didalamnya dari keindahan dan kemewahannya, yang sebenarnnya kemewahan dan keindahan dunia itulah yang menipu mereka dengan menyesatkan kepada jalan yang salah, sehingga tidak akan memiliki rasa tenang dan merasa tidak cukup dengan apa yang mereka dapatkan didunia ini. Hal ini dijelaskan dalam al-Quran:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia itu hanya permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)
Itulah mengapa Rasulullah lebih memilih hidup seadanya didunia ini, dan selalu zuhud dengan menjauhi dan berpaling dari kemewahan dan keindahan dunia yang menipu ini. Bukti daripada sifat zuhud Rasululah diabadikan didalam hadist-hadist, di antaranya sebagai berikut.
RASULULLAH TIDUR DI ATAS PELEPAH KURMA
Dari contoh sifat zuhud Rasulullah adalah ketika beliau tidur di atas sehelai pelepas kurma, sehingga terlihat bekas tikar tersebut dipunggungnya. Hal tersebut dijelaskan didalam satu hadist:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: نَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ فَقَامَ وَقَدْ أَثَّرَ فِي جَنْبِهِ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ: مَا لِي وَلِالدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Rasulullah tidur di atas sehelai tikar (dari pelepah kurma). Ketika beliau bangun, tampak bekas tikar membekas pada punggungnya. Kami lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, sekiranya kami buatkan kasur yang empuk untukmu?’ Beliau menjawab: ‘Apa kepentinganku terhadap dunia? Keberadaanku di dunia ini hanya laksana seorang pengembara yang berteduh sesaat di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkannya.'”(HR. Imam Tirmidzi)
Dalam hadist tersebut menunjukkan betapa zuhud Rasulullah dengan rela tidur di atas tikar yang mungkin kurang layak untuk dijadikan alas, akan tetapi beliau tidak menghiraukan hal tersebut karena menurutnya nilai dunia ini tidak ada arti didalamnya. Bahkan Rasulullah menyerupakan keberadaannya didunia ini yang sebatas seorang pengembara yang berteduh sesaat dibawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkan tempat nyaman itu, yang hal ini membuktikan bahwa dunia adalah suatu hal yang sangat remeh dan tidak ada artinya, karena dari semua nikmat yang ada didalamnya akan musnah dan tidak pernah kekal. Maka celakalah bagi siapa saja yang selalu tertipu dengan kemegahan dunia ini.
SESI MAKAN RUMAH TANGGARASULULLAH
Selanjutnya dari bukti sifat zuhud Rasulullah adalah ketika kita mau melihat kondisi makanan rumah tangganya, yang bahkan pernah makan hanya gandum dalam 3 hari berturut-turut. Hal ini dijelaskan didalam satu hadist:
مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ بُرٍّ ثَلَاثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ
“Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang karena makan gandum selama tiga malam berturut-turut sejak beliau tiba di Madinah sampai beliau wafat.” (HR. Imam Muslim)
Hadist tersebut menunjukkan bahwa betapa zuhud Rasulullah dan keluarganya terhadap kenikmatan dunia yang fana ini, dengan tidak terlalu mementingkan isi perutnya yang rela hanya makan gandum selama 3 hari berturut-turut. Hal ini tentu berbeda dengan manusia jaman sekarang, yang selalu memikirkan isi perutnya saja dan mengakibatkan kacaunya dunia saat ini.
WARISAN YANG RASULULLAH TINGGALKAN
Sifat zuhud yang paling mutlak ditunjukkan Nabi Muhammad di akhir hayatnya adalah ketika beliau tidak menimbun harta kekayaan untuk diwariskan kepada anak cucunya. Hal ini dijelaskan didalam satu hadist:
مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ دِرْهَمًا وَلَا دِينَارًا وَلَا عَبْدًا وَلَا أَمَةً وَلَا شَيْئًا إِلَّا بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ وَسِلَاحَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً
“Rasulullah saat wafat tidak meninggalkan dirham, dinar, budak laki-laki, budak perempuan, maupun harta benda apa pun, kecuali bagal (kendaraan) putihnya, senjata beliau, dan sebidang tanah yang telah beliau jadikan sedekah (wakaf) untuk ibnu sabil.” (HR. Imam Bukhari)
Hadist tersebut sangat menguatkan bukti bahwa Rasulullah merupakan sosok manusia yang paling zuhud di dunia ini. Jika yang biasa manusia pada umumnya ketika wafat meninggalkan harta yang banyak untuk anak dan cucunya, akan tetapi Rasulullah tidak demikian. Beliau hanya meninggalkan unta putihnya, senjatanya, serta sebidang tanah yang beliau jadikan sedekah.
Itulah sedikit dari banyaknya bukti akan karakter sifat zuhud Rasulullah terhadap dunia yang fana ini. Semoga kita bisa meneladani sifat positif Rasulullah tersebut, dengan senantiasa bersifat zuhud atau menjauhi segala kenikmatan dunia ini. Amin.



















