BUKAN ABU NAWAS: “BUAT AKU MISKIN!”

Di sebuah negeri yang namanya telah lama dilupakan orang, hiduplah seorang saudagar yang kekayaannya bahkan sulit dihitung dengan angka.

Rumahnya memiliki begitu banyak kamar hingga ia sendiri pernah tersesat ketika hendak mencari kamar tidurnya.

Kandang kudanya lebih luas daripada pasar di desa sebelah.

Ia memiliki kebun kurma, ladang gandum, puluhan unta, ratusan domba, kapal dagang, dan peti-peti yang penuh dengan emas.Namun dari semua yang dimilikinya, ada satu hal yang paling ia sukai.

Kesombongan.

Suatu pagi, ia berdiri di tengah alun-alun dengan pakaian terbaiknya. Di belakangnya berdiri beberapa pelayan yang membawa peti-peti emas.

“Dengarkan!” serunya.

Orang-orang berkumpul.

“Aku menantang siapa pun di negeri ini untuk membuatku miskin dalam satu hari.”

Orang-orang saling memandang.

“Jika ada yang berhasil,” lanjutnya, “sebagian hartaku akan kuberikan kepadanya.”

Seorang tua bertanya, “Tuan yakin?”

Sang saudagar tertawa.

“Yakin? Aku bahkan bersedia menandatangani sumpah.”

Ia kemudian mengangkat sebuah kertas.

“Mulai matahari terbit hingga terbenam. Kalian boleh melakukan apa saja, selama tidak mencuri.”

Tak ada yang maju. Sebab bagaimana mungkin seseorang membuat saudagar terkaya di negeri itu menjadi miskin hanya dalam sehari?

Hari itu hampir berlalu tanpa seorang pun berani mencoba.

Hingga menjelang tengah hari, seorang lelaki datang dengan sandal yang sebelahnya berbeda warna.

Namanya Ibi Niwis. Ia terkenal di kampung sebagai orang yang sering membuat keputusan aneh.

Ia pernah membeli payung ketika musim kemarau, lalu menjualnya kembali ketika hujan sudah selesai.

Tidak ada yang tahu apakah ia bodoh atau terlalu pintar untuk dimengerti.

“Aku mau mencoba,” katanya.

Saudagar itu tertawa. “Kau?”

“Iya.”

“Namamu siapa?”

“Ibi Niwis.”

“Pekerjaanmu?”

“Kadang-kadang makan.”

Orang-orang tertawa. Sang saudagar ikut tertawa.

“Baiklah, Ibi Niwis. Apa yang akan kau lakukan?”

Ibi menatap rumah besar sang saudagar.

“Pertama, aku ingin melihat semua hartamu.”

“Untuk apa?”

“Supaya aku tahu dari mana harus memiskinkanmu.”

Saudagar itu tertawa semakin keras. “Boleh!”

Ia membawa Ibi berkeliling. Mereka masuk ke gudang emas, melewati kandang kuda, melihat gudang gandum, kapal-kapal yang baru tiba dari pelabuhan.

Setiap kali Ibi melihat sesuatu, ia hanya mengangguk.

“Banyak juga.”

Saudagar itu tersenyum bangga. “Belum semuanya.”

Setelah melihat seluruh kekayaannya, Ibi duduk di teras. “Aku punya satu pertanyaan.”

“Apa?”

“Kalau harta Tuan sebanyak ini, Tuan yakin tidak akan miskin?”

“Tentu.”

“Kenapa?”

“Karena hartaku terlalu banyak untuk habis.”

Ibi mengangguk.

“Baik.” Ia berdiri.

“Kalau begitu, mulai sekarang Tuan harus membeli semua yang kuminta.”

Saudagar itu tertawa. “Semua?”

“Semua.”

“Baik.”

Ibi menunjuk sebuah batu di halaman.

“Beli itu.”

Saudagar itu mengerutkan kening.

“Itu batu.”

“Betul.”

“Berapa harganya?”

Ibi berpikir. “Seratus dinar.”

Orang-orang mulai tertawa. Saudagar itu menggeleng, lalu menyerahkan seratus dinar.

“Ini.”

Ibi memasukkan uangnya ke kantong.

“Terima kasih.”

“Lalu?”

“Sekarang beli kembali batu itu dariku.”

“Berapa?”

“Dua ratus dinar.”

Saudagar itu menatapnya. Orang-orang terdiam. Kemudian ia tertawa.

“Baik!”

Ia membayar dua ratus dinar.Ibi menyerahkan batu itu kembali.

“Bagus.”

Mereka melanjutkan.

Seekor kambing dibeli. Kemudian dijual kembali.

Sebuah kursi dibeli. Kemudian dijual kembali.

Sebuah kendi dibeli dengan harga yang tidak masuk akal, lalu dibeli kembali dengan harga yang lebih tidak masuk akal.

Setiap kali sang saudagar mulai curiga, Ibi hanya berkata,

“Ini bagian dari cara membuat Tuan miskin.”

Dan karena sang saudagar terlalu yakin bahwa hartanya tidak mungkin habis, ia terus membayar.

Menjelang sore, beberapa peti emas telah kosong. Sebagian tanah telah berpindah tangan. Beberapa ternak telah dijual. Beberapa kapal telah dilepas. Namun sang saudagar masih tertawa.

“Hanya segini?”

Ibi menggeleng.

“Belum selesai.”

“Aku masih kaya.”

“Iya.”

“Jadi kau gagal.”

Ibi tersenyum. “Belum tentu.”

Ia mengambil kertas sayembara dari tangan saudagar, kemudian membacanya keras-keras.

“Barang siapa dapat membuatku miskin dalam satu hari, sebagian hartaku akan diberikan kepada pemenang.”

Ia menatap saudagar itu. “Betul?”

“Betul.”

“Dan Tuan sendiri yang membuat aturan?”

“Betul.”

Ibi menunjuk peti-peti yang kini tinggal separuh.

“Sekarang, berikan hadiahnya.”

Saudagar itu tertawa. “Apa?”

“Sebagian hartamu.”

“Untuk apa?”

“Karena Tuan sudah kehilangan setengah hartamu hari ini.”

Sang saudagar terdiam. Orang-orang mulai saling pandang. Ibi melanjutkan,

“Kalau setengah hartamu sudah hilang, berarti sekarang Tuan tinggal separuh orang kaya yang tadi pagi berdiri di alun-alun.”

Saudagar itu mulai pucat.

“Tapi aku belum miskin!”

Ibi mengangguk. “Betul.”

Ia tersenyum.

“Makanya aku tidak mengambil hadiahnya.”

Saudagar itu bingung. “Lalu apa maksudmu?”

Ibi berjalan mendekat.

“Sejak pagi Tuan berkata bahwa hartamu tidak mungkin habis. Aku hanya ingin membuktikan bahwa kesombongan Tuan bahkan lebih mahal daripada emas.”

Ia menunjuk peti-peti yang kosong.

“Tuan kehilangan setengah harta hanya karena tidak ingin mengakui bahwa seseorang bisa membuat Tuan kehilangan harta.”

Saudagar itu terdiam. Ibi menepuk pundaknya.

“Kalau Tuan tetap mau memberikan hadiah, silakan.”

Ia berbalik.

“Tapi aku tidak mau.”

“Kenapa?”

Ibi berhenti.

“Karena aku datang untuk membuat Tuan miskin.”

Ia menoleh sambil tersenyum. “Bukan untuk menjadi kaya.”

Orang-orang tertawa. Sang saudagar tidak, ia hanya berdiri memandangi peti-peti yang tinggal separuh.

Hari itu ia memang tidak menjadi miskin. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tahu bahwa kekayaannya ternyata memiliki batas. Dan mungkin, itulah kemiskinan pertama yang pernah ia rasakan.

Ibi Niwis berjalan pulang dengan sandal yang masih berbeda warna.

Seorang anak yang melihatnya bertanya, “Pak Ibi, Tuan itu kalah sama Bapak?”

Ibi menggeleng.

“Bukan.”

“Terus siapa yang menang?”

Ibi berpikir sebentar.

“Yang menang?”, ia menunjuk sandal kirinya.

“Ini.”

Anak itu bingung, “Kenapa?”

“Karena dari tadi dia tidak perlu membayar apa-apa.”

Lalu Ibi berjalan pulang.

Ia bukan Abu Nawas. Hanya Ibi Niwis. Dan mungkin, terkadang dunia memang tidak membutuhkan orang yang paling pintar untuk mengalahkan kesombongan.

Cukup seseorang yang mau membuat orang sombong percaya bahwa ia sedang menang.