بِمَوْقِفِ ذُلِّي دُونَ عِزَّتِكَ الْعُظْمَى # بِمَخْفِيِّ سِرٍّ لَا أُحِيطُ بِهِ عِلْمًا
بِإِطْرَاقِ رَأْسِي بِاعْتِرَافِي بِذِلَّتِي # بِمَدِّ يَدِي أَسْتَمْطِرُ الْجُودَ وَالرُّحْمَى
بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى الَّتِي بَعْضُ وَصْفِهَا # لِعِزَّتِهَا يَسْتَغْرِقُ النَّثْرَ وَالنَّظْمَا
بِعَهْدٍ قَدِيمٍ مِنْ: (أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ)؟ # بِمَنْ كَانَ مَكْنُونًا فَعَلَّمْتَهُ الْأَسْمَا
أَذِقْنَا شَرَابَ الْأُنْسِ يَا مَنْ إِذَا سَقَى # مُحِبًّا شَرَابًا لَا يُضَامُ وَلَا يَظْمَا

PENJABARAN & PENJELASAN

Bait-bait di atas dikutip dalam kitab Nuur al-Abshaar (hal: 239) dan kitab Ahsan al-Qashash (1/104), yang dinukil dari kitab al-Jauhar al-Nafiis.

بِمَوْقِفِ ذُلِّي دُونَ عِزَّتِكَ الْعُظْمَى # بِمَخْفِيِّ سِرٍّ لَا أُحِيطُ بِهِ عِلْمًا

“Dengan posisiku yang hina di hadapan keagungan-Mu yang Maha Besar, demi rahasia tersembunyi yang pengetahuannya tak mampu aku jangkau.”

Aku berdiri dengan penuh kehinaan dan ketundukan di hadapan keagungan-Mu yang tidak tertandingi dan tak terlukiskan. Dan aku memohon demi kebenaran rahasia-rahasia-Mu yang Engkau titipkan pada sebagian makhluk, serta rahasia yang ilmu mengenainya tidak kami ketahui kecuali sebatas apa yang Engkau izinkan bagi kami.

بِإِطْرَاقِ رَأْسِي بِاعْتِرَافِي بِذِلَّتِي # بِمَدِّ يَدِي أَسْتَمْطِرُ الْجُودَ وَالرُّحْمَى

“Dengan tertunduknya kepalaku dan pengakuan atas kehinaanku, dengan terulurnya tanganku mengharapkan curahan kedermawanan dan kasih sayang-Mu.”

Aku memohon kepada-Mu demi tertunduknya kepalaku sebagai bentuk penghormatan atas keagungan dan kewibawaan-Mu. Aku memohon dengan pengakuan atas kerendahan diriku di hadapan kemuliaan-Mu yang tak terbatas, seraya menengadahkan kedua tanganku untuk mengharapkan curahan rahmat yang telah Engkau tetapkan atas diri-Mu sebagai bentuk karunia.

بِأَسْمَائِكَ الْحُسْنَى الَّتِي بَعْضُ وَصْفِهَا # لِعِزَّتِهَا يَسْتَغْرِقُ النَّثْرَ وَالنَّظْمَا

“Demi Asmaul Husna-Mu yang sebagian sifatnya saja, karena begitu agungnya, menghabiskan seluruh daya ungkapan prosa maupun bait syair.”

Aku memohon belas kasih-Mu demi kebenaran nama-nama-Mu yang mahaindah dan sifat-sifat-Mu yang mahautama, yang bahkan seluruh penjelasan dalam bentuk prosa maupun susunan syair tidak akan pernah sanggup menuntaskan hak pemuliaan terhadap keagungan-Nya.

بِعَهْدٍ قَدِيمٍ مِنْ: (أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ)؟ # بِمَنْ كَانَ مَكْنُونًا فَعَلَّمْتَهُ الْأَسْمَا

“Demi janji azali dari firman-Mu: (‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), dan demi sosok tersembunyi yang Engkau ajarkan kepadanya nama-nama segala sesuatu.”

Aku memohon kepada-Mu demi perjanjian azali ketika aku berada di alam dzar (alam ruh), saat Engkau berfirman: ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’, lalu kami menjawab dengan taat: ‘Benar (Engkau Tuhan kami)’. Dan demi segala hal yang belum aku ketahui dari nama-nama-Mu yang mulia.

أَذِقْنَا شَرَابَ الْأُنْسِ يَا مَنْ إِذَا سَقَى # مُحِبًّا شَرَابًا لَا يُضَامُ وَلَا يَظْمَا

“Berikanlah kami rasa dari minuman keakraban (kedekatan dengan-Mu), wahai Zat yang jika memberi minum kepada pecinta-Nya, ia takkan terzalimi dan takkan pernah merasa dahaga lagi.”

Wahai Tuhanku, dengan segala kerendahan hati dan permohonan belas kasih ini, aku memohon agar Engkau mencicipkan kepadaku rasa manisnya kedekatan dengan-Mu. Minuman spritual yang apabila Engkau anugerahkan kepada seorang hamba, niscaya ia akan terbebas dari segala bentuk dahaga jiwa, kedzaliman, maupun paksaan.

PELAJARAN

Dalam syair ini tersimpan kedalaman makna mengenai penghambaan mutlak dan cara bertawassul yang agung di hadapan Sang Pencipta, di antaranya:

Pertama, Kehinaan Hamba di Hadapan Keagungan Allah. Puncak ketenangan dan kemuliaan seorang hamba justru dicapai ketika ia mengakui ketidakberdayaan dan kehinaan dirinya secara penuh di hadapan keagungan Allah SWT.

Kedua, Bertawassul dengan Nama dan Janji Azali. Menjadikan Asmaul Husna serta pengakuan kesaksian tauhid sejak alam ruh sebagai perantara doa merupakan bentuk keimanan yang sangat mendalam dan berbobot.

Ketiga, Kenikmatan Rasa Kedekatan (Kelezatan Spiritual). Minuman keakraban (syarāb al-uns) adalah simbol ketenangan jiwa mutlak. Siapa pun yang telah merasakan manisnya hubungan dengan Allah tidak akan pernah merasa haus akan keindahan duniawi maupun takut akan kedzaliman manusia.

Referensi Kitab: Syarh Diwanil-Imam asy-Syafi’i lil-Mahmud Biju.