PULANG DI KEPERGIAN

Empat ratus lima puluh delapan pagi
Tiap langkahku ditemani rambu bahasa asing
Nama bungkus makanan masih sering buat pusing
Rutin sapaku bertukar balas dengan seorang kakek tua
Namun pagi itu, ku bilang,
“Sebulan kedepan, mungkin kita libur bersua”

Ransel penuh bajuku rapih siap kubawa
Buah tangan rindu akhirnya bisa ku hantar
Tak sabar memandang halaman yang berkembang
Tak sabar tuk tiba lalu menyalami tiap tangan
Sabar…

Ternyata senyum yang kurindukan tidak lagi merekah
Yang menyambutku hanya kembang dan papan lembap
Tampaknya ia masih baru
Baru dipasak atau baru dihujani tangis
Nyatanya ia pergi sebelum tapakku menyentuh teras

Mengapa kau pergi saat ku pulang?
Apa kepulanganku buatmu pergi?
Bila iya, telpon aku dua hari sebelum ini
Setidaknya aku tidak pulang tanpa kehilangan rumah

—Deren