“Hwaaa. Jam berapa, nih?”

Pukul sebelas malam, Damar masih menghadap laptop. Di sampingnya, nasi yang dibeli sepulang kantor sudah dingin. Besok pagi ia harus kembali bekerja, tetapi malam ini ada tiga video klien yang belum selesai.

Di layar ponselnya, notifikasi pembayaran listrik muncul. Ia menutupnya, membuka aplikasi bank, lalu menghitung ulang uang yang tersisa.

“Masih kurang, ya?”

Damar menyandarkan kepala. Ia sudah bekerja sekeras yang ia mampu. Pagi sampai sore di kantor, malam sampai dini hari mengambil pekerjaan tambahan. Salatnya tak pernah sengaja ia tinggalkan. Doanya pun selalu sama: minta dilapangkan rezeki.

Lantas, apa lagi yang kurang?

Pertanyaan itu teringat kembali ketika ia bertemu Bima, teman lamanya, di sebuah kedai kopi. Bima baru saja membeli mobil baru. Usahanya menjual pakaian daring tak terlalu menyita waktu. Beberapa kali Damar melihatnya menghabiskan sore untuk bermain gim, sementara dirinya bahkan tak sempat menonton satu film sampai selesai.

“Gila, hidup lo enak banget,” kata Damar.Bima tertawa. “Ya, namanya juga rezeki.”

Jawaban itu menetap di kepala Damar lebih lama daripada yang seharusnya.

Malamnya, ia berdoa dengan perasaan yang berbeda. Bukan lagi sekadar meminta. Ada sesuatu yang nyaris menyerupai tuntutan.

“Ya Allah, aku bekerja lebih keras dari yang aku tahu. Aku juga meminta kepada-Mu. Apa yang sebenarnya salah?”

Ia tak mendapat jawaban. Paginya, ia tetap berangkat kerja.

Bulan berganti. Damar masih menghitung pengeluaran, sedangkan Bima mulai membuka toko keduanya. Setiap kali melihat unggahan Bima, Damar merasa ada yang tidak adil. Lalu ia merasa bersalah karena merasa demikian. Ia berdoa lagi, kali ini meminta agar hatinya tidak dipenuhi iri.

Sampai suatu malam, ketika sedang mengerjakan pesanan klien, Damar menyadari sesuatu yang membuat tangannya berhenti mengetik.

Ia tidak lagi bekerja hanya untuk menghidupi dirinya. Ia bekerja untuk membuktikan bahwa dirinya pantas mendapat kehidupan yang lebih baik.

Bahkan doanya diam-diam telah berubah menjadi perhitungan. Ia merasa sudah memberikan sekian banyak usaha, maka semestinya Tuhan memberikan hasil yang sepadan.

Damar menatap layar yang belum selesai. Untuk pertama kalinya, ia bertanya apakah selama ini ia sedang berusaha, atau sedang menyombongkan usahanya di hadapan Tuhan.

Keesokan harinya, ia tetap bekerja. Tagihan tidak lunas hanya dengan kesadaran, dan kebutuhan tidak menunggu hatinya selesai berdamai.

Namun malam itu, sebelum kembali membuka laptop, Damar berhenti sejenak untuk berdoa.

Ia tidak meminta agar hidupnya segera menyamai Bima. Ia hanya meminta agar kerja kerasnya tidak membuatnya merasa berkuasa atas takdir, dan doanya tidak membuatnya merasa berhak atas hasil.

Sebab ada kebodohan ketika seseorang meminta tanpa mau bergerak. Ada pula kesombongan ketika seseorang bergerak seolah-olah tak lagi membutuhkan siapa pun di atasnya.

Dan Damar takut, selama ini ia telah melakukan keduanya.