Ketika para pendakwah menyerukan perdamaian, mengapa sebagian orang justru sibuk memelihara permusuhan?

Ada sesuatu yang patut kita renungkan dari fenomena kebencian terhadap habaib, kiai, dan tokoh agama yang belakangan kerap muncul di ruang publik. Di saat para ulama menyerukan perdamaian, persaudaraan, dan ajakan untuk saling menghormati, sebagian orang justru melontarkan pernyataan yang merendahkan, menyudutkan, bahkan menyerang martabat mereka.

Tentu, mengkritik tokoh agama bukanlah sesuatu yang terlarang. Habaib, kiai, dan para pendakwah tetap manusia yang bisa keliru dan terbuka terhadap koreksi. Namun, ada perbedaan mendasar antara kritik yang bertujuan memperbaiki dan kebencian yang sekadar mencari pembenaran.

Jika apa pun yang disampaikan seseorang selalu dianggap buruk hanya karena kita telanjur membencinya, masihkah kita benar-benar sedang mencari kebenaran?

Habib Umar bin Hafidz kerap menyampaikan nasihat tentang cinta, kasih sayang, dan pentingnya menjaga hati dari kebencian. Pesan ini sejalan dengan ajaran para ulama yang menempatkan kebersihan hati dan kemuliaan akhlak sebagai bagian penting dari perjalanan menuju Allah.

Ada sebuah nasihat yang maknanya patut direnungkan:

لَا تَقْلَقْ إِنْ كَانَ هُنَاكَ مَنْ يَبْغَضُكَ فِي الدُّنْيَا، وَلَكِنِ اخْشَ أَنْ يَبْغَضَكَ اللهُ

Jangan terlalu gelisah jika ada manusia yang membencimu. Yang semestinya lebih kita khawatirkan adalah kemurkaan Allah.

Pesannya sederhana: kita tidak harus disukai semua orang, tetapi jangan sampai kebencian orang lain membuat kita kehilangan akhlak.

Rasulullah Pun Dibenci, Apalagi Kita

Rasulullah ﷺ dikenal sebagai Al-Amin, pribadi yang jujur dan terpercaya. Namun, ketika menyampaikan risalah Islam, beliau menghadapi ejekan, penolakan, tekanan, dan kekerasan. Kemuliaan akhlak beliau tidak serta-merta membuat semua orang menerima dakwahnya. Allah berfirman:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik.” (QS. Fussilat: 34)

Rasulullah ﷺ tidak menjadikan kebencian manusia sebagai alasan untuk berhenti menyebarkan kebaikan. Beliau mengajarkan bahwa menghadapi keburukan tidak harus dengan menjadi buruk pula.

Tentu, kisah Rasulullah bukan alasan untuk menyamakan setiap kritik terhadap habaib, kiai, atau tokoh agama dengan penentangan terhadap Nabi. Para ulama dan pendakwah tetap manusia yang dapat benar dan dapat keliru. Justru karena itulah, setiap persoalan harus dinilai secara adil, bukan berdasarkan fanatisme maupun kebencian.

Jika Membenci, Jangan Kehilangan Keadilan

Allah memberikan peringatan yang sangat tegas:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini berlaku bagi siapa pun, termasuk mereka yang mengagumi maupun mengkritik tokoh agama.

Jangan sampai kebencian membuat seseorang menolak semua kebaikan yang datang dari seorang habib, kiai, atau ulama. Sebaliknya, jangan sampai kecintaan membuat seseorang membenarkan setiap tindakan tokoh yang dikaguminya tanpa mau menerima koreksi.

Kebenaran tidak menjadi kebatilan hanya karena disampaikan orang yang kita benci. Kesalahan juga tidak berubah menjadi kebenaran hanya karena dilakukan orang yang kita cintai.

Inilah ujian sesungguhnya: mampukah kita tetap adil ketika hati tidak menyukai seseorang?

Jika ada kekeliruan, tunjukkan dengan bukti. Jika ada pendapat yang perlu diluruskan, sampaikan dengan ilmu. Namun, jangan mengubah kritik menjadi penghinaan atau menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan martabat seseorang.

Sebab, membela kebenaran tidak mengharuskan kita membenci orang yang berbeda pandangan.

Jangan Sampai Kebencian Mengalahkan Ajaran Guru

Ada ironi ketika seseorang mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi lisannya mudah merendahkan sesama Muslim. Ada pula ironi ketika seseorang mengaku memperjuangkan kebenaran, tetapi lebih sibuk menghina daripada menjelaskan.

Menghormati habaib, kiai, dan tokoh agama bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan mereka. Mengkritik mereka pun bukan berarti kita berhak mengabaikan adab. Keduanya harus berjalan beriringan: penghormatan tidak menghapus sikap kritis, dan sikap kritis tidak membenarkan penghinaan.

Kita belajar mencintai Rasulullah bukan hanya melalui pujian, tetapi juga dengan menjaga lisan, berlaku adil, dan tidak membiarkan hawa nafsu menguasai diri.

Karena itu, polemik tentang tokoh agama semestinya menjadi ruang untuk mengoreksi diri, bukan perlombaan mencari siapa yang paling pantas dibenci. Perbedaan pendapat boleh terjadi, kritik harus tetap terbuka, tetapi penghinaan dan kebencian yang digeneralisasi tidak seharusnya dinormalisasi.

Kita tidak harus sepakat dalam segala hal untuk tetap menghormati satu sama lain.

Pada akhirnya, seseorang memang bisa membenci tanpa alasan yang benar. Namun, seorang mukmin tidak boleh menjadikan kebencian sebagai pembenaran untuk berbuat tidak adil.

Jika para ulama menyerukan perdamaian, jangan jawab dengan permusuhan. Jika mengaku mencintai para pendakwah, buktikan cinta melalui akhlak. Dan jika mengaku memperjuangkan kebenaran, buktikan dengan keadilan.

Jangan sampai kita begitu sibuk membenci manusia hingga lupa pada ajaran Allah. Jangan sampai kita merasa sedang membela kehormatan seseorang, padahal justru sedang meruntuhkan kehormatan diri sendiri.

Sebab, cinta tidak harus selalu dibalas dengan cinta. Namun, kebencian pun tidak harus dibalas dengan kebencian. Di situlah akhlak diuji, dan di situlah ajaran para guru seharusnya hidup.

Berbeda pendapat adalah hal biasa. Mengkritik adalah hak. Namun, menjaga adab adalah kewajiban. Sebab, kemuliaan dakwah bukan hanya terletak pada kebenaran yang disampaikan, melainkan juga pada akhlak orang yang memperjuangkannya.