
Kita hanyalah sebuah makhluk yang sangat amat bergantung kepada Allah, yang mana kita tidak dapat melakukan apapun kecuali hal tersebut sudah ditakdirkan oleh Allah. Kita hanyalah makhluk yang sangat kecil, namun terkadang kita lupa siapa diri kita sebenarnya. Kita adalah makhluk yang dipenuhi kelalaian, yang dipenuhi kesalahan, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi Muhammad:
فَنَسِيَ آدَمُ فَنَسِيَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَخَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُرِّيَّتُهُ
“Maka Adam pun lupa, sehingga keturunannya pun menjadi pelupa. Adam pernah berbuat salah, maka keturunannya pun sering berbuat salah.” (HR. Imam Tirmidzi)
Manusia terkadang melupakan terhadap tuhannya, ia merasa dirinya adalah sesuatu yang besar, dzat yang bisa berdiri dengan sendirinya. Mari kita melihat kepada orang-orang yang tidak percaya terhadap konsep ketuhanan yang ada pada Islam, mereka mengatakan agama Islam merupakan agama yang tidak masuk akal.
Padahal yang sepatutnya mengatakan hal tersebut harusnya kita. Mengapa? Coba dipikirkan sejenak, apakah ada sesuatu yang teripta dengan sendirinya? Apakah ada suatu kapal yang tiba-tiba membuat dirinya sendiri? Tentu saja semua pasti memiliki pencipta, maka seperti itulah konsep yang terjadi pada dunia.
Ini adalah sebagian kecil dari bagian orang-orang yang sombong kepada Allah, padahal manusia hanyalah makhluk yang sangat amat kecil, apabila dibandingkan dengan ciptaan ciptaan Allah yang lain. Lantas apa yang ingin disombongkan dari diri kalian semua, padahal kalian sama sekali tidak memiliki apa-apa?!
Apakah kalian tidak malu kepada Allah, yang melihat apapun yang kalian lakukan dan dimanapun kalian berada. Allah mendengar apapun yang kalian katakan, Allah adalah dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Apakah urat malu kalian telah putus dan akal sehat kalian telah tidak berfungsi? Ingatlah bahwa hanya Allah semata yang berhak menyombongkan segala sesuatu, karena segala sesuatu hakikatnya adalah milik Allah, sebagaimana yang difirmankan oleh-Nya:
لِّلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 284)
Saya terheran-heran dengan orang yang masih bisa merasa sombong di muka bumi ini, padahal kita tahu segala hal yang kita miliki hanyalah titipan dari Sang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.
Dan apabila Anda adalah orang yang merasa sombong di dunia, maka ingatlah perkataan ini: “Apa yang Anda sombongkan? Harta? Benda? Jabatan? Pangkat? Kecerdasan?” Itu semua bukanlah hal yang pantas untuk disombongkan. Mengapa? Dikarenakan Anda masih hidup dibawah langit Allah, Anda masih hidup diatas tanahnya Allah, dan Anda masih ingin menyombongkan diri?
Apakah kamu tidak malu kepada Allah yang telah memberikanmu nikmat tersebut? Tidak sepantasnya kamu menyombongkan hal tersebut, bahkan Nabi Muhammad menyebutkan dalam beberapa sabdanya mengatakan:
لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji buah sawi.” (HR. Imam Muslim)
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penduduk neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, rakus (kikir), lagi sombong.” (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim)
وَمَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ دَرَجَةً يَرْفَعْهُ اللَّهُ دَرَجَةً ، وَمَنْ تَكَبَّرَ عَلَى اللَّهِ دَرَجَةً يَضَعْهُ اللَّهُ دَرَجَةً حَتَّى يَجْعَلَهُ فِي أَسْفَلِ السَّافِلِينَ
“Barangsiapa bersikap tawadhu’ (rendah hati) karena Allah satu derajat, niscaya Allah akan mengangkatnya satu derajat. Dan barangsiapa bersikap sombong kepada Allah satu derajat, maka Allah akan merendahkannya satu derajat hingga derajat yang paling hina.” (HR. Imam Ibnu Majah)
Inilah beberapa hadits yang saya kutip, yang mana hadits tentang buruk bersombong diri itu banyak sekali. Semoga kita dijadikan oleh Allah jauh dari sifat sombong yang tercela ini. Amin.
Wallahu A’lam Bish-shawab…
Baca juga tulisan kami yang berjudul Menempatkan Cinta pada Tempatnya: Antara Fitrah & Larangan



















