BAHKAN KERAGUANKU TIDAK PERNAH MERAGUKAN-MU

Sudah lima tahun aku bekerja di dunia kreatif. Lima tahun pula aku menyimpan satu cita-cita yang sama: memiliki production house sendiri.

Bukan kantor besar. Bukan gedung bertingkat dengan logo menyala di depan pintunya. Aku hanya ingin punya ruang yang cukup untuk menaruh beberapa meja, kamera, komputer, dan orang-orang yang percaya bahwa membuat sesuatu dari kepala sendiri adalah pekerjaan yang layak diperjuangkan.

Sudah lima tahun juga aku mendoakannya. Namun entah kenapa, uang selalu menemukan jalan untuk pergi sebelum sempat menjadi tabungan.

Gaji datang dan kebutuhan menyusul.

Ketika kupikir bulan ini akan sedikit longgar, motor tiba-tiba bermasalah. Ketika semuanya mulai terasa aman, ada keluarga yang membutuhkan bantuan. Ketika tidak ada apa-apa, entah bagaimana selalu ada saja apa-apa.

Aku mulai lelah.

Bukan bekerja.

Berharap.

Sore itu aku pulang dengan kepala penuh dan dompet yang kembali tipis. Di pinggir jalan, aku berhenti membeli es teh dari sebuah gerobak kecil. Aku duduk di bangku plastik sambil menatap kendaraan yang berlalu-lalang.

“Murung amat.”

Aku menoleh.

Seorang lelaki yang sudah beberapa kali kulihat di sekitar jalan itu sedang berdiri di sampingku. Pakaiannya kusut, rambutnya tidak beraturan. Orang-orang sekitar sudah mengenalnya. Ia sering berbicara sendiri, terkadang tertawa sendirian, dan sesekali menyapa orang dengan pertanyaan yang tidak pernah jelas ujungnya. Tapi ia mengenalku.

“Kenapa?” tanyanya lagi.

“Capek.”

“Kerja?”

“Iya.”

“Dimarahin?”

“Enggak.”

“Digebukin?”

Aku tertawa kecil. “Enggak juga.”

“Terus kenapa?”

Aku diam sebentar.

Mungkin karena sudah terlalu lama menyimpannya sendirian, akhirnya aku bercerita kepada orang yang bahkan mungkin tidak akan mengingatnya besok.

Tentang pekerjaanku. Tentang production house yang ingin kubangun. Tentang lima tahun yang sudah berlalu.

Tentang doa yang terasa seperti mengetuk pintu berkali-kali tetapi tidak pernah mendengar jawaban.

“Aku sempat mikir,” ujarku, “doa itu penting nggak, sih?”

Ia menatapku.“Aku udah minta dari dulu. Tapi nggak kejadian-kejadian.”

Ia masih menatapku.

“Kayak, Tuhan sebenarnya tahu nggak sih yang aku mau?”

Ia mengangguk pelan. Lalu berkata,

“Aku pernah main petak umpet sama awan.”

Aku mengernyit. “Hah?”

“Awan gampang dicari. Dia di atas.” Ia menunjuk langit.

“Aku juga pernah main sama tanah. Tapi tanah curang. Dia diam terus.”

Aku menahan tawa.

“Terus bulan. Bulan juga gampang. Malam muncul, dia ada.”

Ia berhenti sebentar.

“Bintang lebih susah.”

Aku mengangguk, entah karena mendengarkan atau karena sudah tidak tahu harus bagaimana.

“Tukang bakso juga pernah.”

Aku tertawa.

“Masnya petak umpet sama tukang bakso?”

“Iya.”

“Terus?”

“Aku menang.”

“Ya iyalah.”

“Kereta juga pernah.”

“Kereta?”

“Iya. Aku sembunyi, dia lewat.”

Aku mulai tersenyum.

“Michael Jackson juga pernah.”

Aku menoleh.

“Michael Jackson?!”

“Iya.”

“Masa mas pernah ketemu Michael Jackson?”

“Enggak.”

Aku terdiam.

“Dia juga nggak ketemu aku.”

Aku tertawa. Untuk pertama kalinya sore itu.

Ia ikut tertawa, lalu meneguk air mineral dari botol plastik yang entah sejak kapan ada di tangannya.

“Tapi aku pernah kalah.”

Tawaku berhenti.

“Sama siapa?”

Ia menatapku lama.

“Sama Tuhan.”

Angin sore lewat di antara kami.

“Kalau aku sembunyi di belakang rumah, Tuhan tahu.” Ia menunjuk tanah.

“Kalau aku sembunyi di bawah pohon, Tuhan tahu.”

Kemudian ia menunjuk dadaku.

“Kalau aku sembunyi di sini juga tahu.”

Aku menunduk.

“Makanya aku selalu kalah.”

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu terasa lebih berat daripada semua nasihat yang pernah kudengar.

Lelaki itu kemudian berdiri.

“Kamu mau ngumpet di mana?”

Aku diam.

“Kalau mau ngumpet dari orang, batagor, pengamen, gampang.”

Ia berjalan beberapa langkah, lalu menoleh.

“Dari Tuhan?”

Ia menggeleng.

“Jangan coba-coba, dah.”

Lalu ia pergi, meninggalkanku bersama es yang sudah mencair dan kepala yang tiba-tiba jauh lebih sunyi.

Malamnya, aku duduk sendirian di kamar.

“Lima tahun?”

Aku memandangi kedua tanganku. Tangan yang selama ini bekerja. Tangan yang mengetik. Tangan yang mengedit. Tangan yang menggambar rencana production house di kepala, berkali-kali.

Dan tangan yang berkali-kali menengadah ketika tidak tahu harus meminta kepada siapa lagi.

Entah bagaimana air mataku pun jatuh. Aku menangis bukan karena production house itu belum berdiri. Bukan karena tabunganku belum terkumpul. Bukan pula karena doaku belum menjadi kenyataan.

Aku menangis karena ternyata selama ini aku telah menaruh curiga kepada sesuatu yang tidak pernah meninggalkanku.Aku bertanya apakah Dia tahu. Padahal aku bahkan tidak bisa menyembunyikan satu detik pun dari-Nya.

Aku bertanya apakah Dia mendengar. Padahal aku sendiri yang setiap malam datang membawa permintaan yang sama.

Aku bertanya apakah doa itu penting. Padahal bahkan sebelum bibirku selesai mengucapkannya, Dia telah mengetahui apa yang ingin kukatakan.

Aku tertawa kecil di antara tangis. Tawa yang terasa menyedihkan. Betapa bodohnya aku yang mengira Tuhan sedang tidak melihat.

Padahal aku bahkan tidak pernah berhasil bersembunyi dari-Nya.

“Bahkan keraguanku,” bisikku. Aku mengusap air mata.

“Tidak meragukan-Mu.”

Dan di malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak meminta production house. Aku hanya menunduk.Lalu aku kembali menangis.

Bukan karena kehilangan harapan. Tapi karena baru sadar bahwa selama ini, harapan itu tidak pernah kehilangan aku.

.

Baca juga CINTA YANG GUGUR

.