CINTA YANG GUGUR

Pipiku basah dibanjiri tangis di siang hari yang lazim dan masih membakar. Teras hingga ruang tamu padat oleh kerumunan yang berdatangan, membatin duka.

Tatapan kakak masih kosong sejak usai mengangkat telepon pagi tadi. Mulut ayah enggan mengunyah, bibirnya asing dari senyum hari-hari biasanya. Para tetangga ramai bersimpuh di depan ibu, dan ibu hanya tertidur, berselimut kain batik.

“Bangun, Bu. Tamu banyak yang datang,” batinku berucap sendiri.

Kelopak mataku masih hitam dan sembab. Pipiku terasa berat oleh air mata yang tak kunjung kering. Akalku membatu, menolak kenyataan bahwa ibu tak lagi bangun dari baringnya. Menenangkan ayah dan kakak rasanya tidak akan berhasil. Pundakku sendiri masih dilindas duka bermuatan karang.

Paman, bibi, tetangga, hingga orang-orang asing di mataku silih berganti merengkuh dan memeluk ayah dan kakak. Bagaimana denganku? Tidak. Mungkin badanku terlalu tegap dan kekar hingga tampaknya aku yang paling baik-baik saja.

Ibu sudah dikenakan lembar putih. Bahkan untuk menyalaminya saja sudah tak bisa. Begitu ketat dan tertutup.

Kendaraannya tiba. Dulu, ibu meraih tanganku karena kesulitan duduk di kursi mobil belakang. Pun begitu saat dibonceng motor untuk ke pasar. Sekarang, tangannya tak lagi bisa meraihku. Bahkan kami perlu mengangkatnya bersama-sama untuk memasukkannya ke dalam kendaraan.

Keranda.

Shalat usai, dengan lututku yang masih bergetar hebat. Tumitku mati rasa, pahaku terasa kebas. Padahal, beban seratus hingga seratus lima puluh kilogram, dua kali secara rutin tiap pekan, mampu kuangkat dengan kakiku.

Ironisnya, kini kakiku tak cukup kuat untuk bertumpu saat shalat yang bahkan tak dilengkapi rukuk dan sujud.

Puncaknya, keranda diangkat enam orang, aku di antaranya. Ayah tidak bisa. Pilunya lebih berat menghantam daripada piluku.

“Satu, dua, tiga! Bismillah!” ucap salah satu dari kami saat mengangkat keranda ibu.

Perjalanan kali ini begitu dekat, meskipun keikhlasanku begitu jauh. Rumah baru ibu hanya berkisar ratusan langkah dari rumah singgah kami.

Begitu sampai, ternyata arsitekturnya sudah matang. Ibu sudah bisa beristirahat di bangunan tanpa penopang ini sekarang.

Paman memintaku membantunya mengangkat ibu ke dalam. Aku, paman, dan sepupuku.

Dari atas, tampaknya beban ibu tidak begitu berat. Rasanya aku mampu menggendongnya mengitari kampung sekali lagi.

Ternyata tidak.

Lenganku jatuh, jemariku bergetar, sikuku seakan melepas sendinya.

“Aku nggak bisa, Om!” lirih suaraku, dipantulkan getar badan ini.

Sepupuku yang lain turun menggantikanku, sedang aku naik seraya mengencangkan engsel bahu.

“Mana kekuatan itu? Di mana hasil rutinitas yang pernah kau banggakan itu? Seratus kilogram? Seratus lima puluh? Dua ratus? Semua tidak memberikan apa-apa. Buahmu hanyalah kegagalan!”

Suara hati itu terasa seperti keluar dengan jelas, sampai mampu memekakkan gendang telinga. Bahkan untuk mengantarkan ibu ke tempat peristirahatannya saat ini pun aku tak mampu.

“Maaf, Bu! Aku tidak pernah tahu, beratnya menopang gugurnya cinta lebih berat dibandingkan melempar gerbang perang.”

Ibu pun beristirahat di dalam.

Tidak seorang pun bisa mengunjunginya lagi kali ini dan seterusnya. Ia tertimbun bersama ungkapan kasih dan pengingatnya.

Namun memorinya tidak tertinggal.

Ia ikut menghiasi atapnya, bahkan lebih semarak daripada banyaknya kembang.

.

—Deren