
لَمَسْتُ بِكَفِّي كَفَّهُ أَبْتَغِي الْغِنَى # وَلَمْ أَدْرِ أَنَّ الْجُودَ مِنْ كَفِّهِ يُعْدِي
فَلَا أَنَا مِمَّا قَدْ أَفَادَ ذَوُو الْغِنَى # أَفَدْتُ وَأَعْدَانِي فَأَتْلَفْتُ مَا عِنْدِي
PENJABARAN & PENJELASAN
لَمَسْتُ بِكَفِّي كَفَّهُ أَبْتَغِي الْغِنَى # وَلَمْ أَدْرِ أَنَّ الْجُودَ مِنْ كَفِّهِ يُعْدِي
“Aku menyentuh telapak tangannya dengan telapak tanganku demi mengharapkan kekayaan, tanpa kusadari bahwa kedermawanan dari telapak tangannya ternyata menular.”
Manusia pada dasarnya sangat terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Jika mereka berada di sekitar orang-orang dermawan, mereka akan meneladaninya, dan jika sebaliknya, mereka akan mengikuti jejaknya—kecuali orang yang dijaga oleh Tuhanku. Aku pernah menyentuh telapak tangan salah seorang dermawan yang kaya demi mencari kecukupan, tanpa aku sadari bahwa sifat dermawan itu ternyata bisa menular dari satu orang ke orang lain.
فَلَا أَنَا مِمَّا قَدْ أَفَادَ ذَوُو الْغِنَى # أَفَدْتُ وَأَعْدَانِي فَأَتْلَفْتُ مَا عِنْدِي
“Maka aku tidak mendapatkan kekayaan sebagaimana yang didapatkan orang-orang kaya, namun kedermawanannya menular padaku hingga aku menghabiskan apa yang kupunya.”
Aku terus menginfakkan hartaku hingga tidak ada lagi yang tersisa padaku. Bagian yang kudapatkan justru berbeda dari yang kuharapkan; aku tidak memperoleh kekayaan dari sahabatku yang tadinya kuharapkan kekayaannya, tetapi sifat dermawannya justru menular kepadaku sehingga aku mulai menginfakkan harta hingga habis tak bersisa.
PELAJARAN
Dari bait-bait syair ini beserta penjelasannya, kita dapat mengambil beberapa pelajaran berharga mengenai karakter dan pengaruh sosial:
Pertama, Pengaruh Kuat Lingkungan Sosial. Karakter dan kebiasaan seseorang sangat dipengaruhi oleh orang-orang di sekitarnya. Bergaul dengan orang dermawan dapat menularkan jiwa kedermawanan dan kemurahan hati.
Kedua, Keberkahan Jiwa di Atas Kekayaan Materi. Seseorang mungkin mendekati orang kaya untuk mendapatkan materi, tetapi pelajaran hidup dan nilai kedermawanan yang ia serap jauh lebih mengubah mindset serta perilaku hidupnya.
Ketiga, Totalitas dalam Kedermawanan. Ketika sifat murah hati sudah meresap ke dalam jiwa, seseorang tidak lagi merasa takut kehilangan harta duniawi dan dengan rela membagikan apa yang ia miliki demi kebaikan.
Referensi Kitab: Syarh Diwanil-Imam asy-Syafi’i lil-Mahmud Biju.
.
.
Baca juga SYARH DIWAN IMAM SYAFI’I: KUNCI HIDUP TENANG, PANDUAN BAGI ORANG-ORANG YANG BERAKAL untuk menambah wawasan dan insight terbaru dari aslafuna ash-shalih.




















