
Sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ, kita sering melihat adanya perbedaan pendapat di sekitar kita, mulai dari masalah cara salat hingga penentuan awal bulan Ramadan. Kadang kita merasa bingung, apakah perbedaan ini tanda perpecahan? Jawabannya adalah tidak. Berbeda pendapat dalam masalah ibadah sehari-hari justru merupakan hadiah dan kasih sayang dari Allah untuk kita. Lebih dari itu, Allah juga memberikan jaminan luar biasa: umat ini tidak akan pernah tersesat secara massal atau bersama-sama. Melalui tulisan sederhana ini, kita akan melihat bagaimana kasih sayang Rasulullah ﷺ dan jaminan Allah menjaga agama ini tetap utuh hingga akhir zaman.
1.Mengapa Ikhtilaf Kita Rahmat, Sedang Umat Terdahulu Azab?
Salah satu dari keistimewaan umat islam adalah ketika mereka berbeda pendapat itu merupakan sebuah rahmat dari Allah, akan tetapi ketika hal ini terjadi di kalangan umat umat sebelumnya itu merupakan adzab sebagaimana yang di katakan sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al Maliki di dalam kitab nya Khashaisul Ummatil Muhammadiyah:
اِخْتَصَّ اللهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِأَنْ لَا تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَنَشَأَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ إِجْمَاعَهُمْ حُجَّةٌ ، وَبِأَنَّ اخْتِلَافَهُمْ رَحْمَةٌ ، فَكَانَ اخْتِلَافُ مَنْ قَبْلَهُمْ عَذَابًا
Allah telah mengkhususkan umat ini dengan jaminan bahwa mereka tidak akan bersepakat dalam kesesatan. Dari hal inilah muncul prinsip bahwa kesepakatan (ijma’) mereka adalah sebuah hujah (argumen hukum yang sah), dan bahwa perbedaan pendapat di antara mereka (dalam masalah cabang/ijtihad) adalah sebuah rahmat, sedangkan perbedaan pendapat pada umat-umat sebelum mereka merupakan azab.
Hal ini juga di tegaskan oleh Nabi dalam hadits shahih yang di riwayatkan Imam Bukhari:
لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا
“Janganlah kalian berselisih (dalam pokok agama), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian berselisih lalu mereka binasa.”
Mengapa bisa umat lain ketika berbeda pendapat itu merupakan adzab sedangkan umat islam merupakan rahmat?
Jawabannya karena perbedaan karakteristik. Jadi umat terdahulu ketika berbeda pendapat itu mereka berselisih dan berdebat karena dorongan hasud, sombong, serta ingin mengubah isi pokok kitab suci (ushul ad-din) sehingga berakhir pada kesesatan dan adzab, Sedangkan umat islam hanya berbeda pandangan pada teknis pelaksanaan ibadah sehari-hari (furu’ al-fiqhiyyah), sementara pondasi akidah, kiblat, dan rukun Islam mereka tetap kokoh bersatu di bawah satu kesepakatan.
2.Mengurai Doa Panjang Rasulullah ﷺ bagi Masa Depan Umat
Rasulullah juga meminta kepada Allah agar umatnya tidak di kumpulkan dalam suatu kesesatan. Suatu ketika, di tengah sebuah perjalanan, Rasulullah ﷺ berhenti dan melakukan shalat. Setelah selesai shalat, beliau menghadapkan wajahnya ke arah kiblat dan memanjatkan doa yang sangat panjang, lama, dan penuh kekhusyukan.
Para sahabat yang ikut serta dalam perjalanan tersebut memperhatikan gerak-gerik Nabi ﷺ. Dari raut wajah beliau, terlihat pancaran emosi yang mendalam, perpaduan antara rasa berharap yang sangat besar (raghab) sekaligus rasa cemas dan takut yang luar biasa (rahab) atas nasib umatnya setelah beliau wafat kelak.
Setelah selesai bermunajat dalam waktu yang lama tersebut, Nabi ﷺ berbalik menghadap para sahabat dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Beliau bersabda:
سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَرْبَعًا فَأَعْطَانِي ثَلَاثًا وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً : سَأَلْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يَجْمَعَ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ فَأَعْطَانِيهَا ، وَسَأَلْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُظْهِرَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، وَسَأَلْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُهْلِكَهُمْ بِالسِّنِينَ كَمَا أَهْلَكَ الْأُمَمَ قَبْلَهُمْ فَأَعْطَانِيهَا ، وَسَأَلْتُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يَلْبِسَهُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَهُمْ بَأْسَ بَعْضٍ فَمَنَعَنِيِهَا
“Aku memohon kepada Tuhanku ‘Azza wa Jalla empat hal, lalu Dia mengabulkan tiga hal dan menolakku satu hal: (1) Aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar tidak mengumpulkan umatku di atas kesesatan, lalu Dia mengabulkannya untukku. (2) Dan aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar tidak memenangkan musuh dari luar mereka (untuk membinasakan mereka). (3) Dan aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar tidak membinasakan mereka dengan tahun-tahun paceklik (kelaparan ekstrem) sebagaimana Dia membinasakan umat-umat sebelum mereka, lalu Dia mengabulkannya untukku. (4) Dan aku memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar tidak membuat mereka terpecah belah menjadi golongan-golongan (yang saling bermusuhan) dan merasakan kekejaman satu sama lain, namun Dia menolaknya dariku.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
3. Jaminan dari Allah: Kesepakatan Ulama Kita Mustahil Salah
Dan juga termasuk dari keistimewaan umat ini adalah Allah tidak akan mengumpulkan mereka dalam kesesatan seperti dalam Hadits:
وَأَخْرَجَ الْحَاكِمُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : « لَا يَجْمَعُ اللهُ أُمَّتِي عَلَى الضَّلَالَةِ أَبَدًا
Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan selamanya.”
وَرَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ : « قَدْ أَجَارَكُمُ اللهُ مِنْ ثَلَاثِ خِلَالٍ ، ذَكَرَ مِنْهَا : وَأَنْ لَا تَجْتَمِعُوا عَلَى ضَلَالَةٍ »
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah melindungi kalian dari tiga perkara…” Beliau menyebutkan di antaranya: “Dan agar kalian tidak bersepakat di atas kesesatan.”
Hadits ini diturunkan/disabdakan untuk memberikan penekanan utama bagi umat Islam yaitu Allah memuliakan umat Muhammad ﷺ dengan tidak membiarkan seluruh ulama dan kaum muslimin secara totalitas menyepakati sebuah kebatilan atau kesesatan hukum. Jika seluruh ulama menyepakati sesuatu (ijmak), kesepakatan itu dijamin sebagai kebenaran.
وَرَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ : « إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي ، أَوْ قَالَ : أُمَّةَ مُحَمَّدٍ عَلَى ضَلَالَةٍ ، وَيَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ »
At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku — atau beliau bersabda: umat Muhammad — di atas kesesatan. Dan tangan (pertolongan) Allah itu bersama jamaah (kelompok mayoritas yang berada di atas kebenaran). Barangsiapa yang menyimpang, maka ia menyimpang ke neraka.”
Hadits ini menjadi pedoman ketika terjadi fitnah atau perpecahan di kemudian hari. Umat Islam diperintahkan untuk tetap berpegang teguh pada mayoritas institusi keilmuan Islam, tradisi para sahabat, dan jemaah kaum muslimin (Ahlussunnah wal Jama’ah).

















