
Tentang Nafkah, Ketaatan, dan Memahami Rumah Tangga
Pertanyaan yang Sederhana, tetapi Tidak Sesederhana Itu
Ada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sederhana:
«“Apakah seorang istri masih wajib menaati suaminya jika gaji suaminya di bawah UMR?”»
Sekilas, pertanyaan ini seperti hanya berbicara tentang uang. Tetapi kalau kita berhenti sejenak, mungkin ada sesuatu yang lebih manusiawi di baliknya.
Mungkin ada rasa takut.
Takut tidak tercukupi. Takut menghadapi masa depan. Takut ketika kebutuhan semakin banyak, sementara penghasilan tidak bertambah.
Karena itu, sebelum menjawab pertanyaan tersebut dengan hukum, ada baiknya kita terlebih dahulu memahami manusia yang sedang bertanya.
Sebab, terkadang seseorang tidak sedang menentang agama. Ia hanya sedang mencoba memahami bagaimana agama memberikan jawaban terhadap kegelisahan yang sedang ia rasakan.
Islam Tidak Menutup Mata terhadap Persoalan Ekonomi
Islam tidak pernah mengatakan bahwa persoalan ekonomi adalah sesuatu yang tidak penting dalam rumah tangga.
Justru, suami memiliki kewajiban memberikan nafkah kepada keluarganya.
Allah berfirman:
«“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya.”
(QS. At-Talaq: 7)»
Perhatikan satu kata yang sangat indah dalam ayat ini: kemampuan.
Syariat tidak meminta seseorang memberikan sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
Karena itu, kita perlu membedakan antara seorang suami yang penghasilannya sedikit dengan seorang suami yang tidak mau bertanggung jawab.
Keduanya tidak selalu sama.
Ada seseorang yang gajinya kecil, tetapi setiap hari berusaha. Ia pulang dengan lelah, memikirkan kebutuhan keluarganya, dan memberikan apa yang mampu ia berikan.
Ada pula seseorang yang sebenarnya mampu, tetapi memilih bermalas-malasan dan membiarkan keluarganya menanggung akibatnya.
Kalau keduanya kita samakan hanya karena sama-sama tidak memberikan kehidupan yang berlebihan, tentu kita telah kehilangan keadilan.
Apakah Gaji di Bawah UMR Menggugurkan Ketaatan Istri?
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Gaji di bawah UMR bukan ukuran yang ditetapkan syariat untuk menentukan apakah seorang istri wajib menaati suaminya atau tidak.
UMR adalah standar ekonomi dalam sistem ketenagakerjaan modern. Ia bukan batas yang Allah tetapkan sebagai ukuran sah atau tidaknya hak seorang suami.
Seorang suami tidak tiba-tiba kehilangan kedudukannya sebagai suami hanya karena pendapatannya turun.
Bayangkan jika ukuran itu kita jadikan prinsip.
Hari ini suami mendapatkan gaji yang cukup, maka ia dihormati.
Besok perusahaan tempatnya bekerja bangkrut dan pendapatannya turun. Lalu, apakah seluruh haknya sebagai suami ikut hilang?
Tentu tidak sesederhana itu.
Karena pernikahan tidak dibangun di atas slip gaji.
Pernikahan dibangun di atas amanah.
Ketaatan Bukan Alasan untuk Mengabaikan Nafkah
Tetapi suami juga tidak boleh berlindung di balik kata “taat”.
Ini juga penting.
Ketika kita berbicara tentang kewajiban istri untuk menaati suami dalam perkara yang ma’ruf, bukan berarti suami boleh mengabaikan tanggung jawabnya.
Nabi ﷺ pernah menerima pengaduan Hindun binti ‘Utbah mengenai suaminya, Abu Sufyan, yang tidak memberikan nafkah yang mencukupi bagi dirinya dan anaknya.
Nabi ﷺ memberikan solusi yang menunjukkan bahwa hak istri atas nafkah adalah sesuatu yang diperhatikan oleh syariat.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Maka, seorang suami tidak seharusnya berkata:
«“Yang penting kamu taat, urusan nafkah belakangan.”»
Tidak demikian cara Islam membangun keluarga.
Sebagaimana istri memiliki kewajiban, suami juga memiliki kewajiban.
Sebagaimana suami memiliki hak, istri juga memiliki hak.
Rumah tangga bukan tempat satu orang hanya menuntut dan satu orang hanya dituntut.
Jangan Terburu-buru Menghakimi Istri
Jadi, apakah perempuan tadi salah?
Belum tentu kita bisa mengatakan demikian.
Kalau seorang perempuan bertanya:
«“Apakah saya masih wajib menaati suami yang gajinya di bawah UMR?”»
Kita tidak perlu buru-buru mengatakan bahwa ia materialistis atau tidak menghargai suaminya.
Bisa jadi sebenarnya yang sedang ia pikirkan adalah:
«“Kalau kebutuhan hidup saya tidak tercukupi, bagaimana masa depan saya?”»
Itu adalah pertanyaan yang manusiawi.
Tetapi setelah memahami kekhawatirannya, barulah kita luruskan cara berpikirnya.
Rendahnya penghasilan tidak otomatis menggugurkan ketaatan dalam perkara yang ma’ruf.
Yang harus dilihat adalah:
– Apakah suami memang tidak mampu?
– Apakah ia sudah berusaha?
– Apakah kebutuhan pokok keluarga terpenuhi sesuai kemampuan?
– Apakah ia sengaja mengabaikan nafkah?
– Atau sebenarnya persoalannya adalah standar kehidupan yang terlalu tinggi?
Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar bertanya:
«“Gajinya berapa?”»
Jangan Jadikan Kemiskinan sebagai Hinaan
Ada sesuatu yang sering terlupakan dalam pembicaraan tentang rumah tangga.
Kita hidup di zaman ketika keberhasilan seseorang mudah sekali diukur dari angka.
Gaji.
Rumah.
Mobil.
Pekerjaan.
Jabatan.
Lalu, tanpa sadar, kita membawa ukuran itu ke dalam pernikahan.
Padahal, seseorang yang penghasilannya sederhana belum tentu sederhana dalam tanggung jawabnya.
Ada orang yang tidak memiliki banyak uang, tetapi memiliki banyak kesungguhan.
Ada orang yang tidak mampu memberikan kemewahan, tetapi berusaha memberikan keamanan.
Ada orang yang tidak bisa membawa keluarganya hidup serba berlebihan, tetapi setiap hari berusaha agar keluarganya tidak kekurangan.
Dan ada pula orang yang memiliki banyak harta, tetapi keluarganya justru merasa sendirian.
Karena itu, jangan terlalu cepat menyamakan sedikit harta dengan sedikit nilai manusia.
Jangan Pula Meromantisasi Kekurangan
Namun, jangan pula meromantisasi kekurangan.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh menggunakan kalimat “yang penting sabar” untuk menutupi persoalan yang nyata.
Kalau seorang istri benar-benar tidak mendapatkan nafkah yang menjadi haknya, persoalan itu harus dibicarakan.
Kesulitan ekonomi membutuhkan ikhtiar.
Kekurangan membutuhkan perencanaan.
Dan konflik membutuhkan komunikasi.
Islam tidak meminta seseorang berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika sebenarnya ada hak yang belum terpenuhi.
Pertanyaan yang Lebih Baik
Mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah…
Daripada bertanya:
«“Apakah saya masih wajib menaati suami yang gajinya di bawah UMR?”»
Mungkin pertanyaan yang lebih baik adalah:
«“Apakah suami saya telah menunaikan tanggung jawabnya sesuai kemampuan yang Allah berikan kepadanya, dan apakah saya telah menunaikan kewajiban saya kepadanya dalam perkara yang ma’ruf?”»
Pertanyaan kedua membuat kita tidak hanya melihat kesalahan orang lain.
Kita juga melihat diri sendiri.
Dan mungkin di situlah keindahan ajaran Islam.
Islam tidak mengajarkan kita untuk mencari siapa yang paling berhak menuntut.
Islam mengajarkan kita untuk bertanya:
«“Apa yang bisa aku tunaikan?”»
Di situlah rumah tangga mulai menemukan makna amanah.
Penutup: Rumah Tangga Bukan Perlombaan Kekayaan
Pada akhirnya, gaji di bawah UMR bukanlah ukuran kemuliaan seorang suami, dan bukan pula ukuran otomatis gugur atau tidaknya ketaatan seorang istri.
Yang lebih penting adalah bagaimana keduanya menghadapi keadaan tersebut: dengan tanggung jawab, kejujuran, kesabaran, dan saling memahami.
Sebab, terkadang yang membuat sebuah keluarga kuat bukan karena mereka memiliki banyak harta.
Melainkan karena ketika harta sedang sedikit, mereka tidak menjadikan satu sama lain sebagai musuh.



















