
ada orang uang bekerja kerasa bukan karena ingin menjadi orang paling kaya.
ia hanya pernah merasakan susah.
pernah melihat kebetuhan orang tua kebingungan, ketika kebutuhan datang bersamaan. pernah menghitung uang sebelum membeli sesuatu. pernah ingin membantu seseorang,tetapi tidak punya kemampuan untuk melakukannya.
Lalu suatu hari ia berkata,
“aku ingin punya kehidupan yang lebih baik.
aku ingin suatu saat tidak lagi khawatir soal uang.
”apakah keinginan seperti itu berarti ia mencintai dunia?
Rasanya terlalu cepat kalau jawabannya langsung,”iya.”
Sebab manusia memang diciptakan dengan keinginan untuk mencari keamanan. Kita ingin makan ketika lapar, berteduh ketika hujan, punya tempat tinggal ketika malam, dan memiliki simpanan ketika hari-hari sulit datang.
keinginan untuk terbebas dari kesusahan bukan suatu yang aneh.
itu manusiawi.
Dunia yang cukup untuk menjalani hidup
Allah berfirman:
“carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu kamu melupakan bagianmu dari dunia.” QS. AL-Qashash:77
Menariknya, ayat ini tidak menyuruh manusia meninggalkan dunia.
Ada bagian dunia yang tetap boleh kita cari.
Kita boleh ingin hidup layak.
Boleh ingin memiliki pekerjaan yang baik.
Boleh ingin punya rumah.
Boleh menabung.
Boleh membangun usaha.
Bahkan boleh berharap suatu hari memiliki kondisi finansial yang membuat hidup lebih tenang.
yang perlu diperhatikan adalah untuk apa semua itu dilakukan.
yang perlu diperhatikan adalah untuk apa semua itu dilakukan.
karena dua orang bisa sama-sama mengejar uang,tetapi sedang menuju tujuan yang sangat berbeda.
Yang satu berkata:
“aku ingin punya cukup agar keluargaku aman.”
Yang lain berkata:
“Aku harus punya lebih banyak agar aku merasa lebih tinggi daripada orang lain.”
Dari luar, keduanya sama-sama bekerja.
tetapi yang satu sedang mencari kecukupan, sementara yang lain mungkin sedang mencari harga diri melalui dunia.
Harta itu seperti kendaraan.
Bayangkan seseorang hendak melakukan perjalanan jauh.
ia membeli kendaraan agar perjalanan menjadi lebih mudah.
tidak ada yang aneh.
Justru aneh kalau ia membeli kendaraan untuk pergi ke suatu tempat, kemudian sepanjang hidup hanya sibuk merawat kendaraannya sampai lupa ke mana sebenarnya ia hendak pergi.
Begitu pula dengan harta.
Harta bisa menjadi kendaraan.
Dengan harta, seseorang bisa memenuhi kebutuhan, membantu keluarganya, menolong orang lain, belajar, membangun usaha, bahkan memiliki waktu yang lebih luas untuk melakukan hal-hal yang ia anggap penting.
Masalahnya bukan karena ia memiliki kendaraan.
Masalahnya muncul ketika kendaraan itu mengambil alih tujuan perjalanan.
Begitu juga dunia.
Bukan salah memiliki dunia.
Yang berbahaya adalah ketika dunia membuat kita lupa untuk apa kita hidup.
jadi, bagaimana dengan financial freedom?
financial freedom pada dasarnya adalah keinginan untuk memilkiki kondisi finasial yang cukup sehingga hidup tidak selalu bergantung pada pemasukan dari hari ke hari.
keiginan seperti ini tidak otomatis menjadi hubbud-ddunya.
seseorang mungkin ingin financial freedom karena ia telah melihat keluarganya hidup dalam kecemasan.
ia ingin punya tabungan karena tahu keadaan bisa berubah.
ia ingin memiliki aset karena tidak tidak ingin selamanya bergantung pada orang lain.
ia ingin bebas secara finansial agar suatu hari bisa menggunakan waktunya untuk belajar, berkarya,membantu orang lain,atau sekadar menikmati hidup dengan lebih hidup dengan lebih tenang,
kalau begitu, apakah yang sebenarnya ia kejar?
uang,atau kehidupan yang ingin dibangun dari uang tersebut?
ini perbedaan yang penting.
Nabi saw tidak mengajarkan bahwa harta selalu buruk
Nabi saw bersabda :
“ sebaik-baik harta adalah harta yang baik bagi orang baik”
seperti air.
Air bisa menghidupkan tanaman, tetapi air yang sama juga bisa menenggelamkan sebuah rumah ketika jumlahnya tidak terkendali.
Begitu juga harta.
sedikit bisa membuat seseorang lupa diri.
Banyak juga bisa membuat seseorang lupa diri.
Sebaliknya,sedikit bisa menjadi berkah, dan banyak juga bisa berkah.
Jadi ukuran utamanya bukan semata-mata berapa banyak yang dimilikin tetapi bagaimana seseorang memperlakukan apa yang dimilikinya.
ada perbedaan antara ingin nyaman dan diperbudak kenyamanan.
ini mungkin batas yang paling mudah dipahami.
Tidak salah mengatakan:
“Aku ingin hidup nyaman.”
Tetapi hati-hati jika berubah menjadi:
“aku tidak bisa hidup bahagia kalau hidupku tidak nyaman.”
Yang pertama adalah keinginan.
Yang kedua adalah ketergantungan.
seseorang boleh memiliki rumah bagus.
Tetapi ketika suatu hari harus tinggal di rumah sederhana, ia masih bisa bersyukur.
seseorang boleh punya banyak uang.
Tetapi ketika hartanya berkurang. ia tidak merasa dirinya kehilangan harga diri.
seseorang boleh mengejar financial freedom.
tetapi ketika hidup tidak sesuai rencana, ia tidak merasa seluruh hidupnya gagal.
Sebab ia memahami satu hal:
kenyamanan adalah nikmat, bukan jaminan kehidupan.
Dunia memang tidak pernah benar-benar selesai
ada sesuatu yang yang lucu tetang manusia.
Kita sering berpikir:
“ kalau sudah punya sekian, Aku akan tenang,”
lalu ketika sampai di sana, muncul angka berikutnya.
Dulu ingin punya motor.
setelah punya motor, ingin mobil.
setelah punya mobil, ingin rumah.
setelah punya rumah, ingin rumah yang lebih besar.
setelah punya penghasilan besar, ingin penghasilan yang lebih besar.
Bukan berarti semua peningkatan itu salah.
Tetapi manusia perlu sesekali bertanya: “Aku sedang meningkatkan kualitas hidup, atau sedang mengejar angka yang tidak punya garis akhir?”
Karena kalau ketenangan selalu diletakkan di angka berkutnya, seseorang mungkin tidak pernah benar-benar sampai.
Bukan karena uangnya kurang.
Tetapi karena rasa cukupnya tidak pernah diberi kesempatan untuk tumbuh.
Di sinilah makna zuhud menjadi indah
Zuhud tidak harus berarti seseorang tidak memiliki apa-apa.
seseorang bisa memiliki banyak, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh apa yang dimilikinya.
ia bekerja ketika punya kesempatan.
ia bersyukur ketika mendapatkan.
ia berusaha ketika kehlangan.
ia menikmati yang halal tanpa menjadikan kenikmatan sebagai satu-satunya alasan hidup.
DUnia ada di tangannya.
Tetapi bukan sebagai tuannya.
Nabi saw juga mengingatkan:
“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai pusat perhatiannya. Allah akan mencerai-beraikan urusannya”
HR. Ibnu Majah
yang perlu kita takutkan bukan sekadar memiliki kesibukan dunia.
Kia semua punya urusan dunia.
Yang perlu ditakutkan adalah ketika dunia menjadi seluruh isi kepala dan tujuan terkakhir hati.
Maka, mengejar kehidupan yang lebih baik bukanlah dosa
Ada orang yang mengejar uang karena ingin terlihat hebat.
Ada yang mengejar uang karena takut dipandang rendah.
Ada yang mengejar uang karena ingin mengalahkan orang lain.
Tetapi ada pula yang mengejar uang karena tidak ingin keluarganya kembali merasakan kesusahan yang pernah ia rasakan.
Yang terlihat dari luar mungkin sama:
sama-sama bekerja keras.
Tetapi Allah mengetahui apa yam tidak terlihat oleh manusia.
Makas sebelum memberi lebel hubbud-dunya kepada seseorang, mungkin lebih baik bertanya kepada diri sendiri:
“apakah aku sedang mengumpulkan dunia karena dunia adalah tujuan hidupku, atau aku sedang menggunakan dunai agar hidupku lebih baik?”
karena mencari dunia tidak selalu berarti mencintai dunia.
kadang seseorang hanya ingun sedikit lebih tenang.
ingin ketika orang tuanya membutuhkan sesuatu, ia mampu membantu.
ingin ketika keadaan sulit datang, ia tidak langsung panik
Dan itu bukan berarti ia tidak ingin memiliki seluruh dunia
Mungkin ia hanya ingin memiliki cukup dunia tidak terus-menerus sibuk bertahan hidup.
Pada akhirnya, persoalan bukan: “seberapa banyak dunia yang ada di tanganmu?”
Tetapi:
“seberapa jauh dunia menguasai hatimu?.
sebab seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap menjadi tuannya.
Dan seeseorang bisa memiliki sedikit harta tetapi menghabiskan seluruh hidupnya sebagai budaknya.
Dunia boleh menjadi kendaraan perjalanan.
Yang penting, jangan sampai kita lupa ke mana kendaraan itu seharusnya membawa kita.



















