Rasa takut kehilangan adalah beban pikiran yang membuat kita cepat lelah. Sering kali barang milik kita belum benar-benar hilang, atau orang yang dekat dengan kita belum pergi, tetapi hati kita sudah stres duluan, karena sibuk membayangkan hal-hal buruk.
Kita sering lupa bahwa semua yang kita miliki hari ini mulai dari harta, kesehatan, pekerjaan, sampai orang-orang yang kita cintai statusnya hanyalah titipan sementara.
Hakikat Titipan & Mentalitas “Tukang Parkir”
Sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah berikut ini:
إن الله مع الصابرين * الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar; yakni mereka yang apabila ditimpa musibah (atau kehilangan), mereka berkata: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadanyalah kami akan kembali).” (QS. Al-Baqarah: 156-157)
Ayat ini adalah bukti yang sangat nyata, bahwa kita ini sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Jangankan uang atau pasangan, tubuh kita sendiri pun adalah hak milik Allah, yang suatu hari nanti akan diambil kembali oleh-Nya.
Coba kita lihat itu tukang parkir, ia tidak pernah sedih atau marah waktu mobil-mobil mewah di tempatnya dibawa pulang oleh pemiliknya, karena dari awal dia tahu bahwa semua kendaraan itu bukan miliknya. Para ulama zaman dulu juga selalu menasihati agar kita menaruh urusan dunia di telapak tangan saja, dan jangan pernah dimasukkan ke dalam hati.
Menaruh Dunia di Tangan, Bukan Merantainya di Hati
Sebab segala sesuatu yang kita ikat terlalu kencang di dalam hati, pasti akan membuat kita terasa hancur lebur saat sesuatu itu diambil kembali.
Terkait hal ini, Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya, apakah orang kaya bisa punya hati yang bersih dari dunia (zuhud)?
Ia menjawab: “Bisa, asalkan dia tidak terlalu gembira saat hartanya bertambah, dan tidak sedih atau cemas saat hartanya berkurang.”
Menghalau Cemas Esok Hari dengan Menjaga Hari Ini
Rasa takut biasanya muncul, karena pikiran kita terlalu mengkhawatirkan masa depan. Kita sibuk mencemaskan hari esok yang belum tentu terjadi, padahal tugas kita yang asli cuma fokus merawat apa yang ada hari ini dengan sebaik-baiknya.
Sama halnya seperti seorang santri yang mau menghadapi ujian akhir (imtihan). Bukannya dia fokus belajar dan muthala’ah (membaca ulang) kitab di kamarnya, dia malah sibuk stres memikirkan bagaimana kalau nanti malam tidak bisa menjawab pertanyaan, bagaimana kalau tidak naik kelas.
Ketakutan itu akhirnya membuat waktunya habis untuk melamun, padahal yang menentukan hasil ujiannya nanti adalah seberapa baik dia memanfaatkan waktu belajarnya hari ini.
Sengaja mengkhawatirkan hari esok tidak akan pernah mengubah apa pun yang akan terjadi nanti, tetapi justru mencuri ketenangan yang seharusnya bisa kita nikmati hari ini. Kata Rasulullah dalam hadisnya:
وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ
“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai fokus utama pikirannya, Allah akan jadikan rasa takut miskin atau kehilangan selalu membayangi di antara kedua matanya, dan Allah akan mencerai-beraikan kepentingan urusannya.” (HR. Imam Tirmidzi)
Sifat asli dari dunia ini memang tidak ada yang abadi. Jadi, satu-satunya cara untuk mendapat ketenangan batin adalah dengan ikhlas dan menyerahkan hasil akhirnya hanya kepada Allah.
Saat kita yakin bahwa apa yang sudah ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah tertukar, dan apa yang hilang pasti akan diganti dengan yang lebih baik, maka rasa takut itu akan hilang sendiri dan bikin hidup kita kembali merasakan ketenangan.
