Keluarga Arab kota memiliki kebiasaan menitipkan anak mereka yang baru lahir kepada perempuan desa atau gurun untuk disusui. Hal ini dilakukan agar anak mereka terhindar dari penyakit yang ada di wilayah perkotaan, juga agar memiliki tubuh yang sehat, dan fasih berbahasa Arab.
Begitu pun dengan Sayidah Aminah. Ia menitipkan anaknya, Nabi Muhammad, kepada Halimah as-Sa’diyah, beberapa saat setelah melahirkannya. Maka sejak saat itu, Nabi Muhammad tinggal bersama keluarga Halimah di perkemahan daerah Bani Sa’ad. Ia tumbuh di wilayah tersebut, jauh dari ibunya yang berada di Makkah
Sebetulnya Halimah ingin agar Nabi Muhammad tinggal bersamanya. Alasannya, Halimah mengalami kehidupan yang lebih baik selama merawat Nabi Muhammad. Hewan ternaknya menjadi gemuk-gemuk dan penuh dengan susu. Ia merasa Nabi Muhammad adalah pembawa berkah bagi keluarganya.
Sehingga ia meminta izin kepada Sayidah Aminah, agar memperpanjang masa kebersamaannya dengan Nabi Muhammad. Namun keinginan Halimah itu sirna setelah mendengar cerita tentang ‘kejadian aneh’ (kejadian pembelahan dada) yang menimpa anak asuhnya itu. Ia khawatir dan tidak ingin anak asuhnya kenapa-kenapa, maka akhirnya Halimah menyerahkan kembali Nabi Muhammad kepada Sayidah Aminah. Jadilah sejak saat itu Nabi Muhammad melalui hari-harinya bersama ibundanya, Sayidah Aminah.
Perjalanan Dengan Ibunda Ke Kota Yatsrib
Nabi Muhammad pun melanjutkan kehidupan bersama dengan ibundanya, sampai nabi Muhammad berumur 6 tahun. Setelah mencapai umur 6 tahun, ibundanya mengajak untuk pergi membawa serta budaknya, Ummu Ayman Al-Habasyiah, ke kota Yatsrib (Madinah).
Tujuan awalnya untuk berziarah ke makam ayahanda Nabi Muhammad, Abdullah bin Abdul Muththalib, yang makamnya berada pada kota tersebut. Di kota Yatsrib ia bersilaturahmi dengan saudaranya di perkampungan Bani Najar (salah satu perkampungan di Yatsrib).
Akhirnya mereka memulai perjalanan mereka ke kota Yatsrib. Sesampainya mereka ke kota tersebut, mereka berziarah terlebih dahulu ke makam ayahanda Nabi Muhammad Sayiduna Abdullah bin Abdul Muththalib.
Setelah mereka selesai berziarah makam Sayiduna Abdullah bin Abdul Muththalib, mereka pergi bersilaturahmi kepada saudara-saudara mereka yang berada di perkampungan Bani Najar, dan tinggal di perkampungan Bani Najar selama 1 bulan.
Awan Hitam di Desa Al-Abwa
Setelah menghabiskan waktu selama satu bulan bersama keluarga Bani Najjar, mereka akan kembali menuju Makkah Al-Mukarramah. Akan tetapi, saat di tengah perjalanan, tepatnya di sebuah desa bernama Al-Abwa (desa antara Makkah dan Madinah), ibunda Nabi Muhammad, Sayidatuna Aminah, mengalami sakit parah.
Kemudian setelah mereka singgah di desa Abwa, sakit ibunda Nabi Muhammad menjadi tambah parah, sampai-sampai Sayidatuna Aminah pun meninggal dunia tersebut dan dikuburkan pula disitu. Meninggalkan sang Muhammad kecil, yang kurang lebih saat itu masih berusia 6 tahun.
Wasiat Kakek & Berkah di Rumah Paman
Setelah ibunda Muhammd meninggal, ia pun meneruskan perjalanan ke kota asalnya, Makkah bersama dengan budaknya, Ummu Ayman Al-Habasyiah. Sesampainya di kota Makkah, mereka bergegas menemui kakek Nabi Muhammad, yakni Abdul Muththalib.
Kemudian Nabi Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, akan tetapi setelah sampai umur yang ke 8 tahun, kakeknya pun menutup usia, padahal Nabi Muhammad masih kecil.
Setelah meninggal kakeknya, Muhammad kecil pun diasuh oleh pamannya, Abu Thalib bin Abdul Muththalib, saudara kandung dari ayah Nabi Muhammad, yakni Abdullah bin Abdul Muththalib. Karena wasiat dari ayahnya, Abdul Muththalib pun mengasuh Muhammad yang saat itu masih kecil.
Meskipun saat itu Abu Thalib adalah seorang bapak dari 6 anak dan diceritakan hidup dalam keadaan faqir, tapi beliau tetap mengemban tugas amanah yang diberikan oleh ayahnya, berupa mengasuh Muhammad kecil.
Akan tetapi setelah mengasuh sang Muhammad kecil, kehidupannya yang dulu serba kekurangan dikarenakan dia seorang faqir, mulai berubah sebab mengasuh Muhammad kecil. Bukannya makin kekurangan, malah menjadi orang yang banyak hartanya, dan ini adalah sebab dari keberkahan Nabi Muhammad.
