Zaman sekarang, hampir semua kegiatan kita sehari-hari dipajang di media sosial, termasuk urusan ibadah. Buka Instagram Story atau TikTok sedikit, kita pasti sering melihat foto sajadah dengan latar belakang suara azan subuh, video estetik lagi baca Al-Qur’an, sampai tulisan panjang yang cerita indahnya salat tahajud semalam, misalkan.

Sekarang, batas antara ibadah rahasia kita dengan Tuhan dan sebuah konten media sosial menjadi sangat tipis.

Fenomena ini membuat kita bertanya-tanya: apakah konten ibadah itu dibuat tulus untuk mengajak orang lain berbuat baik, atau memang hanya demi mendapat likes ataupun pujian?

1. Syiar Digital: Menularkan Semangat Kebaikan Melalui Layar Kaca

Kalau kita melihat dari sisi baiknya, membagikan konten ibadah tentu punya manfaat bagi orang yang melihatnya, mungkin orang yang melihatnya bisa termotivasi sebab konten ibadahnya.

Di media sosial yang sering kali penuh dengan konten negatif dan melelahkan, melihat unggahan positif dari teman atau figur publik itu rasanya seperti menyegarkan pikiran. Hal ini menyadarkan kita bahwa masih banyak hal baik yang terjadi di dunia ini.

Ini bisa jadi cara untuk menyebarkan kebaikan agar orang lain ketularan semangat beribadah.

Lagipula, Allah SWT sendiri berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 271:

اِنْ تُبْدُوا الصَّدَقٰتِ فَنِعِمَّا هِيَۚ وَاِنْ تُخْفُوْهَا وَتُؤْتُوْهَا الْفُقَرَاۤءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُم

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.”

Ayat ini menjelaskan bahwasannya menunjukkan amal kebaikan itu boleh-boleh saja, asalkan tujuannya memang baik dan bisa menjadi contoh bagi orang lain.

2. Jebakan Riya’ di Balik Kejar Likes dan Followers

Tapi, tantangan terbesarnya adalah godaan untuk pamer atau riya’. Media sosial memang dibuat untuk kita kecanduan dan ketagihan dipuji orang lewat jempol, komentar, dan jumlah followers. ketika kita klik tombol share, niat awal yang tadinya tulus mau berdakwah bisa melenceng karena ingin dianggap sebagai orang yang saleh atau saleha.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam sudah mengingatkan kita soal bahaya ini dalam sebuah hadits:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ”

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil, Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Yaitu) riya’.” (HR. Ahmad).

Di dunia digital, riya’ ini wujudnya bisa berupa rasa senang dan bangga yang berlebihan waktu para netizen memuji konten ibadah kita. 

3. Menyaring Hati: Menjaga Rahasia Ibadah di Dunia Maya

Makanya, kunci dari masalah ini balik lagi ke cara kita menjaga hati dan niat masing-masing. Kita tidak bisa dan tidak berhak menilai isi hati orang lain yang posting foto ibadahnya, karena urusan niat cuma dia dan Allah yang tahu.

Akan tetapi untuk diri kita sendiri, sebelum posting hal serupa, coba bikin saringan di kepala kita. Tanyakan pada diri kita sendiri: “jika tidak ada kamera yang merekam, apakah saya akan tetap rajin ibadah seperti ini?” jika jawabannya ragu-ragu, mungkin itu tanda kalau ibadah tersebut lebih baik kita simpan sendiri saja.

Kesimpulannya, media sosial itu hanya alat, sedangkan jemari dan niat kitalah yang menyetir semuanya.

Membagikan momen ibadah bisa dapat pahala besar kalau niatnya tulus mengajak orang ke jalan yang baik.

Sebaliknya, hal itu bisa rugi besar jika ada rasa pengen dipuji manusia. Menginspirasi orang lain itu bagus, tapi menjaga hati dari sifat pamer jauh lebih penting.

Mari kita sama-sama lebih bijak untuk menggunakan sosmed. Biarlah ibadah-ibadah terbaik kita tetap jadi rahasia indah antara kita dan Allah, tanpa perlu cari perhatian dari penilaian duniawi.