
PUISI: MATA BUSUK
Jauh dari pelupuk netra,
Pria bertubuh baja berdiri.
Raganya dihiasi tinta hijau,
Kekal, tak luntur terguyur hujan.
Di dekatnya duduk pria paruh baya,
Lusuh, lesu, bak dunianya penuh kesedihan.
Dua pria dengan latar yang berbeda,
Memikul dua kisah yang tak sama.
“Si tubuh raja, entah berapa dosa yang telah dijaga.”
“Si ringkih tua, mungkin tak pernah mengecap syukur di dada.”
Ujarku,
Yang baru selesai memarahi ibu.
—Deren
.
Baca juga puisi kami yang berjudul TIGA DETIK LAGI dan artikel-artikel kami untuk memahami fenomena perkembangan budaya digital lainnya.





















