
Di Eropa sana, Imam Ibnu Nafis dikenal sebagai “Ibnu Sina Kedua”, sebab kepakaran dan karya-karya beliau yang banyak bermanfaat di bidang medis atau kedokteran. Tapi di mata ulama lainnya, Ibnu Nafis merupakan seorang alim dalam segala bidang ilmu, beliau pakar ilmu Fiqih, Ushul Fiqih, Manthiq (logika-filsafat) dan tata bahasa Arab (Gramatika).
Hakim as-Sadid ad-Dimyathi, murid dari Imam Ibnu Nafis, pernah bercerita tentang kehebatan gurunya itu karena tahan berdiskusi hingga menjelang waktu Subuh tiba. Suatu hari, al-Qadhi Jamaluddin bin Washil berkunjung ke rumah Imam Ibnu Nafis. Beliau berdua sepakat akan mengkaji permasalahan-permasalahan fikih yang sering terjadi di masyarakat saat itu (kontekstual).
Setelah menyelesaikan Shalat Isya’, keduanya bergegas mengambil kitab-kitab yang dibutuhkan untuk kajian. Maka, tidak berselang lama, terjadilah diskusi yang sangat mengasyikkan antara dua orang alim tersebut. Satu pembahasan selesai, lalu pindah ke pembahasan lain. Dari satu disiplin ilmu tertentu, kemudian berpindah ke disiplin ilmu lainnya. Begitu seterusnya silih berganti.
Tanpa terasa, malam sudah hampir habis dan ayam-ayam mulai berkokok menandakan waktu subuh hampir masuk. Anehnya, Imam Ibnu Nafis tetap tenang dan sama sekali tidak terlihat ngoyo, apalagi sampai kelelahan. Sedangkan al-Qadhi Jamaluddin sudah tidak kuat merasa kecapekan, sambil menahan matanya yang memerah karena perih menahan kantuk semalam suntuk.
“Kalau saya hanya punya beberapa kitab dan catatan untuk dijadikan rujukan (referensi), sedang engkau memiliki gudang ilmu yang tidak ternilai, wahai syekh.” puji al-Qadhi Jamaluddin melihat ketahanan belajar Imam Ibnu Nafis. Maka, tepat sekali untaian kata bijak berikut ini untuk menggambarkan sosok hebat Imam Ibnu Nafis: “Jika manisnya ilmu Allah telah dicicipi, niscaya ia lupa segala hal tentang duniawi.” Wallâhu A’lam



















