Seseorang pasti akan berafiliasi pada kelompok tertentu, paling tidak ia akan berafiliasi pada kedua orang tuanya atau keluarganya. Afiliasi inilah yang membuat hubungan antar manusia semakin erat dan dekat. Afiliasi semacam ini akan bermanfaat jika dimaknai secara benar, dalam cakupan yang lebih luas misalnya, akan berguna dalam membangun negeri dan membangkitkan jiwa nasionalisme untuk tanah air dan bangsanya.

Akan tetapi jika afiliasi dimaknai dengan dasar egoisme dan merasa yang paling benar, disinilah fanatisme akan bangkit, sehingga akan menjadi malapetaka bagi kehidupan dan peradaban. Dimana perasaan paling benar hanya milik kelompoknya, akan berkembang menjadi perasaan kebencian pada orang lain.

Jika fanatisme ini menempel pada sebuah pemikiran, maka seseorang akan menganggap dirinya, kelompok dan afiliasinya yang paling istimewa, sedankan orang lain dalam pandanganya selalu penuh dengan kekurangan dan kerendahan. Inilah cikal bakal mala petaka yang akan menimbulkan permusuhan dan saling iri dengki dikalangan umat, yang pernah di peringatkan oleh baginda Nabi Muhammad:

دب إليكم داء الأمم قبلكم: الحسد والبغضاء، هي الحالقة، لا أقول تحلق الشعر ولكن تحلق الدين، والذي نفسي بيده لا تدخلوا الجنة حتى تؤمنوا، ولا تؤمنوا حتى تحابوا، أفلا أنبئكم بما يثبت ذلك لكم؟ أفشوا السلام بينكم

“Kalian telah terjangkit virus umat umat sebelum kalian, yaitu virus sifat iri dan kebencian. Sifat ini adalah yang mencukur, aku tidak mengatakan mencukur rambut, akan tetapi mencukur agama. Demi Dzat yang diriku berada didalam genggamannya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga saling mencintai. Maukah aku kabarkan hal yang dapat menguatkan kalian? Sebarkan salam (kedamaian) diantara kalian.” (HR. Imam Ahmad)

Jika masyarakat telah dirobek oleh afiliasi yang sempit, maka disitulah letak kegagalan dan perpecahan. Allah berfirman dalam al-Quran:

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ

“Janganlah kalian berselisih, sehingga kalian gagal dan hilanglah kekuatan kalian…”(QS. Al-Anfal: 46)

Jika seseorang tidak dapat memahami keluasan Islam dan lapangnya Syariat, serta maksud dari wahyu yang mulia, ia pasti akan mempersempit pada orang lain segala hal yang telah diperluas oleh Allah. Tidak berhenti disitu, virus fanatisme akan menimbulkan sifat ghurur atau tertipu dengan perasaan diri sendiri, yang menganggap orang lain telah rusak dan hancur. Padahal Rasulullah bersabda:

إذا قال الرجل: هلك الناس فهو أهلكهم

“Jika seseorang berkata: ‘Semua orang telah rusak’, maka dirinyalah yang sejatinya sedang menghancurkan manusia.” (HR. Imam Muslim)

Hadis ini mempunyai dua makna. Pertama, jika dibaca “ahlakuhum” berarti dialah yang paling rusak, sebab dia hanya sibuk memikirkan kejelekan orang lain dan lupa akan diri sendiri. Atau dalam dirinya telah hinggap sifat ‘ujub atau bangga diri dan menganggap orang lain tidak ada artinya.

Kedua, jika dibaca “ahlakahum mempunyai arti dialah yang telah merusak manusia yang lain. Sebab orang ini telah menyebarkan keputusasaan dalam jiwa orang-orang, sehingga selain dirinya menjadi gagal dan binasa.

Sedangkan afiliasi yang dipilih oleh Allah, yang semestinya setiap orang bangga akannya ialah firman Allah:

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ

Dialah yang telah memberi nama kalian muslimin sejak sebelum itu.(QS. Al-Hajj: 78)

Maka jangan sampai setelah nama yang mulia ini (baca: Islam) pernah terpengaruh dengan afiliasi apapun maupun dengan istilah apapun.

Di masa Rasulullah, beliau memberi julukan untuk para sahabat pribumi dengan sebutan “Anshar”, sedangkan para pendatang beliau sebut dengan “Muhajirin”. Hal itu dilakukannya demi untuk mengenal mereka, dan beliau sering memanggil para sahabat dengan panggilan tersebut.

Namun ketika afiliasi tersebut konotasinya membuat perpecahan dan menumbuhkan fanatisme, maka hal itu sangat dibenci oleh Nabi Muhammad. Syahdan, suatu saat salah seorang sahabat Muhajirin memukul seorang sahabat Anshar. Maka sahabat Anshar ini marah dan memanggil para sahabatnya dengan mengatakan: “Wahai kaum Anshar.” Sedangkan Muhajirin tadi juga tidak mau kalah dengan memanggil sahabat Muhajirin yang lain dengan berkata: “Wahai kaum Muhajirin.” Mendengar kejadian itu Rasulullah marah dan bersabda:

ما هذا دعوى أهل الجاهلية

“Apakah (maksud) panggilan orang-orang jahiliah semacam ini?” (HR. Imam Bukhari)

Rasulullah menganggap panggilan tersebut sebagai panggilan jahiliah, meski sebelumnya beliau menggunakan istilah tersebut. Namun jika akan menimbulkan fanatisme kesukuan dan afiliasi yang sempit, maka itu adalah hal yang sangat dibenci oleh beliau. Semoga Allah senantiasa menyatukan hati kaum muslimin.

Oleh: Al-Habib Hamid bin Ja’far al-Qadri