Saya memiliki cerita singkat sebelum kita memulai pembahasan panjang ini. Mari kita beralih ke cerita Karim dan Oyot.

Mereka berdua adalah penulis. Keduanya telah banyak menulis buku yang cukup digemari dan diminati banyak orang. Itu adalah salah satu kesamaan mereka. Namun, perbedaan mendasar mereka terletak pada dua hal. Yang pertama, kuantitas. Karim telah menulis 7 buku dalam 5 tahun, sedangkan Oyot telah menulis 18 buku hanya dalam 6 bulan saja. Lebih dari dua kali lipat yang ditulis oleh Karim. Lalu, apa perbedaan yang kedua? Perbedaan yang kedua adalah, soul& feel.

Dikatakan oleh Judith, yang diperankan oleh Jenna Augen di teater Nacthland (2024)—sebuah naskah satire komedi hitam yang ditulis oleh dramawan Jerman, Marius von Mayenburg—,”A work of art is only what an artist says. If there is no artist, there is only silence.”

Judith mengatakan bahwa makna dari sebuah karya itu tergantung dengan apa yang dikatakan oleh senimannya. Maka apabila tidak ada seorang seniman, sebuah karya tidak memiliki makna. Hal inilah yang terjadi pada Karim dan Oyot. Karim menulis buku dengan penyertaan jiwa dan rasa yang dihidupkan di setiap pemilihan diksinya. Sehingga para pembaca merasakan eksklusivitas untuk bisa ikut merasakan apa yang ditulis oleh penulis. Berbeda dengan Oyot, yang mampu menghasilkan 2 sampai 3 buku dalam sebulan tanpa perlu menyibukkan dirinya dari memikirkan diksi yang tepat dan menyisipkan rasa yang kuat. Kenapa bisa seperti itu?

Karena Oyot hanya perlu mengetik prompt,dan kemudian, voila!Semuanya selesai.

Jadi, bila salah satu dari kita adalah Oyot, maka jangan pernah bangga dengan tulisan itu. KIta tidak pernah benar-benar menulisnya. Kita hanya ‘dihadiahkan’. Hadiah yang lahir dari sebuah perintah.

Pada hakikatnya kita semua bisa melihat fenomena ini dari berbagai macam sudut pandang:

1. KACAMATA ISLAM: KEJUJURAN INTELEKTUAL (SIDQ)

Tradisi intelektual islam memandang, bahwa menulis bukan hanya aktivitas mekanis, melainkan ibadah yang melibatkan penyucian hati. Sebab, dalam islam, seorang penulis dituntut memiliki sidqatau kejujuran. Karena kejujuran penulis terhadap prosesnya adalah bagian dari integritas agama. Artificial Intelligencememang sering menawarkan keindahan frasa dan bahasa yang artifisial, namun tetap tidak menyentuh bare minimumdari sebuah kebenaran.

Maka, apabila seseorang menulis dengan mengandalkan mesin secara berlebihan, tanpa kontemplasi, kurasi, dan kontribusi jiwa bisa dikategorikan sebagai bentuk ‘penipuan kreatif’, di mana seseorang seolah-olah mengucurkan keringat intelektual untuk sebuah karya yang tidak pernah menjadi bentuk ekspresi batinnya.

2. KACAMATA FILSAFAT: PARADIGMA TO BE & TO HAVE

Bila kita menilik dari kacamata filsafat eksistensialisme, maka perbedaan antara Karim & Oyot terletak pada paradigma ‘to be’(menjadi) versus ‘to have’(memiliki).

  • Penulis sebagai “To be”(Dasein atau di sana):Bagi seorang penulis sejati, menulis adalah proses becoming.Penulis “menjadi” apa yang ia tulis. Proses kreatif adalah laboratorium di mana ia menguji, meragukan dan menegaskan keberadaannya. Ketika Karim menulis dengan jiwa dan rasa, ia sedang mempertaruhkan subjektivitasnya. Ia tidak sekadar memproduksi teks; ia sedang menuliskan dirinya sendiri ke dalam semesta bahasa.
  • Operator sebagai “To have”(Memiliki):Sebaliknya, promptingyang berlebihan berorientasi pada hasil (output). Fokusnya adalah ‘memiliki’ karya yang selesai, bukan untuk ‘menjadi’ seniman. Ini adalah bentuk komodifikasi kreatif—di mana karya seni direduksi menjadi sekadar aset untuk dikonsumsi. Ketika karya tidak lahir dari pergulatan internal, karya tersebut kehilangan akar ontologisnya; ia mengambang, tidak berpijak pada sejarah kehidupan si penulis.

Seorang filsuf asal Jerman, Walter Benjamin, berpendapat bahwa karya seni memiliki ‘aura’ yang bersumber dari keberadaannya di ruang waktu tertentu. Ia berpendapat bahwa eksistensi aura dalam sebuah karya seni tidak tergantikan di mana tempat karya itu berada. Gagasan ini dituliskan dalam esainya yang sangat berpengaruh pada tahun 1936, The Work of Art in the Age of Mechanical Repoduction”.

Oleh karena itu, penggunaan AI untuk menghasilkan tulisan akan menghilangkan keaslian historis dari sebuah karya, menjadikannya komoditas yang hambar.

3. KACAMATA SENI: THE AESTHETIC OF PAIN

Dalam sejarah seni, beberapa karya yang spektakuler—lukisan Van Gogh atau syair Rumi—itu justru lahir dari penderitaan atau ekstase spiritual yang nyata. Seni membutuhkan jarak antara seniman dan dunianya, namun juga membutuhkan kedekatan dengan emosi. Promptmenghilangkan jarak ini.

Mesin jelas tidak merasakan rasa sakit, cinta, kecewa dan duka. Oleh karena itu, tulisan yang dijahit oleh mesin seringkali terlihat ‘terlalu sempurna’ namun ‘tidak menyentuh’.

Bila menyinggung perbandingan kuantitas buku yang ditulis Karim dan Oyot, maka Oyot sedang mengalami hyper productivity.Dunia seni memandang bahwa kualitas berbanding terbalik dengan kecepatan. Ketika Oyot menulis 18 buku dalam rentang waktu yang sangat cepat, mungkin ia sedang terjebak dalam obsesi untuk terus relevan, sementara Karim memilih kedalaman. Kuantitas adalah ukuran pasar, sedangkan kualitas adalah ukuran estetika.

SINTESIS: DEKADENSI KEMANUSIAAN

Masalah inti dari fenomena ini bukan berasal dari alatnya, melainkan atrofi (penyusutan) kapasitas manusia. Bersandar pada promptsecara berlebihan membuat otot-otot refleksi kita melemah dan terbiasa menerima jawaban instan serta lupa cara bertanya pada diri sendiri.

Kita sedang mengalami kematian perlahan; menghilangnya rasa terkejut oleh pikiran sendiri. Tulisan sejati adalah sebuah kejutan—bahkan bagi penulisnya sendiri. Ketika kita tahu apa yang akan dihasilkan oleh AI melalui promptyang kita tulis, maka unsur seni telah mati. Tidak ada lagi pertemuan antara yang tak terduga dan yang direncanakan.

Pada akhirnya, seseorang yang hanya pandai nge-promptsedang membangun perpustakaan yang megah, namun tidak ada penghuni di dalamnya. Ia memiliki 18 buku, tapi ia tidak memliki ‘cerita’ untuk diceritakan, karena ia tidak pernah benar-benar hidup di dalam kata-kata yang ia ‘instruksikan’.

Deren

.

Baca juga artikel lain kami LITERASI RENDAH TIDAK AKAN MENGHANCURKAN INDONESIA! dan artikel-artikel lainnya untuk memahami fenomena budaya digital lainnya.