
Nabi Muhammad ﷺ adalah makhluk yang paling agung dan yang paling dijaga oleh Allah. Memang benar ia diutus sebagai nabi terakhir, akan tetapi pada hakikatnya beliau adalah makhluk pertama yang Allah ciptakan di alam semesta ini, sebelum Allah menciptakan segala sesuatu.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad, yang tertera pada kitab maulid Simthud-Durar:
وَقَدْ أَخْرَجَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِسَنَدِهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، بِأَبِيْ وَاُمِّيْ، أَخْبِرْنِي عَنْ أَوَّلِ شَيْءٍ خَلَقَهُ اللهُ قَبْلَ الْأَشْيَآء. قَالَ: يَا جَابِرُ إِنَّ اللهَ خَلَقَ قَبْلَ الْأَشْيَآءِ نُوْرَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نُوْرِه
Di riwayatkan oleh Abdur-Razzaq, dengan sanad yang sampai kepada Shahabat Jabir bin Abdullah Al- Anshari—semoga Allah meridhai keduanya. Bahwasanya ia pernah bertanya: “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah. Beritahukanlah kepadaku tentangawalsesuatu yang diciptakan Allah sebelum segalanya?” Jawab Rasulullah: “Wahai Jabir, sesungguhnya Allah telah menciptakan Nur Nabi-mu Muhammad, dari Nur-Nya sebelum sesuatu yang lain.”
Begitu pula yang tertera pada maulid Simthud-Durar, hadis yang diriwayatkan oleh Shahabat Abu Hurairah (Abdurrahman bin Shakhr):
: وَقَدْ وَرَدَ مِنْ حَدِيْثِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُنْتُ أَوَّلَ النَّبِيِّيْنَ فِي الْخَلْقِ وَآخِرَهُمْ فِي الْبَعْث
Dan diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Aku adalah yang pertama di antara sekian para nabi dalam penciptaan. Namun yang terakhir ketika diutus menjadi nabi.”
Sebagaimana yang diketahui bersama, bahwa Rasulullah ﷺ adalah anak dari pasangan suami-istri, yakni Sayidina Abdullah bin Abdul Muththalib dan Sayidatuna Aminah. Yang mana ketika sedang didalam kandungan ibunya, ayahandanya wafat di kota Yatsrib (belakangan berganti nama Madinah), disebabkan saat itu kota tersebut sedang terjangkit wabah yang mematikan. Ayahnya sedang berada di sana untuk tujuan berdagang.
Dan ketika Sayidatuna Aminah sedang mengandung Nabi Muhammad ﷺ, ia tidak merasakan rasa sakit maupun terganggu, sebagaimana wnita hamil pada umumnya. Sebagaimana yang dikatakam oleh Sayid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki dalam kitabnya, Tarikhul-Hawadits wal–Ahwal an-Nabawiyah:
و لم تجد أمه لحمله ثقلا و لا وحماً
“Dan ibunda Nabi Muhammad ﷺ (Sayidatuna Aminah Az-Zuhriyah), sama sekali tidak merasakan beban berat ketika sedang mengandung baginda Nabi Muhammad ﷺ.” (halaman: 7)
Adapun masa didalam kandungan, ulama masih berikhtilaf. Ada yang mengatakan 9 bulan, ada pula mengatakan selama 7 bulan, dan ada yang selama 6 bulan. Akan tetapi pendapat yang mengatakan 9 bulan adalah yang lebih masyhur, sebagaimana dikatakan oleh Sayid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki dalam bukunya tadi, Tarikhul-Hawadits wal–Ahwal an-Nabawiyah:
و اختلف في مدة الحمل به ﷺ فقيل: تسعة أشهر وهو المشهور و قيل سبعة و قيل ستة
“Para ulama berikhtilaf didalam masa kehamilan Sayidatuna Aminah. Ada yang mengatakan selama 9 bulan, atau 7 bulan, dan 6 bulan. Adapun 9 bulan adalah pendapat paling masyhur.” (halaman: 8)
Sebagaimana yang diketahui bersama, bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan pada hari Senin, bulan Rabi’ul-Awal, pada Tahun Gajah (‘amul-fil). Sementara tentang tanggal pastinya, ulama ikhtilaf lagi. Ada mengatakan tanggal 2 Rabi’ul-Awal, ada yang 8 atau 9, dan ada pula yang tanggal 12.
Ini seperti dikataka oleh Sayid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki dalam kitabnya, Tarikhul-Hawadits wal–Ahwal an-Nabawiyah:
وُلِدَ ﷺ يَوْمَ الإثنين في شهر ربيع الأول مِن عَامِ الفيل,قيل ثانيه و قيل ثامنه و قيل تاسعه و قيل ثاني عشره وهذا هو المشهور
“Nabi Muhammad dilahirkan pada hari Senin, di bulan Rabi’ul-Awal, di Tahun Gajah. Ada yang mengatakan nabi dilahirkan pada tanggal 2, ada yang mengatakan tanggal 8, ada yang mengatakan pada tanggal 9, ada yang mengatakan pada tanggal 12. Namun kebanyakan ulama memilih tanggal tersebut, yakni pada tanggal 12 Rabi’ul-Awal.” (halaman: 7)
Dan disaat nabi dilahirkan, banyak sekali kejadian yang tidak biasa, bahkan mustahil terjadi pada manusia pada umumnya. Diantaranya adalah ketika dilahirkan, ia dalam keadaan sudah di sunat dan tali pusarnya sudah terpotong.
Diantaranya pula, ketika dilahirkan ada cahaya yang besinar dari kota Makkah hingga menyinari istana-istana di negeri Syam (saat ini meliputi wilayah Suriah, Yordania, Lebanon dan Palestina).
Dan masih ada beberapa hal lainnya yang terjadi ketika malam kelahiran baginda Nabi Besar Muhammad ﷺ, yang jelas hal tersebut semakin menguatkan bukti bahwasanya Nabi Muhammad merupakan utusan Allah.
Adapun frame ikhtilaf para ulama di sini bukan disebabkan oleh ketidak-sempurnaan agama ini, melainkan sebaliknya. Hal tersebut justru menunjukkan kesempurnaan akan agama ini.
Wallahu A’lam bish-Shawab.



















