Sejak masa kecil dulu, kita pasti ingin tahu rahasia kenapa rumah Shahabat Abu Ayyub menjadi tempat singgah dan tempat tinggal Rasulullah saat pertama kali sampai di Madinah al-Munawarah pasca hijrah? Begini fakta dan hikmah dibalik peristiwa istimewa sekaligus bersejarah tersebut.

Sebelum lahirnya Rasulullah, di kawasan Yaman terdapat seorang raja bernama Sa’ad bin Ma’di Karib, panggilannya “Tubba” (bermakna: punya banyak pengikut), karena ia memiliki pasukan yang banyak sekali. Dia menaklukan banyak negeri, dan menyimpan orang kepercayaannya sebagai wakil.

Dia juga berhasil menaklukan Yastrib (nama kota Madinah kuno), dan menempatkan salah seorang anaknya sebagai wakil disana. Suatu waktu, anaknya tersebut terbunuh oleh orang tidak dikenal. Tubba pun marah dan menyerang kota Yastrib.

Ketika perang berkecamuk, muncul tujuh orang Ahlu Kitab yang meminta Tubba agar menghentikan niatnya menghancurkan Yastrib, sebab kota itu merupakan tempat hijrahnya Nabi Akhir Zaman. Siapapun yang berniat menghancurkannya pasti akan binasa.

Tubba percaya ucapan mereka dan menghentikan peperangan. Tubba kemudian memeluk agama Ahlu Kitab dengan iman yang teguh. Ia juga mengunjungi Makkah dan memberi Kiswah pada bangunan Kakbah.

Tubba bertanya: “Apakah Nabi Akhir Zaman akan muncul selagi aku masih hidup?”

Ahlu Kitab menjawab: “Tidak. Nabi Akhir Zaman akan muncul beberapa generasi kemudian setelah kematianmu.”

Tubba akhirnya menulis surat, yang menyatakan bahwa dirinya adalah seorang Muslim dan beriman kepada Nabi Akhir Zaman yang disarankan para Ahli Kitab tadi. Ia memberikan salinan surat tersebut kepada 10 orang yang tinggal di kota Madinah, dan menunjuk Zaid bin Kulaib sebagai pemimpin.

Tubba mewasiatkan untuk menyampaikan surat tersebut, bila Nabi Akhir Zaman itu (yakni Rasulullah) tiba di kota Madinah. Namun kesepuluh orang tersebut kesemuanya tidak sempat menjumpai masa hijrah Rasulullah ke Madinah, sehingga wasiat Tubba diamanahkan kepada keturunan masing-masing.

Ketika Rasulullah telah tiba di kota Madinah, semua kabilah meminta beliau agar tinggal di rumah mereka, atau paling tidak di kampung mereka. Namun Rasulullah menolak halus, dan memutuskan akan tinggal di mana untanya berhenti.

Ternyata unta Rasulullah tersebut berhenti di distrik Bani Malik bin Najjar (masih terbilang kampung keluarga Rasulullah dari pihak misan ayahandanya, Sayyid Abdullah), tepat di depan rumah kepala sukunya yang bernama Khalid. Shahabat Khalid inilah yang belakangan dikenal sebagai Abu Ayyub Al-Anshari, adalah putra dari Zaid bin Kulaib, pewaris utama dari pemimpin para pemegang wasiat Tubba.

Shahabat Abu Ayyub al-Anshari lalu menunjukan surat Tubba yang ditulis puluhan tahun lalu, yang ia terima dari ayahnya kepada Rasulullah secara langsung. Nabi Muhammad terkesima dan amat terkesan, serta mendoakan Tubba. Maha Besar Allah dengan segala bentuk takdir-Nya yang dibalik itu pasti menyimpan rahasia yang agung nan luar biasa.

Dan seperti yang kita tahu, Rasulullah tinggal di rumah mulia Abu Ayyub, hingga pembangunan masjid dan tempat tinggal Rasulullah selesai dibangun. Semoga Allah senantiasa merahmati seluruh Shahabat Nabi Muhammad. Amin…

(Referensi: Kitab Qishashul-Anbiya, karya Syaikh Nashiruddin ar-Rabghuzi, hal: 234)