
Beliau adalah imam mazhab kita, atau yang lebih familiar kita dengar sebagai Imam asy-Syafi’i. Selama ini, tidak ada seorang pun yang meragukan keilmuan beliau. Bisa dibilang, masa kehidupan Imam asy-Syafi’i adalah masa emas perkembangan keilmuan Islam. Sebab saat itu banyak ulama besar yang mengaji langsung kepada beliau.
Al-Qadhi ‘Iyadh bercerita dalam kitab al-Ilmâ’ ilâ Ushulir-Riwâyah wa Taqyîdis-Simâ’, bahwa Imam asy-Syafi’i sebenarnya sangat kreatif mengatur waktu untuk aktivitas harian beliau. Saat hari mulai petang, biasanya Imam asy-Syafi’i akan menutup rapat pintu rumahnya. Beliau lalu berwudhu’, merapikan tampilan fisik, untuk kemudian konsentrasi beribadah.
Dalam kesehariannya, Imam asy-Syafi’i membagi waktu malam menjadi tiga: sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk mengerjakan shalat sunnah, dan sepertiga terakhir untuk istirahat merehatkan badan. Jika durasi malam hari dihitung sejak jam 07.00 WIS (Isya’ awal), maka Imam asy-Syafi’i biasa menulis kitab mulai jam 07.00 WIS hingga jam 10.00 WIS.
Kemudian pada jam 10.00 WIS hingga jam 01.00 WIS, Imam asy-Syafi’i melakukan shalat malam. Lalu tidur mulai dari jam 01.00 WIS sampai jam 04.00 WIS. Pas di jam 04.00 WIS bangun tidur, mandi, mempersiapkan diri untuk menyambut rutinitas Shalat Shubuh dengan berjamaah di masjid. Hal ini beliau lakukan secara kontinu hingga wafat.
Kalau kita pikir-pikir, jadwal aktivitas malam hari Imam asy-Syafi’i ternyata normal dan sangat sederhana. Ini berarti kita juga bisa menerapkan jadwal malam beliau dalam keseharian kita. Tapi, pertanyaannya sekarang, mengapakah Imam asy-Syafi’i bisa menjadi ulama besar yang disegani keilmuannya?
Jawabannya insyaallah, karena Imam asy-Syafi’i melakukan aktivitas mulia tersebut secara kontinu (istiqâmah), dengan harapan ridha Allah sebagai tujuan utama. Seakan tak ada durasi malam selain hanya untuk beribadah. Semoga kita juga ditakdir oleh Allah bisa konsisten beribadah seperti yang dilakukan beliau. Amin…



















