
Bagi seorang santri, memakai sarung bukan cuma soal milih pakaian harian, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup mereka yang sulit untuk dipisahkan. Kain sarung seperti menjadi pengingat kuat antara santri zaman sekarang, dengan cara hidup para kiai dan ulama zaman dulu yang terkenal saleh, zuhud, dan istikamah.
Ketika seorang santri memakai sarung, otomatis hati dan pikirannya langsung ingat pada suasana ibadah, waktu muraja’ah dan suasana masjid yang tenang. Pakaian yang sangat simpel ini punya kekuatan unik untuk menahan diri dari perilaku buruk, karena seorang santri pasti merasa sangat malu kalau mau nakal atau bersikap sombong saat kain sarung masih melekat di badannya.
Kehidupan para ulama terdahulu memang sangat jauh dari kata mewah, mereka lebih suka hidup sederhana, dan selembar kain sarung sukses mewujudkan nilai baik itu di tengah dunia modern sekarang. Di dalam barisan shalat berjamaah atau di area pondok, kain sarung terbukti ampuh menghapus perbedaan dalam status sosial. Seperti misalnya seorang gus (putra kiai) dan santri biasa, akan terlihat sama rata tanpa ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain.
Selain melatih sifat rendah hati (tawadhu), kebiasaan bersarung ini juga menyambung tradisi mulia para ulama di Kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Di sana, para habaib, kiai dan pencari ilmu menjadikan sarung (yang mereka sebut izaar) sebagai pakaian harian utama. Bagi mereka, sarung adalah simbol kesucian adab, kebersihan hati dan gaya hidup zuhud yang diwariskan turun-temurun sejak zaman salaf demi menjaga kekhusyukan.
Model sarung yang longgar juga membuatnya sangat nyaman dipakai, untuk mendukung jadwal pesantren yang padat dari subuh sampai malam. Sarung memberikan ruang gerak yang bebas dan rasa nyaman yang luar biasa, ketika santri harus duduk bersila berjam-jam mendengarkan pengajian kitab kuning dari sang guru.
Rasa nyaman ini bikin tubuh jadi lebih rileks, sehingga santri bisa lebih fokus dan khusyuk saat beribadah atau waktu setoran hafalan (muhafadzah). Dengan segala kebaikannya, sarung bukan lagi sekadar kain penutup aurat, tapi sudah jadi identitas santri agar tetap hidup membumi.
Jadi, setiap kali santri merapikan sarung di pinggangnya, mereka sebenarnya sedang menjaga warisan sejarah yang sangat berharga. Mereka sedang menata niat dalam hati, untuk mencari berkah dan meniru jalan hidup ulama terdahulu yang ikhlas dan selalu dekat dengan Allah.
Melalui kebiasaan sederhana yang dijaga turun-temurun ini, karakter santri dibentuk menjadi pribadi yang punya sopan santun (akhlakul-karimah) yang tinggi dan tidak mudah ikut-ikutan tren luar yang negatif. Pada akhirnya, sarung menjadi bukti nyata, bahwa kesederhanaan yang dibalut rasa takwa, justru terlihat sangat indah dan mulia.



















