
Benarkah rasulullah berdakwah demi kepentingan pribadi? Nabi Muhammad merupakan contoh paling baik dalam segala hal, terutama segi dakwah menyebarkan agama Islam. Nabi Muhammad berdakwah tidak pernah terbesit dalam pikirannya ingin mendapat pujian, jabatan, maupun kekuasaan. Akan tetapi Rasulullah berdakwah murni hanya untuk Allah.
Suatu hari Nabi Muhammad didatangi para tokoh Quraisy, mereka menawarkannya kedudukan, kekuasaan dan berbagai macam hadiah lainnya, sebagai ganti supaya Nabi Muhammad berhenti berdakwah. Akan tetapi apa jawaban Rasulullah? Beliau sama sekali tidak mengambil tawaran mereka, sebab Nabi Muhammad berdakwah hanya demi Allah.
Di suatu hari lainnya, Nabi Muhammad sempat ditawari kaum Quraisy, yang sebenarnya tidak masuk akal sehat. Apa penawaran kaum Quraisy tersebut? Yakni Nabi Muhammad harus menyembah berhala mereka selama sehari, dan mereka akan menyembah Tuhan Nabi Muhammad pada hari berikutnya. Allah kemudian menjawab hal ini dengan turunnya Surah Al-Kafirun, yang menegaskan tidak adanya kompromi dalam beragama.
Maka sepatutnya bagi setiap orang yang akan berdakwah di jalan Allah, mengikuti tata cara dakwah Nabi Muhammad. Dan tidak sepatutnya bagi seorang da’i yang berdakwah di jalan Allah, akan tetapi mereka berpikiran ingin mendapat hal-hal duniawi dari objek dakwahnya.
Pada zaman sekarang banyak kita lihat orang yang mengaku sebagai da’i, tetapi menjadikan status da’i-nya sebagai profesi tetap. Padahal pada dasarnya berdakwah wajib bagi setiap mereka yang berilmu, dan tidak sepantasnya menjadikan hal tersebut sebagai pekerjaannya. Orang yang seperti ini jelas tidak mengikuti Nabi Muhammad dalam ber dakwah.
Ada maqalah mengatakan, bahwasanya manusia paling buruk ialah da’i yang menginginkan duniawi dari hasil dakwahnya, sementara yang menjadi objek dakwahnya merupakan orang yang menginginkan akhirat bagi dirinya. Maka sepatutnya bagi mereka yang telah terjerumus dalam hal negatif tersebut, untuk kembali kepada jalan yang benar.
Maka ingatlah wahai para pendakwah agar terus berada di jalan Nabi Muhammad, jangan tergoda dengan rayuan dan bujukan setan, karena sesungguhnya Allah berfirman dalam al-Quran:
وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيٌْ
“…dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” (QS. Al-Baqarah: 168)
Yang artinya jangan pernah mau mengikuti jejak langkah setan, karena sejak dahulu kala setan merupakan musuh yang nyata. Oleh sebab itu semoga Allah memberi taufiq dan hidayah serta inayah kepada kita semua. Amin Ya Rabbal-Alamin.



















