“Literasi buruk tidak menyebabkan kehancuran suatu bangsa!.”
Bagaimana respon Anda bila mendapatkan perkataan ini dari lawan bicara Anda? Apa yang akan Anda katakan kepadanya?
Pasti kita pernah mendengar orang mengatakan, bahwa literasi rakyat Indonesia berada di peringkat yang sungguh memprihatinkan. Kemudian mereka mulai mengaitkannya dengan pola kehancuran suatu bangsa, bukan? Tapi bagaimana bila saya katakan kalau bangsa ini tidak akan hancur, meskipun generasi saat itu ternyata sudah tidak memiliki minat bacanya sama sekali? Izinkan saya menjelaskannya pada tulisan ini.
HIPERBOLA KAUSALITAS
Literasi yang rendah tidak menyebabkan suatu bangsa mengalami kehancuran. Asumsi bahwa tanda-tanda kehancuran suatu bangsa adalah dengan melemahnya minat baca rakyatnya, merupakan bentuk dari hiperbola pada hukum kausalitas.
Apakah karena semangat baca rakyat yang menurun atau bahkan tidak ada sama sekali, mampu menghancurkan sebuah negara? Maka dengan mantap saya katakan, “Tidak!”.
Negara kita yang sangat luas ini—Sabang sampai Merauke—tidak akan tenggelam hanya sebab meningkatnya rasa acuh masyarakat terhadap minat baca. Bangsa ini tidak akan hancur, hanya mundur. Lagipula siapa peduli terhadap kemunduran? Toh, benua Australia masih sangat jauh dari daratan kita. Negara ini tidak akan terbentur dengan daratan Australia sebab kemunduran tadi. Kalaupun daratannya akan mundur, maka tetap akan kalah cepat dengan kemunduran kualitas masyarakatnya. Siapa peduli? Kita masih hidup!.
KEBOHONGAN COGNITIVE LAZINESS
Trend pinjol dan judi online, sedang marak terjadi di kalangan masyarakat kita. Banyak yang tergiur mendapatkan pinjaman uang dengan nominal besar secara instan, tanpa memikirkan dampak jangka panjangnya. Bahkan untuk membaca ‘Syarat & ketentuan’ saja mereka enggan. Anda mungkin akan berpikir, “Mengapa mereka berani mengambil risiko yang jauh lebih besar dari yang didapatkan sekarang?”, bukan?
Percayalah, justru kebingungan Anda yang perlu dipertanyakan!
Siapa memangnya yang bisa menolak tawaran uang dengan nominal yang fantastis secara instan? Peduli apa dengan syarat & ketentuan itu? Toh, yang terpenting adalah mereka bisa merasakan kaya, meskipun rumahnya nanti tergadai. Karena gengsi jauh lebih penting untuk dipertahankan dibanding aset masa depan.
Bahkan bila mereka menerima berita dari Whatsapp mengenai sesuatu yang ternyata tidak diketahui validitas kebenarannya atau parahnya, berita tersebut disuarakan oleh sumber media yang tidak kredibel, aksi yang mereka prioritaskan adalah share kepada semua orang, meskipun mereka tidak melakukan riset terhadap berita itu. Sebab yang terpenting ialah sentimen personal daripada data faktual.
Jangan katakan mereka mengidap Cognitive Laziness atau kemalasan kognitif. Mereka hanya melakukan mitigasi berita yang jauh lebih cepat, daripada harus riset data yang begitu merepotkan.
KESIMPULAN: JUST BE BEBAL TO EVERYTHING!
“Tetaplah menjadi bebal”. Peganglah prinsip ini kuat-kuat!
Bila Anda menemukan artikel dengan judul yang click bait & rage baiting, maka Anda tidak perlu untuk membaca keseluruhannya. Cukup baca judulnya saja. Sulutkan amarah Anda pada kolom komentar, atau buat framing tentang artikel yang Anda baca. Anda akan terlihat lebih ‘kritis’ dengan tempramen itu, tanpa perlu mengevaluasi diri dan introspeksi yang mendalam.
Dengan begini Anda sadar, bukan? Bahwa literasi yang rendah tidak akan menghancurkan suatu bangsa. Negara ini akan tetap berdiri dengan kokoh. Kita hanya akan dijajah isi kepalanya, dieksploitasi tenaganya dan dijadikan tontonan gratis di atas panggung peradaban dunia. Banggakah Anda dengan prestasi itu?
Bayangkan betapa asyiknya kita menjadi badut Internasional yang mudah diadu domba? Banyak drama yang akan kita mainkan nanti.
Jadi, mau mulai tingkatkan literasi hari ini, atau menunggu untuk dibohongi lagi esok hari?
.
—Deren
.
🔴Artikel di atas hanyalah rage baiting dari kritik terhadap literasi masyarakat akhir-akhir ini
🟡Selamat, Anda mencapai batas dari artikel dan berhasil menambah literasi Anda!
.
Baca juga artikel lain kami BACA SEMUA BUKU ITU BODOH! dan artikel-artikel lainnya untuk memahami fenomena budaya digital lainnya.
