Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia kembali mengibarkan bendera merah putih. Di jalan-jalan, di halaman sekolah, pesantren, kantor, kampung, hingga pelosok desa, lagu-lagu perjuangan diperdengarkan. Upacara digelar, perlombaan diselenggarakan, dan berbagai ucapan tentang kemerdekaan memenuhi ruang publik.
Namun, di balik semua perayaan itu, ada satu pertanyaan yang sebenarnya layak kita renungkan lebih dalam: apa makna kemerdekaan bagi rakyat yang hari ini masih merasa tertekan oleh kebijakan, kesulitan ekonomi, ketidakadilan, atau perilaku sebagian penguasa yang justru terasa seperti menjajah bangsanya sendiri?
Pertanyaan semacam ini bukan berarti kita tidak menghargai kemerdekaan. Justru sebaliknya. Mengkritisi keadaan negeri adalah salah satu bentuk kepedulian terhadap negeri.
Kemerdekaan Tidak Datang dengan Mudah
Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah yang jatuh dari langit. Ia lahir dari perjuangan panjang. Ada orang-orang yang kehilangan harta, keluarga, masa depan, bahkan nyawa. Ada ulama yang menggerakkan umat, santri yang ikut turun ke medan perjuangan, petani yang menyediakan makanan, rakyat kecil yang menjadi mata dan telinga para pejuang, serta para pemuda yang memilih meninggalkan kenyamanan demi mempertahankan tanah air.
Dalam sejarah Indonesia, perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga tidak hanya dilakukan oleh kelompok tertentu. Para ulama dan pesantren mempunyai peran yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjuangan bangsa.
Resolusi Jihad yang digelorakan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, misalnya, menjadi salah satu momentum penting yang membangkitkan semangat umat untuk mempertahankan kemerdekaan. Seruan tersebut kemudian berkaitan erat dengan perlawanan rakyat di Surabaya.
Artinya, kemerdekaan yang kita nikmati hari ini memiliki harga yang sangat mahal.
Karena itu, ketika kita memperingati 17 Agustus, sesungguhnya yang kita hormati bukan sekadar sebuah tanggal. Kita sedang mengenang manusia-manusia yang pernah memilih berkorban agar generasi setelah mereka dapat hidup sebagai bangsa yang merdeka.
Maka, rasanya tidak pantas jika generasi hari ini menganggap kemerdekaan hanya sebagai hari libur atau kesempatan mengadakan perlombaan.
Mengapa Sebagian Rakyat Terlihat Enggan Merayakan?
Belakangan ini kita sering melihat sebagian masyarakat yang tidak lagi terlalu antusias menyambut peringatan kemerdekaan. Ada yang menganggap perayaan kemerdekaan tidak penting. Ada yang memilih diam. Bahkan ada pula yang menyampaikan kritik dengan kalimat, “Merdeka dari siapa?”
Kita tidak perlu terburu-buru menyalahkan mereka.
Bisa jadi di balik sikap tersebut terdapat kekecewaan yang panjang.
Rakyat mungkin merasa bekerja keras tetapi kehidupan semakin berat. Mereka melihat harga kebutuhan meningkat, mencari pekerjaan tidak mudah, sementara pada saat yang sama berita tentang kemewahan sebagian pejabat terus bermunculan. Mereka melihat kasus korupsi, konflik kepentingan, ketidakadilan hukum, serta kebijakan yang terkadang terasa jauh dari kehidupan rakyat kecil.
Dalam keadaan seperti itu, wajar apabila sebagian orang kemudian bertanya: kemerdekaan itu sebenarnya milik siapa?
Pertanyaan tersebut memang pahit, tetapi tidak selalu berarti kebencian kepada Indonesia.
Justru terkadang orang yang paling keras mengkritik sebuah negeri adalah orang yang masih berharap negerinya menjadi lebih baik.
Penjajahan Tidak Selalu Datang dengan Senjata
Sejarah mengajarkan bahwa penjajahan tidak selalu berbentuk tentara asing yang membawa senjata.
Ada bentuk penjajahan yang lebih halus: ketika rakyat tidak mempunyai kesempatan yang adil untuk hidup layak; ketika hukum terasa tajam kepada rakyat kecil tetapi tumpul kepada mereka yang mempunyai kekuasaan; ketika korupsi dianggap sebagai sesuatu yang biasa; ketika jabatan digunakan untuk memperkaya diri; atau ketika kepentingan rakyat dikalahkan oleh kepentingan kelompok.
Jika keadaan semacam itu terjadi, kemerdekaan secara politik memang telah kita miliki, tetapi kemerdekaan dalam arti sosial dan ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah.
Bangsa yang merdeka seharusnya tidak hanya terbebas dari penjajahan bangsa lain. Bangsa yang merdeka juga harus berusaha membebaskan rakyatnya dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan.
Di sinilah makna kemerdekaan menjadi jauh lebih dalam daripada sekadar bebas mengibarkan bendera.
Islam Mengajarkan Amanah Kekuasaan
Dalam perspektif Islam, kekuasaan bukanlah kehormatan untuk dibanggakan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini memiliki pesan yang sangat kuat bagi siapa pun yang memegang kekuasaan.
Jabatan bukan milik pribadi. Anggaran negara bukan uang penguasa. Fasilitas negara bukan hadiah untuk dinikmati sesuka hati. Kekuasaan bukan jalan untuk membangun kerajaan keluarga.
Semua itu adalah amanah.
Dalam tradisi keilmuan Islam, termasuk yang berkembang dalam madzhab Syafi’i, persoalan pemerintahan dan kemaslahatan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari prinsip keadilan. Kekuasaan harus diarahkan untuk menjaga kemaslahatan dan mencegah kerusakan.
Karena itu, mencintai negara tidak berarti harus membenarkan semua tindakan pemerintah.
Seorang Muslim boleh mencintai tanah airnya sekaligus mengkritik pemerintah ketika melihat ketidakadilan.
Bahkan kritik yang disampaikan dengan ilmu, adab, dan niat memperbaiki keadaan jauh lebih baik daripada pujian yang diberikan hanya karena kepentingan pribadi.
Jangan Sampai Rakyat Membenci Negerinya Sendiri
Namun ada satu hal yang juga perlu kita jaga.
Kekecewaan terhadap pemerintah jangan sampai berubah menjadi kebencian terhadap bangsa.
Pemerintah bisa berganti. Presiden bisa berganti. Menteri bisa berganti. Kepala daerah bisa berganti. Tetapi Indonesia tetap menjadi rumah kita bersama.
Jika ada pejabat yang melakukan kesalahan, jangan kemudian seluruh bangsa dianggap salah.
Jika ada koruptor, jangan sampai kita mengatakan negara ini tidak layak dicintai.
Jika ada kebijakan yang tidak adil, kritiklah kebijakannya. Jika ada pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan, kritiklah tindakannya. Tetapi jangan kita kehilangan rasa memiliki terhadap negeri ini.
Sebab Indonesia bukan milik para pejabat.
Indonesia adalah milik seluruh rakyat.
Tanah ini adalah tempat para ulama berdakwah, tempat para santri belajar, tempat para petani bekerja, tempat para guru mendidik, tempat para buruh mencari nafkah, dan tempat jutaan keluarga membangun kehidupan.
Kemerdekaan Juga Tanggung Jawab Rakyat
Kita juga tidak boleh hanya menuntut pemerintah.
Kemerdekaan membutuhkan masyarakat yang bertanggung jawab.
Bagaimana mungkin kita menginginkan negara yang bersih jika masyarakat masih menganggap menyuap sebagai hal biasa?
Bagaimana mungkin kita menginginkan pejabat yang jujur jika kita sendiri memaklumi kecurangan selama menguntungkan diri kita?
Bagaimana mungkin kita menuntut keadilan jika dalam kehidupan sehari-hari kita masih senang merendahkan orang lain?
Kemerdekaan membutuhkan karakter.
Bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang memiliki wilayah dan pemerintahan sendiri. Ia adalah bangsa yang masyarakatnya mempunyai kesadaran untuk menjaga kejujuran, keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab.
Karena itu, memperingati kemerdekaan seharusnya juga menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang sudah saya lakukan untuk negeri ini?
Tidak semua orang harus menjadi pahlawan di medan perang.
Guru yang mendidik dengan ikhlas adalah bentuk perjuangan.
Petani yang bekerja menyediakan pangan adalah perjuangan.
Santri yang belajar dengan sungguh-sungguh adalah perjuangan.
Pedagang yang jujur adalah perjuangan.
Pejabat yang menolak korupsi adalah perjuangan.
Orang tua yang mendidik anaknya dengan akhlak adalah perjuangan.
Bahkan seorang rakyat kecil yang tetap jujur ketika mempunyai kesempatan untuk berbuat curang pun sedang melakukan sebuah perjuangan.
Merah Putih Bukan Sekadar Kain
Ada kalanya kita terlalu sibuk memperdebatkan apakah seseorang mengikuti upacara atau tidak, memasang bendera atau tidak, mengikuti perlombaan atau tidak.
Padahal esensi kecintaan kepada bangsa jauh lebih luas.
Merah putih bukan sekadar kain yang berkibar di depan rumah.
Di baliknya ada darah para pejuang.
Ada air mata ibu yang kehilangan anaknya.
Ada keluarga yang kehilangan ayah.
Ada pemuda yang tidak pernah kembali ke rumah.
Ada ulama yang mengorbankan ketenangan hidupnya.
Ada rakyat kecil yang memberikan apa yang mereka miliki untuk perjuangan.
Karena itu, menghormati merah putih berarti menghormati pengorbanan manusia yang menjadikan kemerdekaan ini mungkin.
Tetapi menghormati perjuangan mereka juga berarti meneruskan cita-cita mereka.
Jangan sampai para pejuang dahulu berperang melawan penjajahan, sementara generasi setelahnya justru menciptakan bentuk ketidakadilan baru.
Kritik Bukan Berarti Tidak Nasionalis
Kita perlu menghilangkan anggapan bahwa orang yang mengkritik pemerintah berarti tidak nasionalis.
Nasionalisme yang sehat bukanlah kepatuhan buta kepada penguasa.
Mencintai bangsa berarti berani mengatakan sesuatu yang benar ketika keadaan memang salah.
Tetapi kritik juga memiliki adab.
Jangan memfitnah.
Jangan menyebarkan berita yang belum jelas.
Jangan menghina pribadi.
Jangan mengadu domba masyarakat.
Jangan pula menggunakan agama untuk membenarkan kebencian.
Kritik harus diarahkan pada perbaikan.
Dalam Islam, amar ma’ruf nahi munkar bukan alasan untuk bertindak semaunya. Ia membutuhkan ilmu, pertimbangan maslahat dan mudarat, serta cara yang tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Dengan demikian, masyarakat memiliki hak untuk mengawasi pemerintah, sementara pemerintah mempunyai kewajiban untuk mendengarkan suara masyarakat.
Negara yang sehat bukan negara yang rakyatnya selalu memuji pemerintah.
Negara yang sehat adalah negara yang pemerintahnya tidak takut terhadap kritik yang benar dan rakyatnya tidak takut menyampaikan kebenaran dengan cara yang beradab.
Merayakan Kemerdekaan dengan Kesadaran
Maka, jika hari ini kita melihat ada sebagian masyarakat yang enggan merayakan kemerdekaan, jangan langsung mencap mereka sebagai tidak nasionalis.
Tanyakan lebih dahulu mengapa.
Mungkin mereka sedang kecewa.
Mungkin mereka sedang merasa tidak didengar.
Mungkin mereka sedang melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan cita-cita kemerdekaan.
Namun kepada mereka yang kecewa pun kita perlu mengatakan: jangan tinggalkan Indonesia hanya karena kecewa kepada penguasa.
Negeri ini terlalu mahal untuk kita tinggalkan secara moral.
Kita boleh kecewa kepada pemerintah, tetapi jangan kecewa kepada cita-cita keadilan.
Kita boleh mengkritik pejabat, tetapi jangan berhenti mencintai rakyat.
Kita boleh menolak kebijakan yang tidak adil, tetapi jangan kehilangan harapan terhadap masa depan bangsa.
Dan kita boleh bertanya tentang makna kemerdekaan, tetapi jangan pernah melupakan mereka yang telah gugur agar kita bisa mengajukan pertanyaan itu dengan bebas.
Penutup: Kemerdekaan yang Belum Selesai
Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah sebuah pencapaian besar. Tetapi membangun masyarakat yang benar-benar adil dan sejahtera adalah perjuangan yang belum selesai.
Para pejuang telah menyelesaikan bagian mereka.
Sekarang giliran kita.
Tugas generasi hari ini bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah asing. Tugas kita adalah melawan kebodohan, korupsi, kemiskinan, ketidakjujuran, ketidakadilan, dan kesewenang-wenangan.
Dan bagi mereka yang diberi amanah kekuasaan, jangan pernah lupa bahwa jabatan memiliki batas waktu, sementara pertanggungjawaban di hadapan Allah tidak mengenal masa jabatan.
Seorang pejabat mungkin dapat mempertanggungjawabkan kebijakannya di hadapan lembaga negara. Tetapi pada akhirnya, setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amanahnya di hadapan Tuhan.
Maka pada peringatan kemerdekaan tahun ini, mari kita tidak hanya bertanya:
“Sudah berapa tahun Indonesia merdeka?”
Tetapi juga:
“Sudah sejauh mana kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh rakyat?”
Dan yang lebih penting lagi:
“Apa yang dapat kita lakukan agar perjuangan para pahlawan tidak berhenti hanya pada upacara, pidato, dan perlombaan?”
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan.
Kemerdekaan adalah tentang menghadirkan keadilan.
Kemerdekaan adalah tentang menjaga amanah.
Kemerdekaan adalah tentang keberanian melawan kebatilan tanpa kehilangan adab.
Dan kemerdekaan yang paling bermakna adalah ketika rakyat dapat hidup dengan bermartabat di tanah airnya sendiri.
Dirgahayu Republik Indonesia.
Merdeka bukan berarti perjuangan telah selesai. Merdeka berarti kita mendapat kesempatan untuk meneruskan perjuangan.
