Eits!Jangan marah dulu, baca dulu sampai akhir!

Pernah enggak kamu nuntasin 10 sampai 15 buku dalam sehari, karena kamu ngerasa lagi produktif banget? Atau pindah genre dari romanceke thriller,terus langsung pindah lagi ke fantasy?Setelah itu uploaddi instagram story,biar dilihat sama teman-temanmu atau mungkin, … ‘crush-mu’?

Tapi kamu tahu enggak, kalau yang kamu lakukan—berpindah-pindah genre dalam sekejap atau membaca banyak buku dalam sehari—itu tanda kalau kamu ‘gak sekeren itu’ atau bahkan aku bisa bilang ‘ga sepintar itu’?

Tenang, semua yang aku katakan bukan hasil dari mimpi, juga bukan untuk menjustifikasi kamu sebagai apapun atau bahkan berusaha menyalahkanmu. Aku hanya memiliki beberapa insightyang ‘mungkin’ bisa bermanfaat untuk kamu dan aku, serta merefleksi kita berdua tentunya. Langsung aja, wahai ‘Si Tukang Pindah-Pindah’, baca sampai habis!.

Gejala Infomania

Pernah ga liat orang yang ngoleksi banyak buku dengan judul yang keren-keren, tapi pas kamu tanya apa esensi dari pembahasan di buku itu, dia ga bisa jawab? Nah, orang yang kamu temuin itu mengidap gejala “Infomania”. Dia terobsesi untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, tanpa pernah mengerti apa sebenarnya yang menjadi topik pembahasannya.

Meskipun istilah ‘infomania’ sendiri bukanlah sindrom medis atau gangguan kejiwaan secara resmi, namun bila kita telusuri dari gejala-gejalanya, seakan itu memanglah penyakit gangguan mental.

Kenapa begitu? Karena mereka memiliki dorongan obsesif dan kompulsif, terhadap informasi yang bahkan mereka sendiri tidak paham akan esensinya dan tidak menyadari hikmahnya.

Ilusi Kompetensi

Kamu perlu tau bahwa otak kita itu licik. Ketika kamu berhasil menamatkan satu buku dengan ratusan halaman, otak akan mengirimkan sinyal kepuasan sehingga membuat kamu merasa seakan-akan menguasai seluruh isi buku tersebut. Padahal otak hanya memindahkan apa yang kamu baca ke memori jangka pendek, yang dalam kurun seminggu saja sudah hilang tak berbekas.

Kamu merasa pintar hanya karena kuantitas buku yang kamu baca, bukan pada kualitas pemahamannya.

Membaca banyak buku tanpa kontemplasi dan jeda untuk mencerna adalah bentuk dari ilusi kompetensi.

Perspektif Ulama

Kalau kamu pikir kritik ini hanya datang dari dunia modern, maka kamu salah besar. Karena sejatinya, sebelum era Instagram Storydan Book-Tokseperti sekarang, para ulama sudah sering mewanti-wanti bahaya membaca dan menuntut ilmu secara serakah, tanpa menggunakan metode yang jelas.

Dalam hal ini, Syeikh Muhammad ‘Awwamah,seorang ulama ahli hadits kontemporer yang sangat dihormati, mengulasnya secara mendalamdalam karyanya, Ma’alimul-’Irsyadiyyah li Shina’ati Thalibil-’Ilmi (Panduan Petunjuk Untuk Membentuk Para Penuntut Ilmu).

Beliau menekankan pentingnya tadrij(bertahap) dan tartib(berurutan) dalam belajar. Menurut pandangan yang disarikan dalam kitab ini, bahwa urutan untuk membaca buku atau mempelajari sesuatu harus dimulai dari yang mendasar atau termudah, biasanya adalah bagian fundamental atau basicdari sebuah bacaan. Baru kemudian perlahan merangkak ke bacaan yang lebih sulit dan kompleks.

“Barang siapa yang mengabaikan ushul—suatu hal fundamental atau dasar—maka dia tidak akan sampai wushul—suatu tujuan dari inti ilmu.”

Syekh Muhammad ‘Awwamah

Mengacak-acak urutan baca—apalagi melompat-lompat genre dan judul buku setiap hari, seperti yang dipamerkan orang-orang di media sosial—hanya akan melahirkan isi kepala yang rancu, bingung dan sok tahu. Beliau memandang ketergesaan menelan buku sebagai musuh utama dari keberkahan dan kematangan ilmu.

Haus Validasi diRuangDigital

Lantas, kamu penasaran ‘kenapa akar trendini malah semakin subur?’ Gadgetmu. Semuanya dari gadget.

Buku tidak lagi menjadi aset intelektual atau jembatan sebuah pemikiran, namun menjadi komoditas berbasis estetika yang sengaja dipertontonkan demi memuaskan dahaga pujian, ego dan validasi dari orang lain. Dorongan kuat untuk memamerkan tumpukan buku atau target bacaan tahunan di Instagram Story,sering kali menjadi kompensasi dari rasa kesepian akut atau perasaan tidak diapresiasi di dunia nyata.

Mereka butuh dopamine hit instan berupa pujian: “Wah, kamu pintar, ya!” atau “Keren banget bacaannya!.”

Namun ironisnya, mereka rela mengorbankan kedalaman berpikirnya, demi sekadar kalimat “penuh” di dunia maya. Padahal dalam dirinya sendiri mereka masih merasakan kekosongan.

Kesimpulan

“To be everywhere, is to be nowhere.”

Seneca

Itu yang dikatakan oleh seorang filsuf Stoik Romawi kuno, Seneca. Bahwa ketika kamu mempelajari atau membaca terlalu banyak hal sekaligus, secara langsung tanpa jeda, maka hakikatnya kamu tidak mempelajari apa-apa, karena otakmu tidak akan mengingat semuanya.

Kecuali, ya, kalau kamu adalah segelintir orang yang diberikan miracleatau karunia dari Tuhan, berupa spektrum kognitif superior dengan IQ di atas rata-rata, yang punya kecepatan pemrosesan informasi luar biasa—itu cerita lain. Tapi bagi kita, membaca secara ugal-ugalan, justru bisa merusak esensi dari ilmu itu sendiri.

Membaca buku itu baru bisa dibilang hebat, bila kamu berhasil menghubungkan titik demi titik informasinya, hingga membentuk sebuah kebijaksanaan yang merubah perilakumu. Tapi kalau cuma untuk gaya-gayaan di media sosial dan perilakumu masih nol, atau saat diajak diskusi kritis malah zonk,ya, … maaf-maaf saja, premis di judul ini berlaku untukmu!

Jadi, berhentilah jadi “Si Tukang Pindah-Pindah”. Tutup dulu bukumu, renungkan apa yang baru kamu baca hari ini. Kemudian tanyakan pada dirimu sendiri, “Apa yang benar-benar sudah mengubah cara berpikirku hari ini?.”

Deren

.

Baca artikel kami Do’a tidak akan menyelesaikan masalahmu! dan juga artikel lainnya untuk memahami fenomena perkembangan budaya digital lainnya.