وَعَينُ الرِضا عَن كُلِّ عَيبٍ كَليلَةٌ  #  وَلَكِنَّ عَينَ السُخطِ تُبدي المَساوِيا
وَلَستُ بِهَيّابٍ لِمَن لا يَهابُني   #  وَلَستُ أَرى لِلمَرءِ ما لا يَرى لِيا
فَإِن تَدنُ مِنّي تَدنُ مِنكَ مَوَدَّتي  #  وَإِن تَنأَ عَنّي تَلقَني عَنكَ نائِيا
كِلانا غَنيٌّ عَن أَخيهِ حَياتَهُ  #  وَنَحنُ إِذا مِتنا أَشَدُّ تَغانِيا

PENJABARAN & PENJELASAN:

Bait-bait yang diutarakan oleh Imam Syafi’i ini ternyata dikutip dari Abdullah bin Mu’awiyah bin Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib (Lihat dalam kitab Zahrul-Adab). Ia menyebutkan bahwa mata atau pandangan pecinta tidak akan melihat terhadap keburukan orang yang dicintainya.

Begitupun sebaliknya, mata pembenci hanya akan selalu melihat terhadap kesalahan dan keburukan orang yang dibencinya.

وَعَينُ الرِضا عَن كُلِّ عَيبٍ كَليلَةٌ  #  وَلَكِنَّ عَينَ السُخطِ تُبدي المَساوِيا

“Mata kasih akan buta dari melihat ‘aib/keburukan. Akan tetapi, mata kebencian justru akan menampakkan semua keburukannya.”

Apabila engkau mencintai seseorang dan merasa nyaman bersamanya, maka kamu tidak akan pernah memandangnya kecuali hanya terhadap semua keindahan dari perkataan dan perbuatannya saja. Namun, bila engkau membenci seseorang atau orang ini yang membencimu, maka matamu tidak akan memandang kebaikannya. Justru semua kebaikan yang dia perbuat hanya akan terlihat sebagai keburukan.

وَلَستُ بِهَيّابٍ لِمَن لا يَهابُني   #  وَلَستُ أَرى لِلمَرءِ ما لا يَرى لِيا

“Aku tidak segan kepada orang yang tidak menghargaiku. Dan aku tidak berlaku kepada seseorang kecuali sama seperti yang dia perlakukan kepadaku.”

Sesungguhnya aku (Imam Syafi’i) adalah orang yang menghargai diriku sendiri (percaya diri) dan tidak memedulikan orang yang tidak segan (menghargai) kepadaku. Itu bila dia memandangku dengan tanpa pandangan kasih dan penghormatan. Aku tidak memandang hak seseorang, sama seperti ia yang tidak memberikan hak terhadapku, terserah apapun jabatan atau posisi yang dimilikinya.

فَإِن تَدنُ مِنّي تَدنُ مِنكَ مَوَدَّتي  #  وَإِن تَنأَ عَنّي تَلقَني عَنكَ نائِيا

“Apabila kamu mendekat kepadaku, maka kasihku pun akan mendekatimu. Dan bila kamu menjauh dariku, maka kau kan temukan aku juga jauh darimu.”

Perhatikan ini, kawan! Apabila engkau mendekatiku dengan perilakumu yang baik dan dengan kasihmu yang tulus, maka engkau akan melihat bahwa kasihku pun akan menghampirimu. Namun, bila engkau menjauh dariku sepenuhnya dan mengucilkanku, maka aku akan melakukan hal yang sama terhadapmu. Maka dalam hal ini, kita sama (seimbang).

كِلانا غَنيٌّ عَن أَخيهِ حَياتَهُ  #  وَنَحنُ إِذا مِتنا أَشَدُّ تَغانِيا

“Sejatinya, kita berdua saling tidak membutuhkan bantuan saat masih hidup. Dan bila kita berdua telah tiada, maka akan semakin tidak membutuhkan lagi.”

Sesungguhnya aku (Imam Syafi’i) tidak membutuhkan bantuan dari seseorang (teman) yang tidak memahami makna persahabatan yang sejati dan persaudaraan yang tulus, selama kami berdua masih hidup. Maka apabila kematian telah mendatangi kami berdua—yang memang menjadi akhir dari kehidupan ini—, maka ketika itu terjadi, ketidakbutuhan kami terhadap satu sama lain akan semakin meningkat. Sebab, tidak ada manfaat yang bisa diharapkan ketika kami telah dipisahkan untuk selamanya.

PELAJARAN

Pesan yang disampaikan oleh Imam Syafi’i lewat syair tersebut ialah tentang kebutuhan resiprokal (timbal balik) dalam kehidupan sesama manusia. Beberapa nilai yang dapat kita petik, sebagai berikut:

  1. Nilai ‘Izzahatau HargaDiri: Imam Syafi’i berpesan bahwa harga diri adalah nominal yang sangat berharga yang dimiliki oleh manusia. Ketika seseorang berani untuk tidak mengindahkan nilai tersebut pada orang lain, maka sejatinya ia sedang merendahkan nilai dirinya sendiri.
  2. Bias Emosional:Disampaikan dalam bait awal, bahwa mata pembenci hanya akan melihat keburukan orang lain saja dan ironisnya, ia akan menganggap semua kebaikan orang lain menjadi keburukan. Sedangkan mata pecinta akan buta dari segala keburukan yang diperbuat orang yang dicintainya.
  3. Keadilan dalam Sikap:Syair ini mengajarkan kita untuk tidak mudah memberikan loyalitas dan pengertian kita kepada orang yang bahkan tidak mengenal apa itu ketulusan dan kasih sayang.
  4. Bersikap Adil ke Siapapun:Perlakukan semua orang dengan standar etika yang sama. Jangan membedakan siapa yang perlu dihormati atau tidak hanya dengan melihat dari pangkat, jabatan dan status sosialnya.

Referensi Kitab Syarh Diwanil-Imam asy-Syafi’i lil-Mahmud Biju

Baca juga artikel kami tentangDemi Views & Likes, Netizen rela menjual rasa maluuntuk memahami fenomena perkembangan budaya digital lainnya.