
PUISI SETARA
Buta netraku dari burukmu
Kausa rasaku menghadangi tatapnya
Dan meradang pandangmu terhadapku
Buat burukku amat tampak dari mata
Seganku takkan hadir tuk menyapa
sesiapa yang busungkan dada bak serama
Kadar laku yang terlukis di gerakku
Setara bagaimana kau hibahkan atma wajahmu
Jarak daku dan dirimu itu tak tentu
Kau ‘kan tuai apa yang t’lah kau tanam
Sejengkal antara kita bila kau merengkuh
Karamkan saja aku bila kau perlu ku ‘tuk hilang
Suakaku tak bersamamu hakikatnya
Begitu pula butuhmu yang tak berjasad di punggungku
Itu bila napas kita masih meraba rongga
Dan ‘kan kian asing tak berpinta
Saat semuanya kaku dan tak bernyawa.
—Deren
Sanduran Diwan Imam Syafi’i
Baca juga artikel kami tentangDEMI VIEWS & LIKE, NETIZEN RELA JUAL RASA MALUuntuk memahami fenomena perkembangan budaya digital lainnya.




















