PUISI: DUNIA DUA, DUA DUNIA
Karya Deren

Nafasnya tertegun kala itu
Kaos putih kusutnya yang dibasahi peluh
Kerahnya tipis melonggar
Memperlihatkan sebagian dadanya yang berornamen rusuk dan beberapa tahi lalat

Sinar mentari menyeringai
“Pukul tiga sore”, ujar kusir kuda besi berjirah hijau
Ia menunduk, melihat sendalnya yang berlumut
Termenung di trotoar, lalu memandang langit, menatap awan

Coklat gelap kulitnya membawa cerita
Seperti dia mengalami semuanya setiap hari
Kurus, lemah, renta
Namun kuat memikul lingkaran pahatan batu yang ia tawarkan ke ibu-ibu

Di sampingnya, sebungkus nasi masih terikat
Malaikat memberikannya seusai sholat
Ia menghitung kembali batu-batu cekung yang dipikulnya
“Masih delapan, ya?”, sambil berkaca-kaca

Bayangan semakin memanjang
Ia berdiri, mengangkat batu-batu yang terikat dengan bambu
Caping ia kenakan
Dan ia berjalan pulang, dengan sesenggukan

Ribuan langkah mengeraskan tapak
Tiba ia di depan pintu rumahnya
Papan kayu tipis dengan banyak coretan balita
Ditambal beberapa kardus yang mulai melapuk
“Assalamualaikum, bapak pulang”.

Pintu terbuka
Dua anak perempuan dengan wajah berlukis kebahagiaan menyambutnya
Di belakang mereka, wanita paruh baya terlihat menutup mata
Namun ikut tersenyum lebar menyambut kepulangannya

Dia istrinya
Sosok yang terus mendampinginya
Meskipun tak pernah melihat bagaimana rupa dunia
Namun bisa menciptakan dunia bagi keluarga kecilnya

“Sudah makan?”, ia tanyakan ke peri-peri kecilnya
“Belum, pak”, polos sang bungsu menjawab
Ia keluarkan bungkus nasi pemberian
“Ini, dimakan. Bapak sudah makan.”

Dua peri itu melompat kegirangan
Mereka santap dengan lahap dan senang
“Masih delapan, Bu. Maaf ya”, ujarnya di samping istrinya
Sang istri tersenyum
“Tidak apa, asal mereka tetap dua.”

PUISI: DUNIA DUA, DUA DUNIA
Karya: Deren