
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwasanya Nabi Muhammad adalah makhluk yang agung. Dan kita ketahui pula, bahwasanya beliau dilahirkan dalam keadaan tidak mempunyai sosok seorang ayah. Lantas mengapa orang yang disebut sebagai kesayangan tuhan, akan tetapi tidak diberikan sosok ayah didalam hidupnya?
Padahal kita sering melihat di zaman sekarang ini, orang yang tidak memiliki sosok bapak dalam hidupnya (yatim), kebanyakan dari mereka menjadi orang yang stres dan tanpa arah, disebabkan banyaknya tanggungan serta beban yang dipikulnya yang belum pantas ia jalani di umurnya tersebut.
Lantas apakah label kesayangan tuhan yang melekat pada diri Nabi Muhammad hanyalah sesuatu yang palsu? Bagaimana mungkin seorang yang disebut sebagai makhluk yang paling dicintai Sang Khaliq, malah diberi cobaan yang begitu besar? Apakah ada orang yang mencintai sesuatu, akan tetapi ia malah memberikan sesuatu yang tidak enak kepada orang yang ia cintai!?
Padahal jika ada seorang suami yang sangat sayang kepada istrinya, apakah mungkin sang suami membiarkan istrinya tersebut menderita? Tentu saja tidak akan, sang suami pasti mencari cara supaya istrinya tersebut tidak menderita. Lantas bagaimana dengan Nabi Muhammad, seorang yang sangat dicintai oleh tuhannya ternyata diberi cobaan yang sangat berat?
Apakah aslinya tuhan tidak sayang kepada Nabi Muhammad? Atau memang ada hikmah tersendiri, yang Allah siapkan untuk kekasih-Nya? Atau justru sebab Allah cinta kepada kekasihnya, maka Allah memberinya kehidupan sebagai seorang yang yatim?
KETIDAKBOLEHAN BERPRASANGKA BURUK
Sebelum itu kita harus mengetahui, bahwasanya setiap sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada maksud dan tujuan yang Allah tetapkan untuk kita. Terkadang sesuatu yang kita pikir adalah yang terbaik, padahal itu adalah sesuatu yang buruk untuk kita. Begitu pun sebaliknya. Karena hanya Allah yang mengetahui terhadap segala sesuatu. Maka renungilah firman Allah berikut:
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini menunjukkan, bahwasanya kita sebagai manusia mempunyai banyak sekali kekurangan, dan sering berprasangka buruk kepada makhluk lainnya, bahkan kepada Sang Khaliq. Terkadang kita terlalu cepat menyimpulkan, sebelum mengetahu kebenarannya. Karena kita melihat sisi luar saja, bukan sisi dalam dari seorang manusia.
Berbeda dengan Sang Pencipta, karena sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kita, harta kita, baju kita (sisi luar). Akan tetapi sesungguhnya Allah melihat hati hamba-Nya, dan bukan yang lain. Maka renungilah salah satu perkataan Nabi Muhammad ini:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.”(HR. Imam Muslim)
Maka sepatutnya kita terus menerus berprasangka baik kepada semua orang, terutama kepada tuhan kita. Karena kita tidak tahu apa yang baik untuk kita dan yang buruk untuk kita. Yang mengetahui semua itu, tidak lain dan tidak bukan hanya Allah semata.
HIKMAH KETIADAANSOSOK AYAH RASULULLAH
Apa hikmah atau maksud yang Allah tentukan, sampai-sampai seorang kekasihnya menjadi anak yang yatim dari sebelum dilahirkan? Jawabannya, hikmah ilahi yang Allah telah tentukan kepada kekasihnya tersebut ialah terbagi menjadi dua posisi:
Pertama,kemurnian ajaran yang dibawa Nabi Muhammad kepada umatnya. Salah satu alasan mengapa Rasulullah dilahirkan yatim, dikarenakan Allah ingin menutup celah bagi para orang bodoh yang mengatakan bahwa agama atau ajaran yang dibawa Nabi Muhammad adalah ajaran yang diajarkan oleh ayahnya, Abdulah bin Abdul Muththalib.
Karena pasti orang-orang yang ingin menghancurkan Islam dari dalam (orientalis), apabila Nabi Muhammad memiliki sosok ayah didalam dakwahnya, maka mereka akan membuat statemen bahwa yang dibawa oleh Nabi Muhammad hanyalah ajaran yang diajarkan oleh ayahnya dan bukan dari Allah. Maka dari itu Allah Yang Maha Tahu dari segala hal menutup celah tersebut, dengan menjadikan kekasih-Nya anak yang dilahirkan di dalam keadaan yatim.
Kedua,pembentukan mental dan sosial Nabi Muhammad. Dengan tidak adanya sosok bapak di kehidupan Rasulullah saat masih kecil, Allah mengajarkan kepada kekasih-Nya tersebut untuk menyandarkan segala sesatu hanya kepada Allah dan tidak kepada makhluk-Nya.
SPESIAL ANAK YATIM DI MATA NABI MUHAMMAD
Adapun anak yatim di mata Nabi Muhammad sangat amat spesial, dikarenakan beliau memahami dan merasakan hal yang sama dengan anak tersebut. Salah satu hal paling spesial, anak yatim di mata Rasulullh sangat jelas didalam perkataannya:
عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى ، وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Aku dan orang yang menanggung (menyantuni) anak yatim, (kedudukannya) di surga seperti ini.” (Beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah, serta agak merenggangkan keduanya). (HR. Imam Bukhari)
Dan masih banyak lagi hadits yang mengatakan keutamaan anak yatim di mata Nabi Muhammad, di antaranya:
خَيْرُ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ، وَشَرُّ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ
“Sebaik-baik rumah di kalangan kaum muslimin, adalah rumah yang terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan sejelek-jelek rumah di kalangan kaum muslimin, adalah rumah yang terdapat anak yatim dan dia diperlakukan dengan buruk.”(HR. Ibnu Majah)
وَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ لَا يُعَذِّبُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ رَحِمَ الْيَتِيمَ، وَلَانَ لَهُ فِي الْكَلَامِ، وَرَحِمَ يُتْمَهُ وَضَعْفَهُ
“Demi Dzat yang mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut bicaranya kepadanya, serta menyayangi keyatiman dan kelemahannya.” (HR. Imam Thabrani)
Wallahu A’lam Bish-Shawab…



















