Arang menyala merah membara,

menjadi saksi canda yang menghangatkan suasana.

Jagung dan tempe berjajar menanti giliran,

mengirimkan harum yang mengundang kenangan.

Hadi dan Jokowi berdiri paling depan,

menghadapi bara dengan penuh kesabaran.

Kipas bergerak, asap menari ke angkasa,

sementara bara menyala menjaga rasa.

Di sisi lain, Naseh dan Hasan meracik bumbu,

memadukan saus, kecap, dan harapan dalam satu temu.

Tangan mereka bekerja tanpa banyak suara,

namun dari sanalah lahir cita rasa yang istimewa.

Juan, Athfan, dan Luthfi tak kalah berjasa,

mengupas dan menusuk jagung-tempe dengan penuh asa.

Satu demi satu tersusun rapi di atas nampan,

menanti giliran menuju hangatnya panggangan.

Malam itu tawa pecah berkali-kali,

mengusir kantuk yang mencoba menghampiri.

Hingga sebuah peristiwa menjadi bahan cerita panjang,

saat Hadi mendadak tertimpa tiang lampu penerangan.

Bukan luka yang menjadi kenangan utama,

melainkan gelak tawa yang segera memenuhi suasana.

Sebab dalam kebersamaan yang sederhana,

bahkan kejadian kecil pun berubah menjadi cerita berharga.

Waktu terus melangkah tanpa terasa,

hingga jarum jam mendekati setengah dua belas malam adanya.

Jagung telah matang, tempe pun telah tersaji,

menyisakan rasa syukur dalam hati yang berseri.

Tak ada meja mewah, tak ada jamuan istana,

hanya arang, tawa, dan persaudaraan yang nyata.

Namun justru dari pelataran belakang pondok itulah,

lahir kenangan yang abadi di bawah langit Allah.

Karena terkadang kebahagiaan bukan tentang kemegahan,

melainkan tentang orang-orang yang duduk bersama dalam kesederhanaan.

Dan di antara jagung dan tempe yang terbakar perlahan,

tim media Al-Ghanna menemukan makna kebersamaan yang takkan terlupakan.