Seringkali kami tersenyum getir ketika duduk di berbagai majelis atau kopitiam, mendengar celoteh para bapak-ibu yang sedang dilanda kegelisahan.

“pak, saya bingung. Anak saya pengen banget mondok, tapi kalau di pesantren salaf kan nggak ada ijazah formalnya. Nanti lulus mau jadi apa? Susah cari kerja lho di zaman sekarang.”

Kalimat ini hampir selalu keluar dari mulut para wali santri. Kita hidup di era di mana masyarakat terlanjur dicuci otak oleh sistem kapitalisme yang mengukur kesuksesan manusia semata-mata dari seragam apa yang ia pakai, gedung tinggi mana yang ia masuki setiap pagi, dan berapa angka di slip gajinya. Paradigma “sekolah tinggi-tinggi supaya dapat kerja di kantoran” telah mereduksi makna pendidikan menjadi sekadar pabrik pencetak buruh.

Namun, sebagai seorang penuntut ilmu yang mengikuti jejak para ulama salaf, hendaknya wali santri untuk sejenak menepi, menarik napas, dan membaca ulang “kontrak” kita dengan Allah SWT.

Pesantren Bukan Pabrik, Melainkan “Toko Kelontong”

Banyak yang salah kaprah menyangka pesantren salaf itu seperti pabrik yang harus mencetak lulusan dengan satu bentuk profesi yang pasti. Padahal, sebagaimana dawuh Mas Dwi Nawawi Sadoellah, Sekjen Pondok Pesantren Sidogiri, “Pondok itu ibarat toko kelontong yang menyediakan berbagai bahan perlengkapan, tergantung orang yang datang mau belanja membawa apa dan membuat apa.”

Pesantren menyediakan “bahan baku” berupa ilmu agama, akhlak, dan kemandirian. Santrilah yang kelak akan “memasak” bahan tersebut menjadi apa pun yang bermanfaat bagi umat. Lagipula, stigma “tidak punya ijazah” kini sudah tidak relevan. Banyak pesantren salaf saat ini, termasuk Pondok Pesantren Al-Ghanna, sudah menjalankan program muaddalah (kesetaraan). Lulus dari pesantren, santri bisa langsung melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan ke universitas umum. Jadi, alasan “putus sekolah” sudah tidak bisa dipakai.

Lupa pada Sang Pemberi Rezeki

Inti dari kekhawatiran wali santri sebenarnya bermuara pada satu hal: rasa takut akan hilangnya jaminan rezeki. Padahal, kita sering lupa kepada siapa kita meminta.

Allah SWT secara khusus memberikan “klaim garansi” bagi orang-orang yang melangkahkan kaki untuk menuntut ilmu agama-Nya. Coba kita resapi janji-Nya dalam Al-Qur’an Surat At-Talaq ayat 2-3:

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan menganugerahkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Di pesantren salaf, fokus utama penataan diri santri adalah membangun ketakwaan. Jika wali santri yakin bahwa ketakwaan adalah kunci utama datangnya rezeki, mengapa masih ragu mengirim anak ke tempat di mana ketakwaan itu diajarkan setiap detiknya?

Rasulullah SAW bahkan memberikan jaminan yang lebih spesifik. Dalam hadis riwayat Al-Hakim dan Al-Khatib Al-Baghdadi, dari Zaid bin Aslam, Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang mendalami ilmu agama Allah, maka Allah akan mencukupi segala keluh kesahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia duga-duga.”

Hadis ini sejatinya adalah penawar langsung atas rasa cemas para orang tua. Allah sendiri yang menjamin kecukupan hidup bagi orang yang bersungguh-sungguh mempelajari agama-Nya.

Keberkahan yang Mengalir ke Seluruh Keluarga

Ada satu kisah yang sangat menyentuh hati dari masa Rasulullah SAW, yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (No. 2345). Dari Anas bin Malik RA, beliau bercerita tentang dua orang bersaudara. Salah satunya rajin mendatangi majelis Nabi untuk menuntut ilmu, sementara yang lainnya sibuk bekerja mencari nafkah.

Saking sibuknya, saudaranya yang bekerja ini sampai mengadukan kondisi ekonomi mereka kepada Nabi, seolah merasa terbebani oleh saudaranya yang “hanya” mengaji. Lalu apa jawab Nabi SAW?

“لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ” Boleh jadi kamu diberi rezeki (oleh Allah) justru karena keberadaan saudaramu itu (yang menuntut ilmu).”

Masya Allah. Para wali santri, dengarlah baik-baik. Menuntut ilmu agama bukan hanya membawa keberkahan bagi santri itu sendiri, tetapi juga menjadi perantara mengalirnya rezeki bagi ayah, ibu, dan seluruh keluarganya. Roti yang Anda makan, pakaian yang Anda pakai, mungkin saja ada andil doa dan ilmu dari anak Anda yang sedang bersimpuh di hadapan para kyai di pesantren.

Mendefinisikan Ulang “Kerja” dan “Kesuksesan”

Kekhawatiran “susah cari kerja” muncul karena kita membatasi definisi “kerja” hanya sebagai “menjadi karyawan”. Pengakuan dan kedudukan seseorang di masyarakat tidak selalu diukur dari ijazah formal semata, melainkan dari kemuliaan akhlak, pemahaman agama, dan manfaatnya bagi sesama.

Allah berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:

“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Lihatlah realitas sosial saat ini. Dunia kerja dan kewirausahaan modern justru sedang krisis orang-orang yang memiliki soft skills. Anak yang mengecap pendidikan di pesantren salaf dibentuk menjadi pribadi yang mandiri, tahan banting (survive), memiliki kedisiplinan tinggi, serta moral yang teruji. Mereka terbiasa bangun tengah malam, antre mandi dengan air seadanya, dan hidup berdampingan dengan ratusan karakter berbeda.

Mental baja inilah yang justru sangat dicari di dunia kewirausahaan. Tidak heran jika banyak alumni pesantren salaf yang sukses menjadi pengusaha, pendidik, dai, hingga tokoh masyarakat yang mandiri secara ekonomi. Mereka tidak “mencari kerja”, karena mereka menciptakan lapangan kerja dan memberkahi lingkungan sekitarnya.

Tawakkal di Tengah Zaman yang Materialistis

Para ulama salaf, termasuk Imam kita, Imam Syafi’i RA, telah lama mengingatkan bahwa rezeki itu sudah diatur dan tidak akan tertukar. Tugas manusia hanyalah berikhtiar dan bertawakal.

Imam Syafi’i RA menegaskan dalam syairnya yang sangat menenangkan hati:

“Rezeki itu tidak akan berkurang karena lambatnya ikhtiar, dan tidak akan bertambah karena cepatnya mencari.”

Jika rezeki sudah dijamin oleh Allah, lalu apa yang kita takutkan? Kekhawatiran berlebih justru seringkali menjadi penghalang datangnya ketenangan hati.

Catatan Penutup untuk Para Wali

Mengirim anak ke pesantren salaf bukanlah bentuk “mematikan masa depan” mereka, melainkan bentuk investasi akhirat sekaligus penataan karakter duniawi yang paling kokoh. Rezeki Allah itu luas, samudra, dan tidak terbatas hanya pada jalur pekerjaan formal atau menjadi pegawai berdasi.

Berikanlah anak-anak Anda bekal yang tidak akan usang dimakan zaman: ilmu agama dan kedekatan pada Allah. Biarkan mereka tumbuh dengan mentalitas pantang menyerah dan keberkahan ilmu. Percayalah, ketika Anda ridha melepaskan anak Anda untuk mengabdi pada agama-Nya, Allah akan mengurus dunia Anda dan dunia mereka dengan cara yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.