MENELADANI KESABARAN RASULULLAH

Sabar adalah sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri, yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya. Semakin tinggi tingkat kesabaran yang dimiliki seseorang, maka semakin kokoh juga ia dalam menghadapi segala macam masalah yang terjadi dalam kehidupan. Sabar juga sering dikaitkan dengan tingkah laku positif yang ditonjolkan oleh individu atau seseorang.

Dalam sebuah pernyataan pendek, dikatakan bahwa sabar itu seperti namanya: ialah sesuatu yang pahit dirasakan, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu. Dan Allah juga menyuruh para hamba-Nya untuk harus senantiasa bersabar didalam segala hal. Allah berfirman dalam al-Quran, yang karena itulah karakter sabar sangat penting dimiliki setiap muslim:

يٰبُنَيَّ اَقِمِ الصَّلٰوةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوْفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلٰى مَآ اَصَابَكَۗ اِنَّ ذٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْاُمُوْرِ

“(Luqman berkata pada putranya) ‘Wahai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf, serta cegahlah (mereka) dari yang munkar, juga bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang penting.’”(QS. Luqman: 17)

KARAKTER SABAR RASULULLAH

Sifat sabar dapat kita lihat dari tingkah laku Nabi Muhammad, sebab ia merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Kesabaran dan ketabahannya dalam menghadapi berbagai cobaan dan rintangan, merupakan contoh cemerlang dari seorang pria dengan daya tahan yang luar biasa. Sabar dalam menahan setiap cacian dan kejahatan yang dialami tidak akan bisa ada menandinginya.

Dari sejak awal hidupnya Rasulullah sudah mendapatkan cobaan, yaitu lahir dalam keadaan yatim dikarenakan ayah tercintanya meninggal beberapa bulan sebelum ia dilahirkan. Ibunya juga meninggal ketika ia baru berusia enam tahun. Kemudian ia dibesarkan oleh kakeknya yang juga menjadi wali angkatnya, yaitu Abdul Muththalib. Sayangnya, setelah dua tahun dibesarkan kakeknya, Abdul Muththalib meninggal pada umurnya yang kedelapan. Akhirnya Nabi pun diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Abu Thalib dikenal sebagai orang yang dermawan, walaupun hidupnya fakir atau tidak mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Hanya dengan keadaan tersebut, Nabi Muhammad dapat berkembang dan tumbuh bersama pamannya. Ia pun hidup dan dibesarkan oleh pamannya Abu Thalib, yang juga menjadi pelindungnya dari ancaman kaum Quraisy.

Betapa banyak dan tak terhitung cacian yang dilontarkan kaum Quraisy kepada Rasulullah. Bahkan ia dijuluki oleh mereka sebagai tukang sihir, juga pernah dilempari kotoran ketika ia sedang shlat, pernah sempat menjadi target pembunuhan oleh kaum Quraisy. Bahkan sering mengintimidasi atau mencaci makinya justru adalah para pamannya sendiri, seperti Abu Lahab dan Abu Jahal.

KISAH BADUI & KESABARAN RASULULLAH

Dan hal tersebut Rasulullah menanggapinya dengan rasa sabar yang sangat tinggi. Kesabaran Rasulullah pernah diceritakan oleh Shabahat Anas bin Malik, ketika ia bertemu seorang Badui Arab:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَدْرَكَهُ أَعْرَابِيٌّ فَجَبَذَهُ بِرِدَائِهِ جَبْذَةً شَدِيدَةً حَتَّى أَثَّرَتْ حَاشِيَةُ الرِّدَاءِ فِي عُنُقِهِ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، احْمِلْ لِي عَلَى بَعِيرَيَّ هَذَيْنِ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي عِنْدَكَ، فَإِنَّكَ لَا تَحْمِلُ لِي مِنْ مَالِكَ وَلَا مِنْ مَالِ أَبِيكَ!

فَسَكَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: الْمَالُ مَالُ اللَّهِ وَأَنَا عَبْدُهُ، ثُمَّ قَالَ: وَيُقَادُ مِنْكَ يَا أَعْرَابِيُّ مَا فَعَلْتَ بِي؟

قَالَ: لَا. قَالَ: لِمَ؟ قَالَ: لِأَنَّكَ لَا تُكَافِئُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ

فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ أَمَرَ أَنْ يُحْمَلَ لَهُ عَلَى بَعِيرٍ شَعِيرٌ وَعَلَى الْآخَرِ تَمْرٌ

Dari Shahabat Anas, ia berkata: Aku pernah bersama Nabi Muhammad ﷺ, lalu seorang Badui menyusulnya dan menarik jubahnya dengan tarikan yang sangat keras, hingga pinggiran jubah itu membekas di lehernya. Orang Badui itu lalu berkata: “Wahai Muhammad, muatlah (harta) ke atas kedua untaku ini dari harta Allah yang ada padamu, karena sejatinya engkau tidak memberiku dari hartamu sendiri dan bukan pula dari harta ayahmu!”

Nabi ﷺ sempat terdiam sejenak, lalu bersabda: “Harta ini adalah harta Allah dan aku adalah hamba-Nya.”

Kemudian ia bertanya: “Apakah atas perbuatanmu kepadaku ini engkau siap di Qishash (dibalas), wahai Badui?”

Orang Badui itu menjawab: “Tidak.”

Nabi bertanya: “Mengapa?”

Ia menjawab: “Karena engkau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan.”

Maka Nabi ﷺ pun tertawa (tersenyum lebar), kemudian ia memerintahkan agar unta yang satu dimuati gandum dan unta yang satunya lagi dimuati kurma. (HR. Imam Abu Daud)

SABAR RASULULLAH & PENDUDUK THAIF

Bahkan ketika Nabi Muhammad hijrah ke kota Thaif, ia tidak disambut baik oleh penduduk kota tersebut. Di sana ia dicaci-maki dan diintimidasi oleh penduduk kota, namun apakah Nabi marah karena hal tersebut? Tentu saja tidak, bahkan sebaliknya. Dijelaskan dalam satu hadis:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّهَا قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟

قَالَ: لَقَدْ لَقِيتُ مِنْ قَوْمِكِ مَا لَقِيتُ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ، فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ، فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلَّا وَأَنَا بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكِ لَكَ، وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيهِمْ

فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ فَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ: ذَلِكَ فِيمَا شِئْتَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمِ الْأَخْشَبَيْنِ؟

فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئً”

Dari Sayidah Aisyah, istri Nabi ﷺ, bahwa ia pernah bertanya kepada Nabi Muhammad ﷺ: “Apakah engkau pernah mengalami hari yang lebih berat daripada hari Perang Uhud?”

Nabi Muhammad ﷺ menjawab: Aku telah mengalami banyak hal dari kaummu (kaum Quraisy), dan yang paling berat yang aku rasakan dari mereka adalah pada hari Aqabah (di Thaif). Ketika itu aku menawarkan diriku (berdakwah) kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, namun ia tidak menerima apa yang kuinginkan. Aku pun pergi dalam keadaan sedih dan bingung, hingga berjalan tanpa arah. Aku baru sadar ketika sampai di Qarnuts-Tsa’alib (Qarnul Manazil).

Aku mengangkat kepalaku, dan tiba-tiba ada awan yang menaungiku. Aku melihat ke atas, ternyata di dalamnya ada Malaikat Jibril. Ia memanggilku dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Allah telah mengutus Malaikat Penjaga Gunung kepadamu, agar engkau memerintahkannya sesukamu untuk menghukum mereka.”

Malaikat Penjaga Gunung lalu memanggilku, mengucapkan salam, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, perintahkanlah sesukamu. Jika engkau mau, aku akan menghimpit mereka dengan dua gunung besar ini (Gunung Abu Qubais dan yang di seberangnya di Makkah).”

Namun Nabi ﷺ menjawab: “Jangan, bahkan aku berharap agar Allah melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.'” (HR. Imam Bukhari & Imam Muslim).

Itulah bukti betapa tingginya sifat sabar yang dimiliki Rasulullah. Dan karena itu sepatutnya bagi setiap muslim untuk selalu meneladani sifat sabar yang dimiliki oleh Rasulullah.

Wallahu A’lambish-Shawab.