HIDUP KOBOKAN SAMPAH

Berpijar senyumku bertebar kembang.
Usai sapa bejanaduri bertabur paku.
Perih daging disiram minyak, merontak,
namun tetap tertawa.

Tanganku lemas menggapai bangkai.
Yang mati rasa, gemar menikam orang bisu.
Meski tau jiwanya menguap, dipanggang,
tetap saja kutanya kabarnya.

Gigiku abu dihempas kabut.
Badai mendorong, menginjak, mencekik.
Kaki-kaki topan yang tak berpikir, menjebak,
tapi tetap kutawarkan makan.

Terus berulang abstraksi novel kobokan sampah.
Depan cermin, pantulan itu menyeringai.
Berbisik.
Kapan kiranya aku benar-benar hidup.

—Deren

.

Baca juga puisi kami yang berjudul MATA BUSUK dan artikel-artikel kami untuk memahami fenomena perkembangan budaya digital lainnya.