Beliau adalah salah satu diantara guru agung dari Imam al-Bukhari. Di suatu hari, Imam Muhammad bin Salam sedang serius mengikuti pengajian, sambil menulis keterangan kitab yang dibacakan oleh guru beliau dalam sebuah majelis ilmu.

Tanpa sengaja, pena yang digunakan Imam Muhammad patah dan tidak mungkin bisa dipakai lagi. Beliau menyuruh seseorang agar mengumumkan kepada orang-orang yang hadir di majelis itu jika ia sedang sangat membutuhkan pena untuk menulis.

Kepada orang yang hendak mengumumkan tadi, Imam Muhammad berpesan: “Katakan pada siapa saja yang mau memberikan penanya, aku akan menggantinya dengan uang satu dinar untuk harga satu buah pena.”

Tak lama kemudian, pena yang diinginkan beliau sudah ada di genggaman. Imam Muhammad berucap “hamadalah”, memberikan uang, lalu kembali melanjutkan menulis ilmu yang dijelaskan oleh gurunya. Sampai disini, cerita di atas mungkin terlihat biasa saja bagi kita, tapi sejatinya ada hal menarik yang bisa kita ambil hikmahnya.

Dapatkah kita membayangkan, mungkinkah dikatakan normal jika uang satu dinar untuk harga satu buah pulpen? Jika di krus (konversi) ke mata uang rupiah, hasilnya malah jadi sangat fantastis. Satu dinar 24 karat biasanya memiliki kandungan 4,25 gram emas. Kalau dijumlahkan (kalkulasi) ke mata uang rupiah, nilainya bisa mencapai 2.075.437 rupiah per satu dinar emas. Wow, satu pulpen seharga 2 juta?

Padahal yang di dapat Imam Muhammad hanya pulpen biasa yang sederhana dan tidak terlalu istimewa. Hanya bisa dibuat untuk menulis saja. Tapi Anda jangan melihat fisik pulpennya. Namun lihatlah, betapa Imam Muhammad menghargai nilai waktu dan ilmu agama setinggi langit. Beliau tidak ingin secuil ilmu pun terlewatkan dari catatan tangannya.

Dari cerita di atas kita dapat berkaca, bagaimana seorang ulama besar mengagungkan ilmu agama sedemikian tinggi, bahkan tidak peduli walaupun harus memberikan banyak uang. Harta bisa saja dicari, tapi ilmu Allah tidak demikian. Bagi Imam Muhammad, lalai sedikit saja dari pengajian ilmu sudah seperti kehilangan seluruh makna hidup. Wallâhu A’lam