KEJADIAN PEMBELAHAN DADA NABI MUHAMMAD ﷺ
Kisah pembelahan dada Nabi Muhammad adalah salah satu dari beberapa kisah yang sangat populer, juga banyak pertentangan dari kaum orientalis yang berniat mengguncang keislaman orang-orang Islam, terutama bagi yang masih awam.
Aslinya kejadian pembelahan dada Nabi Muhammad terjadi selama 4 kali, sebagaimana yang tertera didalam kitab Sayid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani, berjudul Tarikhul-Hawadits wal-Ahwal An-Nabawiyyah:
شق صدره الشريف و هذا الشق قد حصل له ﷺ أول مرة وهو صغير السن عند حليمة, وأما المرة الثانية فقد شق صدره الشريف ﷺ وهو ابن عشر سنين, وأما المرة الثالثة فقد سق صدره الشريف عند مجيء جبريل بالوحي حين نبء, وأما المرة الرابعة فهي ليلة الإسراء كما ورد في الصحيحين.
Pertama, terjadi ketika Nabi Muhammad masih kecil dan berada di rumah Sayidah Halimah. Ini adalah kisah yang paling sering dibicarakan dan diceritakan. Kedua, terjadi ketika Rasulullah berumur 10 tahun, sebagaimana yang tertera pada hadits Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim. Ketiga, terjadi ketika Nabi Muhammad pertama kali didatangi Malaikat Jibril saat akan diberi wahyu. Keempat, terjadi ketika malam Isra’ Mi’raj, sebagaimana tertera didalam Shahihain, yaitu kitab Shahihul-Bukhari dan Shahihul-Muslim. (halaman: 12-13, bab من علامة النبوة)
Akan tetapi kejadian pembelahan dada Nabi Muhammad ketika Isra’, para ulama masih berikhtilaf didalamnya, bahkan ada yang mengatakan kejadian ketika Isra itu tidak pernah ada.
Kisah pembelahan dada Nabi Muhammad yang paling masyhur, ialah ketika Nabi Muhammad sedang dalam asuhan Sayidah Halimah, berada ddi perkampungan Bani Sa’ad. Adapun ketika kejadian tersebut, Nabi Muhammad sedang bermain bersama kedua temannya.[1]
Sebagaimana tertera didalam kitab Fiqhus-Sirah, didalamnya ada hadits yang diriwayatkan oleh Sayidina Anas bin Malik:
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أتاه جبريل وهو يلعب مع الغلمان، فأخذه فصرعه، فشق عن قلبه، فاستخرجه، فاستخرج منه علقة، فقال: هذا حظ الشيطان منك، ثم غسله في طست من ذهب بماء زمزم، ، ثم أعاده إلى مكانه، وجاء الغلمان يسعون إلى أمه – مرضعته -ينادون: إن محمدا قد قتل، فاستقبلوه وهو منتقع اللون
“Rasulullah pernah didatangi oleh Malaikat Jibril, ketika sedang bermain bersama anak-anak yang lain. Lalu Jibril mengambil beliau dan merebahkan tubuhnya, kemudian membelah dada dan (menyingkap) hatinya. Lalu Jibril mengeluarkan bagian hati beliau, dan memisahkan segumpal darah darinya seraya berkata: ‘Inilah bagian setan yang ada di dalam dirimu.’”
HIKMAH & RAHASIA KEJADIAN PEMBELAHAN DADA
Kemudian Jibril membasuh hati Rasulullah didalam sebuah bejana emas dengan menggunakan air Zamzam, ia lalu mengembalikannya ke tempat semula. Seketika itu juga, anak-anak yang lain berlari menemui ibu mereka—yakni ibu susuan Rasulullah—seraya berteriak: “Muhammad telah dibunuh!”
Maka mereka pun bergegas mendatanginya (Muhammad), dan mereka dapati beliau dalam keadaan pucat pasi wajahnya.
Menurut Imam as-Subki, “segumpal darah ” yang diambil dari hati Nabi Muhammad ﷺ adalah simbol dari potensi untuk menerima bisikan setan. Allah mencabut hal negatif itu dari Rasulullah, agar tidak ada ruang sedikit pun bagi setan. Dengan demikian, hati Nabi Muhammad ﷺ menjadi murni, steril, dan hanya dipenuhi cahaya ilahi.
Syekh Ibnu Abi Jamrah menjelaskan, bahwa pembelahan dada tersebut meningkatkan keyakinan eksistensial. Nabi ﷺ melihat langsung dadanya dibelah, hatinya dibersihkan, namun beliau tetap tenang tanpa rasa takut. Sejak itu, keberanian Nabi ﷺ berada pada level tertinggi, sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an:
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى
“Penglihatannya (Nabi) tidak menyimpang dan tidak melampaui batas.”(QS. An-Najm: 17)
Al-Allamah Ibnul Munir menegaskan, bahwa peristiwa tersebut adalah bentuk ujian sekaligus pengokohan mental. Jika Nabi Ibrahim diuji dengan penyembelihan putranya, maka Nabi Muhammad ﷺ diuji dengan pembelahan dada. Bedanya, ujian Nabi Ibrahim masih berupa isyarat (ma’aridh), sedangkan peristiwa Nabi Muhammad ﷺ adalah fisik nyata. Dan hal ini menunjukkan betapa besar derajat kesabaran beliau.
Wallahu A’lam Bish-shawab…
[1] Ulama berikhtilaf apakah Nabi Muhammad ketika kejadian tersebut berumur 5 atau 4 tahun? Akan tetapi menurut Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, bahwa Nabi ketika tersebut adalah anak berusia 4 tahun. Akan tetapi ada pula ulama yang berpendapat bahwa Nabi ketika itu berumur 5 tahun.
