
PUISI: TUAN ATAU TUHAN?
Denting jam berbisik, mengitari kamarnya yang sempit
Lantunan adzan mengetuk setiap pintu rumah
Lelap masih menenggelamkannya
Hitam. Gelap.
Hanyut di dalam lelahnya
Gawainya berdering,
Pekak gendangnya sebab bising
Ia tersadar dari mimpinya
Tangannya meraih layar, jarinya menekan acak
Bising itu hilang, dan dia kembali karam
Berselang sekian menit, dering itu bertamu kembali
Diangkatnya benda itu
Matanya yang sayu berusaha membaca
Atasan menghubunginya di pagi buta
“Datang lebih awal,
Nanti dikasih tambahan”
Tersentak, ia langsung berdiri
Sekejap, matanya yang suntuk,
Terang bak pijar lampu taman
Sekilas di kamar mandi
“Jangan sampai telat” yang dipikirkannya
Sejenak tuk ibadah pun dilangkahinya
Berdesakkan dengan orang asing,
Dalam gerbong panjang penuh kesibukkan
Tiba di kantor,
Tuan memujinya
Namun Tuhan mengujinya
Saat mentari persis di atas tengkuk
Handphone-nya bergetar tanda pesan masuk
“Ibu” nama pengirimnya
Dan “Bos” ada di atasnya
“Tenang, Bu. Pasti ditransfer” ucap hatinya.
Lampu jalan bergilir dinyalakan,
dan lalu lintas masih ramai
Dirinya terhuyung penat di atas ranjang
Tugas hari ini selesai,
Dengan kewajiban yang masih tertinggal
Ding! Layar gawainya menyala
“Ibu” menitipkan kembali pesannya
Peluh membasahinya, ia merespon “oke”
Tanpa membuka isinya
Tubuh itu pun menyerah, tertidur dengan lelap
Hari ini memang berlalu
Namun lingkaran setan tetap berotasi
Esok, lusa, semuanya masih sama
Energinya digerus, keringatnya diperas
Kalbunya mulai merasakan adanya kehampaan
Sampai tiba satu waktu
Langit dikerumuni bintang, dan ia baru kembali pulang
Badannya dihempaskan ke pulau kapuk
Pikirannya panas, dadanya sesak
Dinding kamarnya menjepit, hanya menyisakan ruang bagi amarah
Sisa jiwanya dipaksa meraih gawai yang tak bergeming
Jemarinya spontan membuka pesan
Puluhan sampai ratusan, berdebu tak terjamah
Ia ketik “Ibu” dalam pencarian,
Rindu dan keluhan ingin dipuntahkan
Berselancar ia ke atas, melompati banyak bukti transferan
Menembus batas abai yang selama ini ia pelihara
Di sana, baris kalimat yang sama selalu berulang
“Nak, gimana kabarnya? Sudah makan? Jangan lupa sholat, ya?”
Dirinya membatu dalam sunyi yang menghunus
Baru tersadar ia,
Sepuluh panggilan tiap hari selalu ia lewatkan
Lima panggilan dari Tuhan yang dilewatinya demi mengejar dunia,
Dan lima panggilan dari Ibu yang diabaikannya demi memburu target utama.
Tangisnya meledak saat itu
Membasahi pipi dan mengguyur penyesalannya
Gemetar ketikannya menuntun satu kalimat yang dikirimkan
“Ibu… Terimakasih, ya.”
Esoknya, alarm fajar kembali berteriak pekak
Atasannya memanggil tak sadar waktu
Namun kali ini ia tidak menyambar kemeja putih itu
Berbalik arah, bergegas menuju pancuran wudhu.
Sebab sejak malam itu,
Sujudnya tidak pernah lagi absen,
Dan Tuan tak lagi bisa merebutnya dari Tuhan.
—Deren




















