
Sebagaimana kita sering dengar bahwasanya setiap bulan Muharram ada puasa yang dinamakan sebagai puasa Tasu’a (9 Muharram) serta Asyura’ (10 Muharram). Akan tetapi apakah kalian mengetahui sejarah yang membuat di bulan Muharram ini disunahkan berpuasa? Berkenaan dengan hal itu, mari kita bahas.
Sebelum memulai pembahasan ini, alangkah baiknya kita akan menjelaskan kenapa disunahkan berpuasa pada bulan Muharram dan apa keutamaannya? Yakni melalui hadis Nabi Muhammad:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan ialah puasa di bulan Muharram.” (HR. Imam Muslim)
Yang mana puasa pada bulan Muharram saja sudah dikatakan seperti itu oleh Rasulullah, lantas bagaimana dengan puasa terkhusus di bulan Muharram (puasa Tasu’a dan Asyura’)? Dan inilah adalah dalil mengapa disunahkan puasa Asyura’:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟» قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Ketika Nabi Muhammad tiba di kota Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah pun bertanya: “Puasa hari apakah itu?”
Mereka menjawab: “Hari ini adalah hari paling baik. Pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka (Firaun), maka Nabi Musa berpuasa pada hari itu.”
Nabi Muhammad bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Nabi Musa daripada kalian.” (HR. Imam Bukhari)
Maka beliaupun bepuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk berpuasa di hari tersebut.
Sementara untuk dalil ataupun hadis yang menunjukkan disunahkan puasa Tasu’a adalah hadis Nabi Muhammad:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
“Apabila aku hidup hingga tahun berikutnya, maka sungguh aku akan berpuasa.” (HR. Imam Muslim)
Akan tetapi sayang, sebelum mengerjakan hal tersebut, Nabi Muhammad telah dipanggil oleh Allah.
Meskipun waktu pelaksanaan kedua puasa ini sangat berdekatan, tetapi pada sejarah pensyariatan keduanya ada jeda waktu yang lumayan lama, sekitar 8 tahun kurang lebih. Yang mana diturunkannya perintah puasa Asyura’ pada tanggal 10 Muharram tahun 2 hijriah, sedangkan puasa Tasu’a pada tanggal 9 Muharram tahun 10 Hijriah.
FADHILAH PUASA TASU’A & ASYURA’
Diantara keutamaan atau fadhilah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram ialah sebagai berikut:
Pertama, jika Anda melaksanakan puasa tanggal 10 Muharram, maka dosa Anda selama satu tahun sebelumnya akan dihapus. Sesuai hadis Nabi Muhammad:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Kedua, ialah firman Allah yang berbunyi:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُم
Beserta hadis Nabi Muhammad yang berbunyi:
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
Kedua dalil tersebut menyebutkan, bahwasanya bulan di mana tempat berasalnya kedua puasa Tasu’a dan Asyura’—yakni bulan Muharram—adalah salah satu dari empat bulan yang Allah tetapkan menjadi bulan suci (asyhurul-hurum). Maka sudah sepatutnya bagi kita, yang mana Allah memberi diri kita sehat wal-‘afiyah, untuk melaksanakan kedua puasa tersebut.
Wallahu a’lam bish-shawab…




















