
Bagian 3: Ketika Hati Menentukan Nilai Segala Sesuatu
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah berkata:
“Hati yang kosong dari kecintaan kepada Allah akan dipenuhi oleh kecintaan kepada dunia.”
Ketika dunia menjadi pusat kecintaan seseorang, maka segala sesuatu akan diukur berdasarkan hawa nafsunya.
Apa yang sesuai dengan keinginannya dianggap baik.
Apa yang bertentangan dengan keinginannya dianggap buruk.
Apa yang menguntungkannya dianggap benar.
Apa yang membebaninya dianggap salah.
Padahal ukuran kebenaran tidak pernah berubah hanya karena perasaan manusia berubah.
Karena itu Allah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini seakan mengajarkan satu pelajaran yang sering dilupakan manusia:
Tidak semua yang terasa nyaman akan membawa kebaikan.
Tidak semua yang terasa berat akan membawa pada keburukan.
Ada ilmu yang berat dipelajari, tetapi mengangkat derajat seseorang.
Ada nasihat yang pahit didengar, tetapi menyelamatkan kehidupannya.
Ada kewajiban yang melelahkan dijalani, tetapi mendatangkan ketenangan yang tidak mampu dibeli di dunia.
Maka sebelum menyalahkan keadaan, sebelum menyalahkan orang lain, sebelum menyalahkan aturan, ada baiknya seseorang bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah masalahnya benar-benar ada pada apa yang sedang kuhadapi, atau jangan-jangan ada sesuatu dalam hatiku yang perlu diperbaiki terlebih dahulu?”
Sebab sering kali perubahan terbesar dalam hidup tidak dimulai ketika dunia di sekitar berubah.
Ia dimulai ketika hati kita belajar melihat dengan cara yang berbeda.
Mungkin itulah sebabnya orang-orang saleh lebih sibuk memperhatikan keadaan hati mereka daripada sibuk mengeluhkan keadaan di sekitar mereka.
Mereka tidak terlalu khawatir terhadap gelapnya keadaan, karena mereka tahu bahwa kegelapan yang paling berbahaya bukanlah yang ada di luar, melainkan yang tumbuh perlahan di dalam dada.
Sebab manusia yang kehilangan cahaya hati dapat tersesat meskipun berada di tengah petunjuk.
Sebaliknya, manusia yang hatinya dipenuhi cahaya akan tetap menemukan jalan meskipun sedang berada di tengah kesulitan.
Pada akhirnya, kehidupan ini bukan hanya perjalanan kaki menuju suatu tempat, melainkan perjalanan hati menuju sebuah keadaan.
Ada hati yang semakin dekat kepada ketenangan meski ujian datang silih berganti.
Ada pula hati yang semakin gelisah meski seluruh keinginannya terpenuhi.
Karena ketenangan tidak selalu lahir dari banyaknya yang kita miliki.
Ketenangan lahir dari kemampuan hati menerima, memahami, dan bersandar kepada Allah dalam setiap keadaan.
Maka jangan terlalu cepat menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di permukaan.
Bisa jadi yang terlihat berat menyimpan rahmat yang besar.
Bisa jadi yang terlihat indah menyimpan ujian yang tidak kecil.
Dan bisa jadi, yang selama ini kita anggap masalah sebenarnya hanyalah cermin yang sedang memperlihatkan keadaan hati kita sendiri.





